Buka konten ini

TEHERAN (BP) – Selat Hormuz kembali menjadi titik panas konflik global. Iran kini mengerahkan pasukan komando laut elit Takavaran di sepanjang pesisir selatannya, menandai eskalasi baru di kawasan Teluk Persia.
Langkah ini diambil tak lama setelah perundingan damai di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan. Situasi tersebut memperkuat kekhawatiran Teheran atas meningkatnya kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan.
Media pemerintah Iran menyebut pengerahan pasukan ini sebagai langkah defensif untuk mengantisipasi potensi infiltrasi maupun pendaratan amfibi. Namun, momentum pengerahan juga dinilai sebagai pesan tegas bagi negara-negara di kawasan Teluk.
Dari gambar yang dirilis, terlihat pasukan berseragam kamuflase disebar di wilayah pesisir yang menghadap langsung ke Teluk Persia dan jalur masuk Teluk Oman. Otoritas Iran tidak mengungkap jumlah personel maupun lokasi detail, sebuah strategi yang dinilai menjaga ambiguitas sekaligus memberi efek psikologis.
Di sisi lain, Iran mengklaim ribuan personel militer AS, termasuk marinir dan pasukan operasi khusus, telah diposisikan ulang di Timur Tengah. Pergerakan ini diyakini berpotensi mendukung operasi militer terhadap target strategis Iran.
Sejumlah analis menyebut Pulau Kharg—terminal ekspor minyak utama Iran—serta fasilitas pesisir di sekitar Selat Hormuz sebagai target potensial. Merespons hal itu, Iran menegaskan kesiapan menghadapi segala kemungkinan. Sistem pertahanan berlapis disiapkan, mulai dari pasukan komando laut, unit pesisir, ranjau laut, hingga pengawasan maritim.
Menariknya, pasukan yang dikerahkan berasal dari Angkatan Laut reguler Iran (Artesh Navy), bukan dari Garda Revolusi Islam (IRGC). Hal ini mengindikasikan pendekatan pertahanan yang lebih konvensional dan terstruktur.
Pasukan Takavaran sendiri merupakan unit elit yang dirancang untuk operasi amfibi, pertahanan pesisir, hingga kontra-infiltrasi. Dalam doktrin militer Iran, mereka berperan sebagai pasukan reaksi cepat di garis depan.
Iran diketahui memiliki tiga brigade utama Takavaran. Brigade Marinir ke-1 Imam Hossein bermarkas di Bandar Abbas, dekat Selat Hormuz. Brigade ke-2 Hazrat Rasul-i-Akram berbasis di Bushehr, sementara Brigade ke-3 Hamza Sayyid-ush-Shuhda ditempatkan di Konarak, mengawasi Teluk Oman.
Ketiga brigade ini membentuk jaringan pertahanan terintegrasi yang memungkinkan respons cepat terhadap berbagai ancaman.
Tekanan Global: Arab Saudi dan Tiongkok Bereaksi
Di tengah meningkatnya ketegangan, Arab Saudi mendesak Amerika Serikat menghentikan blokade Selat Hormuz dan kembali ke meja perundingan.
Blokade yang diumumkan Presiden AS Donald Trump tersebut mulai berlaku pada 13 April, setelah kegagalan perundingan di Islamabad. Langkah ini dinilai berisiko memicu eskalasi lebih luas.
Arab Saudi khawatir Iran akan merespons dengan menutup jalur strategis lain, seperti Bab al-Mandab di Laut Merah, yang juga penting bagi distribusi minyak global.
“Negara-negara Teluk tidak ingin konflik ini berujung pada gangguan jalur energi utama,” demikian laporan yang beredar.
Sementara itu, Tiongkok melontarkan kritik keras terhadap langkah sepihak AS. Beijing menyebut blokade tersebut sebagai tindakan berbahaya dan tidak bertanggung jawab.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Guo Jiakun, menegaskan bahwa hanya melalui gencatan senjata dan dialog, stabilitas kawasan dapat dipulihkan.
“Semua pihak harus kembali ke jalur diplomasi dan menjaga komitmen gencatan senjata,” ujarnya.
Ancaman ke Ekonomi Global
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Setiap gangguan di wilayah ini berpotensi langsung mengguncang pasar energi global.
Meski harga minyak sempat turun di bawah USD 100 per barel, ketidakpastian masih tinggi. Minyak Brent tercatat di kisaran USD 98,44, sementara West Texas Intermediate berada di sekitar USD 96,48 per barel.
Iran sendiri memperingatkan bahwa eskalasi di Selat Hormuz akan berdampak langsung pada masyarakat global, terutama melalui lonjakan harga energi.
Dengan posisi Amerika Serikat yang terus menekan dan Tiongkok yang menyerukan deeskalasi, konflik ini kini berkembang menjadi tarik-menarik kekuatan global—yang dampaknya jauh melampaui kawasan Timur Tengah. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK