Buka konten ini
Di balik rasa manis yang kerap menggoda, Diabetes justru menyimpan ancaman serius bagi kesehatan tubuh. Penyakit ini tidak hanya memengaruhi kadar gula darah, tetapi juga berisiko memicu berbagai komplikasi berbahaya. Karena itu, pola hidup sehat menjadi kunci utama untuk mencegah dan mengendalikan dampaknya sejak dini.

PERINGATAN Hari Diabetes Nasional 2026 menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit yang jumlah penderitanya terus meningkat. Dalam siaran langsung Instagram halloawalbros pada Kamis (16/4), Dokter Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit Awal Bros Batam, dr. Vahry Yudanda, Sp.PD, mengingatkan bahwa diabetes kini tidak lagi identik dengan usia lanjut.
“Sekarang trennya justru bergeser ke usia produktif. Penyebab utamanya adalah gaya hidup, seperti konsumsi makanan dan minuman manis serta kurangnya aktivitas fisik,” ujar dr. Vahry.
Ia menjelaskan, masih banyak masyarakat yang menganggap diabetes lebih disebabkan faktor keturunan. Padahal, peran genetik relatif kecil.
“Faktor genetik hanya sekitar 10–15 persen. Sisanya didominasi gaya hidup,” jelasnya.
Menurutnya, kebiasaan mengonsumsi gula berlebih tidak serta-merta langsung menyebabkan diabetes, melainkan melalui proses yang panjang. Kalori yang terus menumpuk dapat memicu obesitas, kemudian berkembang menjadi resistensi insulin, hingga akhirnya berujung pada diabetes.
“Ini penyakit kronis yang progresif. Jadi bukan langsung makan manis lalu diabetes, tetapi ada tahapan yang sering tidak disadari,” katanya.
Risiko ini bahkan sudah mulai terlihat pada anak-anak dan remaja. Kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman manis, seperti minuman sachet atau soda, sering kali tidak diimbangi dengan aktivitas fisik. Ditambah lagi, gaya hidup yang semakin pasif—lebih banyak duduk dan scrolling—membuat kalori mudah menumpuk dalam tubuh.
Kondisi tersebut pada akhirnya memicu obesitas, yang kemudian berlanjut menjadi resistensi insulin. Dari sinilah risiko diabetes meningkat.
Karena itu, penting dipahami bahwa diabetes tidak terjadi secara instan setelah mengonsumsi makanan manis. Penyakit ini berkembang melalui proses panjang, dan kini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia produktif.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit Awal Bros Batam
Foto: Humas RS Awal Bros Batam
Indonesia Masuk Top 5 Dunia
Lebih lanjut, dr. Vahry mengungkapkan bahwa Indonesia termasuk dalam lima besar negara dengan jumlah penderita diabetes terbanyak di dunia. Kondisi ini diperkirakan masih akan bertahan hingga 2045, sehingga menjadi perhatian serius bagi tenaga kesehatan.
“Indonesia saat ini berada di posisi top 5 dunia, dan diprediksi masih akan bertahan hingga 2045. Ini menjadi perhatian serius bagi tenaga kesehatan,” ujarnya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya edukasi dan deteksi dini, terutama pada fase prediabetes. Tahap ini kerap menjadi tanda awal ketika seseorang mulai mengalami obesitas dan berbagai perubahan kondisi tubuh lainnya.
“Prediabetes adalah kondisi kadar gula darah sudah tidak normal, tetapi belum masuk kategori diabetes. Ini fase penting untuk intervensi agar tidak berkembang menjadi diabetes,” jelasnya.
Di sisi lain, gejala diabetes sering kali diabaikan. Penyakit ini bahkan dikenal sebagai silent killer karena tanda-tandanya kerap tidak disadari sejak awal. Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain mudah lelah, sering haus, sering buang air kecil, serta penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
“Banyak pasien menganggap gejala itu hal biasa. Padahal itu bisa menjadi tanda awal diabetes,” kata dr. Vahry.
Selain itu, luka yang sulit sembuh dan rasa lemas berkepanjangan juga patut diwaspadai. Jika tidak dikontrol dengan baik, diabetes dapat menjadi pintu masuk berbagai penyakit serius.
“Diabetes ini ibarat gerbang menuju penyakit lain, seperti stroke, jantung, gangguan ginjal hingga kerusakan saraf,” tegasnya.
Oleh karena itu, pemeriksaan rutin sangat dianjurkan, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko seperti obesitas, hipertensi, kolesterol tinggi, maupun riwayat diabetes dalam keluarga. Deteksi dini menjadi langkah penting agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan komplikasi bisa dicegah.

Bisa Remisi, Bukan Sembuh
Meski tidak dapat disembuhkan sepenuhnya, diabetes tetap bisa dikendalikan, bahkan mencapai kondisi remisi.
“Remisi artinya kadar gula darah kembali normal tanpa obat selama minimal tiga bulan. Ini bisa terjadi jika terdeteksi lebih awal dan pasien disiplin menjalani terapi,” jelas dr. Vahry.
Namun, kondisi tersebut tidak mudah dicapai oleh semua pasien, terutama jika diabetes sudah berlangsung lama dan tidak terkontrol.
Di sisi lain, risiko komplikasi sebenarnya dapat ditekan apabila diabetes ditangani dengan baik. Penanganan yang tepat, disertai pemeriksaan rutin ke dokter spesialis, menjadi kunci agar kondisi tidak berkembang lebih parah.
Pola Hidup Seimbang Jadi Kunci
Dalam kesempatan itu, dr. Vahry menegaskan pentingnya menjaga pola hidup seimbang, bukan sekadar menghindari gula.
“Kita tidak melarang konsumsi manis sepenuhnya, tetapi harus dibatasi. Yang penting adalah keseimbangan antara asupan dan aktivitas fisik,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat memperhatikan waktu makan. Konsumsi makanan tinggi kalori di malam hari dinilai berisiko lebih besar terhadap peningkatan gula darah.
Selain itu, olahraga rutin menjadi faktor penting dalam pencegahan dan pengendalian diabetes.
“Olahraga aerobik minimal 150 menit per minggu dan latihan kekuatan 2–3 kali seminggu sangat membantu meningkatkan sensitivitas insulin,” jelasnya.
Kenali Risiko Sejak Dini
Diabetes dapat menyerang siapa saja, termasuk usia muda. Oleh karena itu, masyarakat diminta lebih peka terhadap kondisi tubuh masing-masing.
“Setiap orang punya faktor risiko berbeda. Jangan membandingkan diri dengan orang lain. Yang penting adalah mengenali kondisi diri sendiri dan melakukan pemeriksaan secara berkala,” pungkas dr. Vahry. Jangan langsung tidur setelah makan malam karena berdampak pada gula darah dan kesehatan pencernaan. dr. Vahry menjelaskan, kebiasaan makan lalu langsung berbaring membuat tubuh tetap bekerja memproduksi hormon, termasuk insulin, di malam hari. “Kalau habis makan langsung tidur, itu tidak baik. Gula darah bisa terganggu, lambung juga bermasalah,” ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi lambung yang masih penuh saat tubuh berbaring meningkatkan risiko refluks atau naiknya asam lambung ke kerongkongan. Jika berlangsung terus-menerus, hal ini dapat menimbulkan gangguan pencernaan. “Jadi bukan hanya gula darah, tapi pencernaan juga bisa kena dampaknya. Banyak mudaratnya kalau jadi kebiasaan,” kata dr. Vahry.
Meski demikian, makan malam tetap diperbolehkan dengan catatan memperhatikan waktu dan jenis makanan. Ia menyarankan makan malam dengan kalori rendah dan memberi jeda sekitar dua hingga tiga jam sebelum tidur. “Kalau misalnya tidur jam 10 malam, usahakan makan terakhir sekitar jam 7 malam. Itu lebih aman,” jelasnya.
Terkait faktor keturunan, dr. Vahry menegaskan bahwa diabetes tipe 2 memang memiliki risiko diturunkan dalam keluarga. “Kalau kedua orang tua diabetes, risiko anaknya bisa lebih dari 50 persen. Kalau salah satu, tetap ada risiko, tapi lebih rendah,” ujarnya.
Namun, faktor genetik bukan satu-satunya penentu. Gaya hidup tetap menjadi faktor dominan. “Genetik mungkin sekitar 10–15 persen. Sisanya sangat dipengaruhi gaya hidup,” tambahnya.
Ia menjelaskan, diabetes secara umum terbagi menjadi beberapa jenis, yakni tipe 1, tipe 2, diabetes gestasional, dan tipe lain. Diabetes tipe 1 biasanya terjadi sejak usia anak akibat pankreas tidak mampu memproduksi insulin. “Kalau tipe 1 itu dari kecil, memang insulinnya tidak cukup, jadi harus dari luar seumur hidup,” katanya.
Sementara itu, diabetes tipe 2 yang paling banyak ditemukan, mencapai sekitar 90 persen kasus, umumnya terjadi pada orang dewasa, meski kini mulai bergeser ke usia lebih muda. “Sekarang sudah banyak usia muda yang kena, karena pola hidup,” ujar dr. Vahry.
Untuk mencegah atau mendeteksi dini, ia menekankan pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala, terutama bagi yang memiliki faktor risiko. “Periksa dulu, tahu baseline kita di mana. Kalau normal, dipertahankan gaya hidup sehatnya. Kalau ada risiko, harus lebih rutin kontrol,” jelasnya.
Komplikasi diabetes yang tidak terkontrol juga sangat serius dan bisa menyerang berbagai organ tubuh. “Bisa ke otak jadi stroke, ke jantung, ginjal, mata, sampai luka yang sulit sembuh,” ungkapnya.
