Buka konten ini

Bagi pelaku UMKM Batam, rupiah yang melemah menghadirkan dua kenyataan sekaligus: biaya produksi yang kian mahal dan wisatawan asing yang kian royal. Satu menjadi beban, satunya lagi membuka harapan. Di tengah paradoks itulah pelaku usaha kecil bertahan menjaga keuntungan.
KETIKA nilai tukar rupiah melemah, dampaknya mungkin tidak langsung terasa bagi sebagian masyarakat. Namun bagi Batam, kota yang hidup dari aktivitas industri, perdagangan, jasa, dan pariwisata internasional, perubahan kurs mata uang asing hampir selalu berimbas hingga ke tingkat usaha paling kecil.
Dalam beberapa pekan terakhir, rupiah sempat mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat dan mata uang utama dunia lainnya. Pada awal Juni 2026, nilai tukar rupiah bahkan bergerak di kisaran Rp18 ribuan per dolar AS sebelum berangsur menguat kembali pada pertengahan bulan. Meski pergerakannya mulai menunjukkan perbaikan, dampak yang ditinggalkan belum sepenuhnya hilang.
Harga berbagai kebutuhan yang dipengaruhi bahan baku impor mulai mengalami penyesuaian. Dari kemasan makanan, bahan baku produksi, perlengkapan usaha, hingga suku cadang, banyak di antaranya masih bergantung pada pasokan luar negeri yang sensitif terhadap pergerakan kurs.
Bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), kondisi ini menghadirkan persoalan yang tidak sederhana. Kenaikan biaya produksi perlahan menggerus margin keuntungan, sementara ruang untuk menaikkan harga jual semakin terbatas karena daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih. Di tengah situasi tersebut, pelaku usaha dituntut menjaga keseimbangan antara mempertahankan pelanggan dan memastikan usaha tetap menghasilkan keuntungan.
Di sinilah ironi sekaligus keunikan Batam muncul. Ketika rupiah yang melemah menjadi beban bagi sebagian pelaku usaha, kondisi yang sama justru membuat kota ini semakin menarik bagi wisatawan Singapura dan Malaysia. Dengan mata uang yang lebih kuat, mereka datang membawa daya beli yang lebih besar, menghidupkan pusat perbelanjaan, kawasan kuliner, hingga berbagai usaha jasa yang bergantung pada sektor pariwisata.
Data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam menunjukkan, sepanjang Januari hingga April 2026 jumlah kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 486.549 orang.
Angka tersebut setara dengan 77,69 persen dari total kunjungan wisatawan mancanegara ke Kepulauan Riau yang mencapai 626.278 orang. Capaian itu kembali menegaskan posisi Batam sebagai gerbang utama pariwisata internasional di wilayah perbatasan Indonesia.
Di tengah dua arus yang saling bertolak belakang itulah UMKM Batam kini berada. Sebagian menikmati berkah dari meningkatnya kunjungan wisatawan asing, sementara sebagian lainnya masih berjibaku menghadapi lonjakan biaya produksi. Pertanyaannya, apakah peluang yang datang dari sektor pariwisata cukup besar untuk menutupi tekanan yang ditimbulkan oleh pelemahan rupiah? Dan seberapa kuat UMKM Batam mampu bertahan jika gejolak ekonomi global terus berlanjut?
Dilema Menjaga Pelanggan
Bagi banyak pelaku UMKM, gejolak kurs tidak lagi dipahami sebagai isu makroekonomi yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Dampaknya hadir dalam bentuk yang sangat konkret: harga bahan baku yang naik, biaya operasional yang membengkak, dan keuntungan yang semakin tergerus. Situasi itulah yang kini dirasakan Ratih dan Agus, dua pelaku usaha yang mewakili wajah berbeda UMKM Batam.

Ratih, pelaku usaha kuliner di Batam, mengaku pelemahan rupiah mulai terasa dari naiknya harga sejumlah bahan baku dan kemasan yang digunakan dalam kegiatan usahanya. Sebagian kebutuhan tersebut masih bergantung pada pasokan luar negeri sehingga perubahan kurs langsung memengaruhi biaya produksi.
“Sejak rupiah melemah, harga beberapa bahan baku dan kemasan naik. Kenaikannya lumayan dibandingkan sebelumnya. Kondisi ini membuat modal kami ikut meningkat,” ujarnya kepada Batam Pos.
Menurut Ratih, kenaikan biaya produksi membuat pelaku usaha harus menghitung ulang struktur biaya agar usaha tetap berjalan. Pilihan yang tersedia tidak banyak. Menyesuaikan harga jual menjadi langkah yang sulit dihindari jika tidak ingin merugi.
“Mau tak mau harus lakukan penyesuaian harga, karena kalau tidak kami merugi,” katanya.
Namun menaikkan harga juga bukan perkara mudah. Daya beli konsumen yang belum sepenuhnya pulih membuat setiap penyesuaian harga berpotensi memengaruhi jumlah pelanggan. Karena itu, banyak pelaku usaha memilih berhitung lebih cermat sebelum mengambil keputusan.
Meski menghadapi tekanan biaya, Ratih masih melihat adanya peluang dari meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara ke Batam. Ramainya wisatawan, terutama dari Singapura dan Malaysia pada akhir pekan maupun musim liburan, ikut membantu menjaga perputaran usaha.
“Kalau akhir pekan atau musim liburan, wisatawan asing cukup banyak datang. Penjualan memang meningkat, tetapi belum sepenuhnya mampu menutup kenaikan biaya produksi,” ungkapnya.
Kondisi serupa juga dirasakan Agus, pelaku usaha jasa travel. Menurutnya, pelemahan rupiah berdampak pada naiknya harga berbagai perlengkapan kerja, peralatan, dan suku cadang yang sebagian masih berasal dari luar negeri.
“Peralatan kerja dan beberapa perlengkapan mengalami kenaikan harga. Walaupun tidak sebesar sektor kuliner, biaya operasional tetap bertambah sehingga kami harus lebih efisien dalam menjalankan usaha,” jelasnya.
Berbeda dengan sebagian pelaku usaha yang memilih menyesuaikan harga, Agus masih berusaha mempertahankan tarif jasa yang berlaku saat ini. Langkah tersebut diambil untuk menjaga loyalitas pelanggan dan mempertahankan daya saing usaha.
“Kami belum menaikkan tarif jasa. Sebisa mungkin efisiensi dilakukan agar pelanggan tetap menggunakan layanan kami,” ujarnya.
Menurut Agus, meningkatnya jumlah wisatawan asing juga memberikan dampak positif bagi sektor jasa. Meski belum terlalu besar, tambahan pelanggan membantu menjaga arus pendapatan usaha tetap bergerak.
“Kalau wisatawan ramai tentu ada tambahan pelanggan. Dampaknya cukup terasa terhadap omzet, meski belum terlalu signifikan,” katanya.
Pengalaman Ratih dan Agus menggambarkan situasi yang tengah dihadapi banyak UMKM di Batam saat ini. Pelemahan rupiah menghadirkan tekanan melalui kenaikan biaya produksi dan operasional, tetapi pada saat yang sama membuka peluang dari meningkatnya daya tarik Batam bagi wisatawan asing. Di tengah dua kondisi yang saling bertolak belakang itu, kemampuan beradaptasi menjadi kunci bagi UMKM untuk tetap bertahan.

Saat Rupiah Loyo, Turis Membawa Harapan
Jika pelemahan rupiah menjadi tantangan bagi pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor, kondisi yang sama justru menghadirkan peluang bagi sektor ekonomi yang bertumpu pada kunjungan wisatawan mancanegara.
Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah pusat perbelanjaan di Kota Batam terlihat dipadati wisatawan asal Singapura dan Malaysia. Fenomena ini menjadi salah satu keuntungan yang dinikmati Batam sebagai daerah perbatasan ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap mata uang negara tetangga.
Pantauan di kawasan Mega Mall Batam Center menunjukkan aktivitas wisatawan asing meningkat di berbagai titik. Mulai dari pusat kuliner, toko oleh-oleh, hingga gerai ritel dan jasa mengalami peningkatan kunjungan, terutama pada akhir pekan dan musim liburan.
Bagi banyak pelaku UMKM, ramainya wisatawan asing menjadi kabar baik di tengah tekanan biaya usaha yang terus meningkat. Belanja wisatawan membantu menjaga omzet usaha, terutama bagi sektor kuliner, kerajinan, oleh-oleh, transportasi, dan berbagai usaha yang berkaitan langsung dengan aktivitas pariwisata.
Bagi Batam, peningkatan kunjungan wisatawan asing bukan sekadar angka statistik. Arus wisatawan berarti tambahan perputaran uang yang langsung menyentuh pelaku usaha kecil. Setiap wisatawan yang datang tidak hanya menginap di hotel, tetapi juga makan di restoran, membeli oleh-oleh, menggunakan transportasi lokal, hingga berbelanja produk UMKM. Efek berantainya menjangkau lebih banyak sektor dibandingkan aktivitas ekonomi lainnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata, mengatakan tren peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara sudah terlihat sejak awal tahun 2026 dan terus mengalami pertumbuhan.
“Sejak awal tahun, angka kunjungan wisatawan mancanegara terus meningkat setiap bulannya. Dampaknya sangat terlihat di sejumlah pusat perbelanjaan yang ramai dikunjungi wisatawan,” ujarnya.
Menurut Ardi, meningkatnya minat wisatawan untuk berkunjung ke Batam tidak terlepas dari berbagai faktor. Selain jarak yang dekat dengan Singapura dan Malaysia, fasilitas pendukung pariwisata yang semakin baik turut meningkatkan daya tarik kota ini.
“Batam saat ini semakin nyaman untuk dikunjungi. Fasilitas pendukung pariwisata terus berkembang dan kondisi keamanan juga semakin baik,” katanya.
Momentum peningkatan kunjungan paling terasa sepanjang Mei hingga Juni 2026. Pada periode tersebut, sejumlah negara tetangga memasuki masa libur umum sehingga mendorong peningkatan perjalanan wisata ke Batam.
“Untuk Mei hingga Juni memang terlihat cukup signifikan. Di negara tetangga sedang ada periode libur sehingga banyak wisatawan yang memilih Batam sebagai tujuan wisata,” jelasnya.
Kondisi inilah yang menciptakan paradoks ekonomi bagi Batam. Di satu sisi, rupiah yang melemah meningkatkan beban biaya bagi pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor. Namun di sisi lain, kondisi yang sama justru meningkatkan daya beli wisatawan asing yang datang berkunjung.
Bertaruh pada Daya Tahan
Di tengah situasi tersebut, Pemerintah Kota Batam menilai UMKM masih menjadi sektor ekonomi yang paling tangguh menghadapi berbagai gejolak.
Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Batam, Salim Saputra, mengatakan gejolak ekonomi global memang sulit dihindari karena dampaknya dirasakan hampir seluruh negara, termasuk Indonesia dan Batam.
“Kalau bicara kondisi global, itu memang tidak bisa kita hindari. Bukan hanya Batam, tetapi nasional bahkan dunia merasakan dampaknya. Namun UMKM ini sebenarnya usaha yang tahan banting. Kita sudah melihat saat pandemi Covid-19 lalu, banyak perusahaan besar yang terdampak bahkan tutup, sementara UMKM masih bisa bertahan dengan berbagai cara, termasuk berjualan secara online,” ujarnya.
Pengalaman melewati pandemi menjadi salah satu alasan pemerintah tetap optimistis terhadap ketahanan UMKM. Namun optimisme tersebut tidak membuat pemerintah mengabaikan tekanan yang sedang dihadapi pelaku usaha saat ini. Karena itu berbagai program penguatan usaha terus disiapkan, mulai dari peningkatan kapasitas pelaku usaha hingga perluasan akses pasar.
Hingga pertengahan tahun ini, Dinas Koperasi dan Usaha Mikro telah melaksanakan lima angkatan pelatihan yang mencakup perizinan usaha, pengembangan produk kreatif, hingga pemasaran digital.
“Kita sudah melaksanakan lima angkatan pelatihan. Mulai dari perizinan, pengolahan produk, hingga digital marketing. Ini penting agar UMKM bisa mengikuti perkembangan pasar yang semakin berbasis teknologi,” jelasnya.
Pemerintah juga terus membuka akses pasar yang lebih luas bagi pelaku UMKM. Dalam waktu dekat, berbagai produk unggulan Batam akan dipromosikan pada kegiatan Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) di Medan.
Selain itu, sebanyak 12 UMKM binaan kini telah berhasil menembus jaringan ritel modern melalui kerja sama dengan Uniqlo.
“Alhamdulillah sudah ada 12 UMKM kita yang masuk ke retail modern. Produknya ditampilkan di area khusus dan masyarakat bisa langsung melihat informasi hingga melakukan pemesanan melalui barcode yang tersedia,” katanya.
Meski optimistis terhadap ketahanan UMKM, Salim mengakui pelemahan rupiah tetap memberikan tekanan nyata terhadap biaya produksi.
“Kalau harga minyak naik, otomatis hampir semua bahan ikut naik. Dampaknya tentu dirasakan UMKM juga,” ujarnya.
Karena itu, ia mengingatkan pelaku usaha agar tidak mengambil jalan pintas dengan menurunkan kualitas produk demi menekan biaya.
“Jangan sampai karena bahan baku naik lalu kualitas produk dikurangi. Itu berbahaya karena konsumen akan kecewa. Kalau memang harus menyesuaikan, mungkin ukuran atau porsinya yang sedikit dikurangi, tetapi kualitas harus tetap dijaga,” tegasnya.
Menopang UMKM dengan Modal Murah
Selain persoalan biaya produksi, keterbatasan modal juga menjadi tantangan yang banyak dihadapi pelaku usaha kecil ketika kondisi ekonomi sedang bergejolak.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Pemerintah Kota Batam menggandeng PT Bank Riau Kepri Syariah (BRK Syariah) melalui program subsidi margin pembiayaan bagi pelaku UMKM.
Pelaksana Tugas Direktur Utama BRK Syariah, Helwin Yunus, mengatakan hingga April 2026 pembiayaan yang telah disalurkan kepada sektor UMKM di Batam mencapai lebih dari Rp16 miliar.
“Dengan adanya program subsidi margin dari Pemerintah Kota Batam ini tentu akan mengakselerasi pertumbuhan pembiayaan bagi pelaku UMKM. Harapannya, ini memberikan dampak langsung terhadap pergerakan ekonomi daerah,” katanya.
Di sisi lain, Pemko Batam juga memastikan program dana bergulir tanpa bunga tetap berjalan sebagai salah satu instrumen penguatan usaha mikro.
Hingga saat ini, sebanyak 21 UMKM telah menerima manfaat langsung dari program tersebut. Selain itu, hampir 30 pelaku usaha lainnya memperoleh akses pembiayaan melalui perbankan setelah mendapatkan pendampingan dari pemerintah daerah.
“Program ini sangat membantu UMKM dalam mendapatkan akses permodalan. Mereka tidak dikenakan bunga, hanya mengembalikan pokok pinjaman saja,” ujar Salim.
Pemerintah bahkan berencana meningkatkan plafon pinjaman dari Rp30 juta menjadi Rp50 juta pada 2027.
Namun pemerintah menyadari bahwa pembiayaan murah bukan satu-satunya jawaban. Keberhasilan program sangat bergantung pada kemampuan pelaku usaha memanfaatkan modal untuk meningkatkan produktivitas, memperluas pasar, dan memperkuat daya saing.
Karena itu, program pembiayaan terus diiringi pendampingan usaha, penguatan manajemen, legalitas produk, serta digitalisasi pemasaran agar UMKM tidak sekadar bertahan, tetapi juga mampu naik kelas.
Pada akhirnya, pelemahan rupiah menghadirkan dua wajah bagi UMKM Batam. Di satu sisi, biaya produksi terus meningkat dan memangkas keuntungan. Di sisi lain, derasnya arus wisatawan asing membuka peluang baru yang tidak dimiliki banyak daerah lain di Indonesia.
Bagi pelaku usaha, pertaruhannya bukan lagi sekadar bertahan menghadapi kenaikan biaya. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana mengubah tekanan akibat kurs menjadi kesempatan untuk memperluas pasar dan meningkatkan daya saing. Sebab di kota perbatasan seperti Batam, setiap gejolak ekonomi global selalu membawa dua konsekuensi sekaligus: ancaman dan peluang.
Seberapa besar peluang itu dapat dimanfaatkan, akan menentukan apakah UMKM Batam hanya mampu bertahan, atau justru tumbuh lebih kuat di tengah ketidakpastian ekonomi dunia. (***)
Reporter: YASHINTA – RENGGA YULIANDRA – M. SYA’BAN – EUSEBIUS SARA – AZIS MAULANA
Editor : RATNA IRTATIK