Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Siti Badriah kembali jadi sorotan setelah blak-blakan mengungkap pandangannya soal poligami dalam rumah tangga bersama Krisjiana Baharudin. Pelantun “Lagi Syantik” ini mengaku tidak akan melarang sang suami jika suatu hari ingin menikah lagi—namun dengan catatan yang cukup tegas.
Dalam perbincangan di podcast bersama Ivan Gunawan, Siti Badriah atau yang akrab disapa Sibad menjelaskan bahwa sikap tersebut lahir dari kesadaran dan keterbukaan dalam menjalani hubungan.
“Kalau aku dari awal sudah bilang sama Kris, kalau kamu mau selingkuh atau mau punya istri lagi, silakan saja. Aku nggak akan melarang. Itu berarti ada kekurangan dari aku,” ungkapnya.
Menurut Sibad, dalam sebuah pernikahan, tidak semua kebutuhan pasangan bisa terpenuhi sepenuhnya oleh satu orang. Karena itu, ia memilih untuk bersikap realistis sejak awal.
Ia juga menegaskan tidak ingin menjadi penghalang kebahagiaan suaminya jika suatu saat ada hal yang tidak bisa ia penuhi sebagai istri.
“Kalau suatu hari suamiku merasa butuh hal lain yang aku tidak bisa penuhi, aku nggak mau jadi penghalang kebahagiaannya. Hubungan pernikahan itu tidak selalu tentang memiliki secara mutlak,” lanjutnya.
Meski terdengar santai, Sibad menegaskan bahwa sikap tersebut bukan berarti ia tidak peduli dengan pernikahannya. Justru, ia ingin menghindari konflik di masa depan dengan membangun komunikasi yang jujur sejak awal.
“Ini bukan soal aku nggak peduli, tapi aku sadar aku manusia biasa. Aku nggak selalu bisa memenuhi semua keinginan Kris. Jadi, aku pilih terbuka sejak awal daripada menimbulkan masalah di kemudian hari,” jelasnya.
Namun, di balik keterbukaannya, Sibad tetap memiliki batasan yang jelas. Ia menegaskan tidak akan mentoleransi jika benar-benar terjadi perselingkuhan atau poligami tanpa sepengetahuannya.
“Tapi kalau sampai ketahuan sama aku, berarti jangan dekat-dekat aku lagi, jangan dekat-dekat anak-anak,” tegasnya.
Pernyataan ini pun menuai perhatian publik karena menunjukkan sisi lain dari cara pandang Siti Badriah dalam menjalani rumah tangga—terbuka, realistis, tapi tetap punya prinsip yang kuat. (*)
Reporter : JP Group
Editor : GALIH ADI SAPUTRO