Ia mencontohkan, banyak pasien baru mengetahui diabetes saat sudah mengalami komplikasi berat. “Ada yang datang sudah gagal ginjal, ada yang serangan jantung, ternyata gula darahnya sangat tinggi dan tidak pernah dikontrol,” katanya.
Dalam penanganan luka diabetes, kontrol gula darah menjadi kunci utama. Selain itu, perawatan luka dan penanganan infeksi juga harus dilakukan secara menyeluruh. “Tidak cukup hanya rawat luka, gula darahnya juga harus terkontrol. Kalau tidak, penyembuhan sulit,” jelas dr. Vahry.
Ia juga menyebut salah satu terapi tambahan, yaitu terapi oksigen hiperbarik, yang dapat membantu mempercepat penyembuhan luka. Terapi ini menggunakan oksigen murni bertekanan tinggi untuk membantu jaringan yang kekurangan suplai oksigen. “Ini membantu, tapi bukan yang utama. Tetap yang paling penting kontrol gula darah,” tegasnya.
Selain faktor fisik, kondisi psikologis seperti stres juga berpengaruh terhadap diabetes. “Stres itu memicu hormon kortisol yang bisa meningkatkan gula darah. Jadi hubungan psikologis dan fisik sangat kuat,” ujarnya.
Pemeriksaan gula darah secara rutin juga sangat penting, baik untuk deteksi dini maupun pemantauan pasien diabetes. “Kalau punya faktor risiko, jangan tunda periksa. Minimal tahu dulu kondisi kita,” katanya.
Untuk pola makan, dr. Vahry menyarankan pembagian porsi seimbang dalam satu piring. “Seperempat karbohidrat, seperempat protein, setengahnya sayur. Itu yang paling sederhana,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa penderita diabetes tidak harus menghindari makanan enak sepenuhnya, termasuk makanan manis, selama dalam batas wajar. “Boleh saja makan manis, tapi dibatasi. Yang penting tahu porsinya,” ujarnya.
Olahraga juga menjadi pilar penting dalam pengendalian diabetes. Aktivitas fisik seperti latihan aerobik dan latihan kekuatan terbukti membantu menurunkan kadar gula darah.
“Bahkan ada yang sampai bisa remisi, tidak perlu obat lagi, karena gaya hidupnya berubah,” kata dr. Vahry.
Namun, ia menegaskan bahwa diabetes umumnya tidak disembuhkan, melainkan dikendalikan. Pada kondisi tertentu, pasien bisa mencapai remisi jika gula darah stabil dalam waktu lama. “Kalau tiga bulan berturut-turut normal, itu bisa disebut remisi,” jelasnya.
Untuk konsumsi buah, ia menyarankan memilih buah dengan indeks glikemik rendah seperti alpukat, apel, dan plum. Namun, buah lain tetap boleh dikonsumsi selama tidak berlebihan. “Jangan salahkan buahnya. Semua boleh, tapi dibatasi,” ujarnya.
Kita perlu lebih sadar bahwa kebiasaan seperti sering nongkrong hingga larut malam, disertai konsumsi minuman dan makanan manis, dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk diabetes.
Pola hidup seperti ini sebaiknya mulai diimbangi dengan aktivitas yang lebih sehat, misalnya berolahraga atau melakukan kegiatan produktif lainnya.
Kunci utamanya adalah menjaga keseimbangan. Jangan hanya makan, lalu kurang bergerak, kemudian kembali makan tanpa diimbangi aktivitas fisik. Gaya hidup pasif seperti itu berisiko memicu penumpukan kalori dan berbagai masalah kesehatan.
Sebagai langkah pencegahan sejak dini, terutama bagi generasi muda, dr. Vahry mengingatkan pentingnya melawan pola hidup tidak sehat.
Khusus bagi generasi muda, penting untuk lebih peduli terhadap kesehatan sejak dini. Mulailah memahami pola hidup sehat, termasuk melakukan pemantauan kondisi tubuh secara rutin. Investasi terbaik bukan hanya soal materi, tetapi juga menjaga kesehatan diri, salah satunya dengan meningkatkan pengetahuan tentang diabetes dan cara pencegahannya.
Selain itu, penting untuk mengetahui kapan harus melakukan skrining dan lebih peka terhadap kondisi tubuh, terutama jika memiliki riwayat keluarga dengan diabetes.
Kesadaran untuk melakukan pemeriksaan sejak awal menjadi langkah penting agar risiko dapat dideteksi dan ditangani lebih cepat. “Kurangi nongkrong dengan makanan dan minuman manis, perbanyak aktivitas fisik. Itu investasi kesehatan kita,” katanya. (***)
Reporter : ANDRIANI SUSILAWATI
Editor : GALIH ASI SAPUTRO