Buka konten ini

BATAM KOTA (BP) – Puluhan warga Kaveling Bukit Layang, RT 06/RW 17, Kelurahan Mangsang, Kecamatan Seibeduk, Batam, mendatangi kantor PT Air Batam Hilir (ABH) Cabang Batuaji, Kamis (30/4), untuk mengadukan krisis air bersih yang telah berlangsung selama dua tahun terakhir.
Warga menilai pelayanan distribusi air bersih di wilayah mereka belum merata, terutama bagi rumah yang berada di dataran tinggi. Kondisi tersebut membuat sebagian warga tidak mendapatkan aliran air sama sekali.
Ketua RW 17, Fredi Ambarita, mengungkapkan dari sekitar 240 rumah di kawasan itu, sedikitnya 30 kepala keluarga menjadi pihak paling terdampak. Rumah-rumah di dataran rendah masih memperoleh aliran air meski dengan tekanan kecil, sedangkan rumah di lokasi lebih tinggi tidak kebagian.
“Di bawah masih jalan walaupun tekanannya rendah, tapi sekitar 30 rumah di dataran tinggi ini airnya tidak keluar sama sekali. Padahal warga tetap menerima tagihan setiap bulan,” ujarnya.
Ia menambahkan, warga merasa dirugikan karena tetap harus membayar biaya pemakaian meski air tidak mengalir. Kondisi itu membuat warga seolah hanya membayar tanpa menikmati layanan.
Kekhawatiran juga muncul seiring bertambahnya jumlah hunian baru di kawasan tersebut. Warga menilai, jika persoalan distribusi tidak segera dibenahi, jumlah pelanggan yang terdampak akan semakin banyak dan krisis air bersih kian meluas.
Dalam pertemuan dengan pihak ABH, warga meminta penambahan pasokan air melalui mobil tangki dari sebelumnya empat unit per hari menjadi minimal enam unit per hari. Namun, pihak perusahaan menyatakan belum dapat memenuhi permintaan tersebut karena keterbatasan armada distribusi.
Pertemuan itu pun berakhir tanpa solusi konkret. Hingga kini, puluhan kepala keluarga di Bukit Layang masih bergantung pada pasokan air tangki untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sambil berharap PT Air Batam Hilir segera mengambil langkah nyata agar distribusi air bersih dapat kembali normal. (*)
Reporter : EUSEBIUS SARA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO