Buka konten ini

Perempuan-perempuan pesisir Kepulauan Anambas kini tampil sebagai garda depan penjaga laut. Melalui penguatan pengetahuan konservasi dan keterampilan berkelanjutan, mereka mulai mengambil peran strategis dalam menjaga ekosistem pesisir sekaligus meningkatkan kemandirian ekonomi keluarga.
SELAMA ini, perempuan pesisir dikenal sebagai tulang punggung keluarga yang menjaga keberlangsungan hidup di garis pantai. Namun, dedikasi tanpa batas tersebut kerap membuat mereka kehilangan ruang untuk merawat diri dan mengembangkan kapasitas.
Akses terhadap pendidikan tinggi maupun pelatihan keterampilan masih menjadi kemewahan yang sulit dijangkau. Padahal, sejak kecil perempuan pesisir telah akrab dengan laut, hasil laut, cuaca pesisir, serta ekosistem yang mengelilinginya.
Yayasan Anambas (Anambas Foundation), organisasi yang bergerak di bidang konservasi laut, hutan, dan pemberdayaan masyarakat, mengamati bahwa keterlibatan perempuan dalam upaya pelestarian lingkungan masih tergolong minim. Kondisi ini berdampak pada kecilnya pengaruh perempuan dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.
Berangkat dari temuan tersebut, Yayasan Anambas memfasilitasi program edukasi konservasi laut bagi perempuan pesisir melalui Women in Marine Conservation. Program ini bertujuan menjembatani kesenjangan pengetahuan konservasi laut dengan pendekatan peningkatan keterampilan wirausaha berkelanjutan (sustainable entrepreneurship).
Inisiatif ini didukung oleh PLAN International Indonesia melalui Youth Leadership Academy (YLA) Seed Grant serta East-West Center Small Grant.
Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah pelatihan membatik dan pembuatan ecoprint. Berbeda dari praktik konvensional, seluruh proses menggunakan pewarna alami yang ramah lingkungan.
Pewarna diperoleh secara bijak dari mangrove di sekitar kampung tanpa menebang pohonnya. Kulit batang tua mangrove jenis Nyirih (Xylocarpus granatum) dan Bakau (Rhizophora sp.) direbus untuk menghasilkan warna cokelat alami.
“Saya bersyukur bisa ikut pelatihan ecoprint bersama Yayasan Anambas karena hal ini tidak pernah diajarkan di sekolah,” ujar Lindawati (50), warga Desa Telaga, Kecamatan Siantan Selatan, Kabupaten Kepulauan Anambas.
Pelatihan membatik dan ecoprint sejatinya bukan tujuan utama. Kegiatan ini menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan gaya hidup berkelanjutan serta praktik konservasi laut kepada perempuan pesisir.
Prinsip keberlanjutan juga diterapkan melalui penggunaan kain organik yang mudah terurai di tanah. Kain tersebut merupakan hasil kerja sama dengan Banyan Tree Bintan, memanfaatkan kain linen bekas yang diseleksi secara ketat. Produk batik dan ecoprint kemudian dijahit menjadi barang bernilai jual oleh perempuan di Desa Kiabu.
Desa Telaga dipilih sebagai lokasi program karena sejak 2023 telah menjadi wilayah rehabilitasi terumbu karang serta pemberdayaan pemuda dalam konservasi laut. Tingginya partisipasi perempuan di desa ini mendorong Yayasan Anambas untuk terus mengembangkan materi edukasi konservasi.
Penyampaian dilakukan dengan bahasa sederhana, metode storytelling, serta praktik langsung seperti penanaman bibit mangrove.
“Kami tidak berfokus pada angka. Acuan kami adalah peningkatan peran perempuan dalam konservasi. Perempuan mungkin tidak memancing dan tidak selalu bersentuhan langsung dengan laut, tetapi perannya dalam konservasi harus selalu ada,” ujar Afifa, staf konservasi laut Yayasan Anambas.
Upaya ini sejalan dengan Rencana Aksi Nasional Gender dan Perubahan Iklim (RAN-GPI) yang disusun pemerintah Indonesia. Dokumen strategis ini menegaskan pentingnya kebijakan penanganan perubahan iklim yang responsif gender, sekaligus menempatkan perempuan bukan hanya sebagai korban perubahan iklim, tetapi agen perubahan yang mampu melindungi komunitasnya. (***)
Reporter : ANAMBAS FOUNDATION
Editor : MUHAMMAD NUR