Buka konten ini

BATAM (BP) – Proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan penyimpanan energi berskala besar tengah disiapkan di Kepulauan Riau (Kepri). Di balik proyek ini, perusahaan patungan, Vanda RE yang mayoritas sahamnya dimiliki Gurn Energy, membidik percepatan transisi energi sekaligus menarik investasi asing ke Indonesia.
PT Vanda Energy Indonesia mengembangkan proyek Vanda Solar & Battery, yakni fasilitas tenaga surya berkapasitas 2.000 megawatt (MW) yang dilengkapi sistem penyimpanan energi baterai sebesar 4.400 megawatt hour (MWh). Proyek ini menjadi bagian dari inisiatif Koridor Ekonomi Hijau Indonesia–Singapura.
“Pemerintah kedua negara pada Maret 2026 kembali menegaskan komitmen kerja sama energi bersih.
Kawasan Batam, Bintan, dan Karimun diproyeksikan menjadi pusat industri hijau dan teknologi tinggi berbasis energi terbarukan,” ujar Direktur PT Vanda Energy Indonesia, Enda Ginting, Jumat (17/4).
Indonesia juga mendorong ekspor listrik tenaga surya sebagai bagian dari program pengembangan energi bersih sebesar 100 gigawatt (GW).
Dalam keterangan resminya, manajemen Vanda menilai ketergantungan global terhadap bahan bakar fosil membuat perekonomian rentan terhadap gejolak eksternal. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, misalnya, menjadi pengingat pentingnya kemandirian energi.
“Untuk mencapai keamanan nasional yang sesungguhnya, kita memerlukan kemandirian energi. Karena itu, transisi energi menjadi kebutuhan mendesak,” ujarnya.
Proyek ini diproyeksikan menjadi magnet investasi besar. Koridor ekonomi hijau Indonesia–Singapura disebut berpotensi menarik investasi asing langsung hingga 50 miliar dolar AS.
Selain itu, proyek ini diharapkan menciptakan lapangan kerja serta mendorong pertumbuhan industri hijau domestik.
Dalam pengembangannya, Vanda menggandeng sejumlah perusahaan global. Trinasolar dan LONGi Green Energy Technology Co Ltd akan memasok lebih dari 2 gigawatt panel surya. Sementara Black & Veatch ditunjuk sebagai konsultan teknik utama.
Untuk sistem penyimpanan energi, Vanda bekerja sama dengan Contemporary Amperex Technology Co., Limited (CATL), yang akan memasok hingga 2,2 GWh baterai.
Menariknya, baterai tersebut akan diproduksi di fasilitas CATL di Jawa Barat guna memenuhi ketentuan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).
Proyek ini juga telah mengantongi lisensi bersyarat dari Energy Market Authority sejak September 2024, yang menjadi pijakan penting untuk rencana ekspor listrik ke Singapura.
Di tingkat lokal, proyek ini mulai menyentuh wilayah Kabupaten Karimun, khususnya Pulau Sugi. Pada Januari 2026, PT Vanda Energy Indonesia menandatangani nota kesepahaman dengan pemerintah daerah setempat yang mencakup kerja sama infrastruktur, perizinan, ketenagakerjaan, serta penyediaan energi bersih.
Enda Ginting menegaskan proyek ini dirancang memberi dampak berlapis bagi masyarakat.
“Proyek ini membawa efek domino bagi masyarakat luas—baik dari sisi mata pencaharian, infrastruktur bersama, maupun fasilitas publik di Karimun dan Kepulauan Riau,” ujarnya.
Vanda juga menekankan komitmen untuk melibatkan perusahaan dan pemasok lokal, serta memastikan proyek berjalan selaras dengan prinsip keberlanjutan lingkungan.
Proyek Vanda Solar & Battery mencerminkan arah baru pembangunan energi di Indonesia, yakni beralih dari ketergantungan pada energi fosil menuju energi bersih berbasis investasi dan teknologi global.
Namun, keberhasilan proyek ini tetap bergantung pada sejumlah faktor, mulai dari kepastian regulasi hingga percepatan perizinan ekspor listrik.
Jika terealisasi sesuai rencana, Kepulauan Riau tidak hanya menjadi lokasi proyek energi, tetapi juga berpotensi menjadi simpul penting dalam peta industri hijau regional. (*)
Reporter : AZIS MAULANA
Editor : RATNA IRTATIK