Buka konten ini

2. Warga berkabung atas wafatnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel, di sebuah lapangan di Teheran, Minggu (1/3).
3. Sebuah proyektil Iran meninggalkan jejak di langit, terlihat dari Kota Hebron di Tepi Barat yang diduduki Israel, Minggu (1/3) dini hari.
BATAM (BP) – Perang terbuka antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran akhirnya meletus, Sabtu (28/2) dan menandai eskalasi paling serius di Timur Tengah dalam beberapa dekade terakhir. Serangan gabungan militer AS dan Israel ke Teheran, Ibu Kota Iran, dibalas ratusan rudal Iran yang menghantam Israel serta sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Teluk.
Situasi kian memanas setelah otoritas Iran mengumumkan gugurnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, Minggu (1/3).
Pada Sabtu siang, pengumuman bernada darurat disampaikan media Daily Iran News melalui platform X sekitar pukul 13.00 waktu setempat. “IT IS WAR. WAR HAS BEGUN! (INI PERANG. PERANG TELAH DIMULAI!)” tulis media tersebut dalam huruf kapital.
Ledakan dilaporkan terjadi di berbagai titik di Teheran, termasuk di Bandara Mehrabad. Sekitar 30 lokasi disebut menjadi target serangan. Lima di antaranya merupakan gedung intelijen Iran, Kementerian Pertahanan, kantor Pemimpin Tertinggi, kantor energi atom, serta kompleks militer Parchin.
Sejumlah video yang beredar memperlihatkan asap membumbung tinggi dari bangunan yang dibombardir. Militer Iran menyebut serangan udara dilakukan dari beberapa pangkalan militer AS di Timur Tengah, selain melalui pesawat tempur yang menjatuhkan bom langsung di wilayah udara Iran. Sejumlah jet tempur Iran dilaporkan berupaya mencegat rudal-rudal tersebut.
Presiden AS, Donald Trump membenarkan operasi militer besar-besaran terhadap Iran. Ia berdalih serangan dilakukan untuk membela diri dan menganggap rezim Ayatollah Ali Khamenei selama 47 tahun terakhir mengancam eksistensi Amerika Serikat.
Trump bahkan mengklaim serangan tersebut bertujuan membantu rakyat Iran membebaskan diri dari rezim yang berkuasa sejak Revolusi 1979. Ia mendesak militer Iran menyerah dan menjanjikan “kekebalan penuh” bagi yang meletakkan senjata.
“Kepada anggota Garda Revolusi Islam, angkatan bersenjata, dan seluruh polisi Iran, Anda harus meletakkan senjata atau menghadapi konsekuensi berat,” tegasnya.
Pernyataan serupa disampaikan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Ia menyebut operasi gabungan tersebut sebagai langkah menghilangkan ancaman eksistensial dari rezim Iran dan menyerukan rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintahan mereka.
Tak lama berselang, sirene serangan udara meraung di Tel Aviv. Otoritas Israel meminta warga segera berlindung setelah terdeteksi ratusan rudal diluncurkan dari Iran.
Komando Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mendeklarasikan perang terhadap AS dan Israel. Gelombang pertama rudal dan drone disebut menyasar wilayah Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Teluk.
Laporan media internasional menyebut pangkalan militer AS di Bahrain menjadi salah satu target. Serangan juga diarahkan ke Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, Al Salem di Kuwait, serta Al Dhafra di Uni Emirat Arab.
Kementerian Pertahanan Qatar mengonfirmasi adanya ledakan di Doha. Sejumlah rudal dilaporkan berhasil dicegat sebelum mencapai sasaran.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menegaskan Iran tidak berniat menyerang negara tetangga, melainkan hanya menargetkan fasilitas militer AS.
Demonstrasi Besar di Iran
Di tengah eskalasi militer, gelombang demonstrasi pecah di berbagai kota di Iran pada Minggu (1/3) menyusul pengumuman wafatnya Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan tersebut.
Dilansir Kantor Berita Antara, ratusan warga turun ke jalan di Teheran, Qom, dan Mashhad. Di Lapangan Inkilab, Teheran, massa mengibarkan bendera Iran serta poster Khamenei sambil meneriakkan slogan yang mengecam AS dan Israel.
Di kota suci Qom, warga berkumpul di makam Hazrat Masume untuk mengecam serangan. Sementara di Mashhad, bendera hitam dibentangkan di atas kubah Makam Imam Reza sebagai simbol duka.
Media pemerintah Iran menyatakan Khamenei “mencapai kemartiran” saat berada di kantornya di Teheran ketika serangan terjadi. Pemerintah menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari dan meliburkan aktivitas resmi selama tujuh hari.
Bulan Sabit Merah Iran melaporkan 201 orang tewas dan 747 lainnya luka-luka akibat rangkaian serangan tersebut. Beberapa anggota keluarga Khamenei juga disebut menjadi korban.
Majelis Ahli Iran dijadwalkan bersidang untuk memulai proses pemilihan pemimpin tertinggi baru sesuai Pasal 111 Konstitusi Iran.
Indonesia Diminta Prioritaskan Keselamatan WNI
Pakar Hubungan Internasional Universitas Andalas, Virtuous Setyaka, mengingatkan pemerintah Indonesia agar segera memprioritaskan keselamatan Warga Negara Indonesia (WNI) di Timur Tengah.
Ia menilai konflik ini berpotensi meluas menjadi perang regional yang melibatkan lebih banyak negara.
Kedutaan Besar Republik Indonesia di Riyadh telah mengimbau WNI di Arab Saudi untuk tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, dan memantau informasi resmi. WNI juga diminta melapor melalui laman Peduli WNI Kementerian Luar Negeri. (*)
LAPORAN : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK