Buka konten ini

Diabetes kini menjadi ancaman bagi semua kelompok usia. Gaya hidup kurang aktif dan kemudahan mendapatkan makanan cepat saji membuat risiko penyakit ini semakin meningkat, termasuk pada usia muda.
MENURUT dr. Ahmad Hazim, Sp.PD, Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Awal Bros Batam, pola hidup masyarakat saat ini jauh berbeda dibandingkan zaman dulu. Aktivitas fisik menurun, sementara makanan manis dan tinggi karbohidrat semakin mudah diakses.

“Sekarang apa-apa tinggal pesan lewat handphone, langsung datang. Restoran cepat saji juga makin banyak, mayoritas rasanya manis. Semua ini memberi pengaruh besar terhadap peningkatan jumlah pasien diabetes,” ujar dr. Ahmad Hazim, Sp.PD, Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Awal Bros Batam dalam live Instagram Halloawalbros bertema Sugar Rush atau Sugar Crash: Kenali Bahaya Gula Berlebih
Ia menambahkan, banyak orang keliru memahami sumber gula. Diabetes bukan hanya terkait konsumsi makanan manis, tetapi segala makanan yang mengandung karbohidrat, seperti nasi, roti, tepung, kue, dan mie.
“Di dalam tubuh, karbohidrat dipecah menjadi glukosa. Inilah bahan bakar utama sel. Jadi, glukosa tidak hanya berasal dari makanan manis,” jelasnya.
dr. Hazim menjelaskan bagaimana cara kerja glukosa dan insulin di dalam tubuh.
Ia menggambarkan metabolisme glukosa dengan sederhana sebagai berikut:
– Makanan masuk ke saluran cerna dan dipecah menjadi glukosa.
– Glukosa masuk ke pembuluh darah.
– Untuk bisa masuk ke dalam sel, glukosa membutuhkan insulin sebagai “pembuka pintu”.
“Insulin itu seperti tentara yang membuka pintu sel. Jika insulinnya kurang, atau pintunya macet, glukosa tidak bisa masuk dan menumpuk di darah,” jelasnya.
Secara medis, diabetes dibagi menjadi tiga tipe utama:

Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Awal Bros Batam
Foto: Humas Rumah Sakit Awal Bros Batam
1. Diabetes Tipe 1
Diabetes Tipe 1 ini biasanya terjadi sejak usia anak. Pankreas tidak dapat memproduksi insulin. Selain itu, pasien harus menggunakan insulin dari luar.
2. Diabetes Tipe 2
Paling sering ditemukan dan disebabkan oleh resistensi insulin (pintu sel yang “macet”). Diabetes tipe 2 ini banyak terjadi pada orang dengan berat badan berlebih dan kurang aktivitas.
Terapi awal biasanya dengan obat dan perubahan gaya hidup.
3. Tipe lainnya
Terkait kondisi atau faktor tertentu, termasuk genetik.
dr. Hazim menekankan pentingnya gaya hidup sehat. Ini karena perubahan gaya hidup berperan besar dalam mengontrol diabetes.
“Pasien yang disiplin bergerak dan menjaga makan, biasanya dosis obatnya makin lama bisa turun. Sebaliknya, kalau pola makannya tidak dijaga, obat yang tadinya satu macam bisa bertambah,” katanya.
Bahaya Gula Darah Tinggi Tak Terkontrol
Gula darah tinggi yang dibiarkan dalam waktu lama dapat merusak pembuluh darah kecil dan besar (mikro dan makroangiopati). Akibatnya:
Syaraf rusak (neuropati), luka sulit sembuh, infeksi mudah terjadi, jaringan bisa mati akibat kurang oksigen dan risiko amputasi meningkat.
Inilah sebabnya mengapa luka pada kaki sering terjadi pada pasien diabetes.
“Bukan karena diabetes hanya menyerang kaki, tetapi karena suplai darah ke ujung kaki paling jauh. Jika pembuluh darah rusak, syaraf rusak, kaki tidak terasa bila terluka. Luka kecil bisa menjadi infeksi berat,” jelas dr. Hazim.
Bisakah Diabetes Sembuh Total
Menurut Dr. Hazim, diabetes bisa dikontrol, tetapi tidak selalu sembuh total. Kategori kontrol diabetes: Terkontrol dengan obat, terkontrol dengan insulin dan terkontrol dengan diet dan gaya hidup.
“Orang dengan riwayat genetik kuat biasanya tetap membutuhkan obat. Tapi banyak juga pasien yang bisa mengontrol gula darah hanya dengan diet dan olahraga,” katanya.
Berikut pemeriksaan yang digunakan untuk diagnosis diabetes.
1. Gula darah puasa
-Normal: < 100 mg/dL
-Prediabetes: 101–125 mg/dL
-Diabetes: ≥ 126 mg/dL
2. Gula darah 2 jam setelah makan
-Normal: < 140 mg/dL
-Prediabetes: 140–199 mg/dL
-Diabetes: ≥ 200 mg/dL
3. HbA1c (rerata gula 3 bulan terakhir)
-Normal: < 5,7%
-Prediabetes: 5,8–6,4%
-Diabetes: ≥ 6,5%
Ketika Gula Darah Sangat Tinggi: Bisa Mengigau hingga Demam
Salah satu penanya menyampaikan bahwa orang tuanya mengalami demam dan mengigau saat gula darah naik.
Menurut dr. Hazim, kondisi tersebut merupakan krisis diabetes, situasi darurat yang harus segera ditangani. “Jika gula darah sangat tinggi, di atas 250 mg/dL, pasien harus waspada. Krisis diabetes bisa menyebabkan dehidrasi berat, gangguan kesadaran, hingga komplikasi serius,” tegasnya.
Meski kadar gula darah sangat tinggi, sel-sel tubuh justru bisa mengalami kondisi seperti kelaparan. Menurut dr. Ahmad Hazim, Sp.PD, hal ini terjadi ketika glukosa tidak bisa masuk ke dalam sel karena gangguan fungsi insulin. Padahal, sel tetap membutuhkan “bahan bakar” untuk bekerja. “Glukosa itu ibarat bensin bagi tubuh. Kalau glukosa tidak bisa masuk ke sel, tubuh tetap butuh sumber energi. Akhirnya tubuh mengakalinya dengan memecah lemak,” jelasnya.
Namun, penggunaan lemak sebagai sumber energi tidak selalu baik. Sisa proses metabolisme lemak ini dapat menghasilkan senyawa keton. Jika jumlahnya tinggi, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi ketoasidosis diabetik, salah satu kegawatdaruratan metabolik yang dapat mengancam nyawa.
“Tandanya bisa mulai dari dehidrasi berat. Kalau gula sangat tinggi, kita harus evaluasi apakah pasien sudah masuk kriteria emergensi diabetes atau tidak,” tegasnya.
Jika belum masuk kategori gawat darurat, pasien dapat ditangani sebagai rawat jalan menggunakan obat atau insulin. Tetapi jika sudah muncul gejala berat (misalnya demam atau mengigau), dr. Hazim menyarankan agar pasien segera dibawa ke IGD.
Sugar Rush dan Sugar Crash
Di awal perbincangan, dr. Hazim menjelaskan mengenai fenomena sugar rush dan sugar crash yang kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Sugar rush ini tubuh menerima kadar glukosa yang sangat tinggi, membuat seseorang tampak lebih aktif. Adapun sugar crash ini kadar gula darah turun terlalu rendah sehingga tubuh menjadi lesu. “Sugar rush biasanya terjadi karena konsumsi gula berlebih.
Sebaliknya, sugar crash bisa terjadi karena kurang asupan, misalnya saat sedang berpuasa,” katanya.
Bagi penyandang diabetes, terutama yang sedang berpuasa di bulan Ramadan, pengaturan dosis obat perlu disesuaikan supaya tidak terjadi penurunan gula darah yang terlalu rendah. Bukan hanya gula, tapi total kalori yang harus dihitung.
Masyarakat sering mengira penderita diabetes “tidak boleh makan manis”. Padahal, kata dr. Hazim, yang lebih penting adalah menghitung total kalori harian.
Penentuan kebutuhan kalori dipengaruhi usia, jenis kelamin, serta tingkat aktivitas harian. Makanan—termasuk nasi, lauk pauk, minuman manis—semuanya memiliki jumlah kalori yang harus diperhitungkan. “Lemak pun bisa diubah menjadi glukosa oleh tubuh. Jadi bukan hanya gula, tapi keseluruhan kalori harus dipantau,” jelasnya.
Kini banyak aplikasi ponsel yang dapat membantu menghitung kebutuhan kalori serta indeks glikemik makanan.
Gula Mempercepat Penuaan
Pasien diabetes memang lebih rentan terlihat lebih tua dan mudah sakit karena sel-sel tubuhnya bekerja lebih keras dan banyak yang rusak akibat gula darah tinggi. “Pasien diabetes kulitnya cenderung lebih kering, dan tubuh kekurangan energi karena sel tidak bisa memanfaatkan glukosa dengan baik,” katanya.
Ada kasus gula darahnya pernah mencapai 600 mg/dL, padahal sebelumnya tidak ada riwayat diabetes.
Menurut dr. Hazim, kemungkinan diabetes sebenarnya sudah ada namun belum terdiagnosis. Kondisi tertentu, seperti infeksi, stres berat, atau cedera, bisa menjadi pemicu munculnya gejala pertama.
“Sebenarnya diabetes sudah terjadi sebelumnya, hanya tidak terdeteksi. Pemicu seperti infeksi bisa membuat insulin tidak mencukupi sehingga gula darah melonjak,” jelasnya.
Pasien Diabetes Usia Lanjut
Bagi pasien berusia di atas 60 tahun, yang terpenting adalah mencapai target kendali gula darah. Jika perubahan pola makan dan olahraga belum cukup, maka obat—termasuk insulin—perlu diberikan untuk mencapai target tersebut. “Kalau dengan obat saja tidak tercapai, berarti tubuh memang membutuhkan insulin tambahan,” tegasnya.
Dr Hazim mengatakan kita perlu mengenali target kendali gula darah yang benar agar terhindar dari komplikasi diabetes.
Banyak orang masih salah memahami target kendali gula darah. Padahal, menurut dr Hazim, Sp.PD, target kendali berbeda dengan kriteria untuk menegakkan diagnosis diabetes.
“Untuk menegakkan diagnosis, kita menggunakan patokan gula darah puasa di atas 126 mg/dL, gula darah dua jam setelah makan di atas 200 mg/dL, atau HbA1c di atas 6,5 persen,” jelas dr. Hazim.
Namun, setelah seseorang dipastikan menderita diabetes, sasaran kadar gula darah yang harus dicapai berubah. Targetnya bukan lagi sekadar berada di bawah batas diagnosis tersebut.
dr. Hazim menganjurkan setiap pasien diabetes memiliki alat cek gula darah mandiri. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan secara rutin.
dr. Hazim juga mengingatkan bahwa gaya hidup modern membuat kita semakin kurang bergerak dan terpapar makanan berkalori tinggi. “Kehidupan semakin mudah, tapi kita jadi lebih sedikit bergerak. Sempatkan olahraga ringan, tidak harus ke gym. Jalan kaki setengah jam sehari sudah sangat membantu,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya mengendalikan porsi makan dan tidak tergoda makanan manis atau berkalori tinggi yang kini mudah diakses. (***)
Reporter : ANDRIANI SUSILAWATI
Editor : GALIH ADI SAPUTRO