Buka konten ini

JUBA (BP) – Pemerintah Sudan Selatan bersama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menegaskan kembali komitmen untuk mengakhiri pengungsian berkepanjangan yang dialami sedikitnya 60 ribu warga hingga akhir 2026.
Komitmen tersebut disampaikan dalam pertemuan kedua Komite Pengarah Solusi Berkelanjutan (Durable Solutions Steering Committee) yang digelar di Juba, Sudan Selatan, Selasa (16/6).
Dalam pertemuan itu, para menteri, otoritas negara bagian, dan pejabat PBB menilai kemajuan telah dicapai di sejumlah wilayah. Namun, percepatan pemulihan secara luas masih sangat bergantung pada stabilitas keamanan, ketersediaan lahan, dan akses terhadap layanan dasar.
Menteri Urusan Kemanusiaan dan Penanggulangan Bencana Sudan Selatan, Albino Akol Atak, menegaskan pemerintah berkomitmen mendorong agenda solusi berkelanjutan bagi warga yang masih hidup dalam pengungsian.
Upaya tersebut mencakup penciptaan kondisi yang aman dan sukarela bagi para pengungsi untuk kembali ke daerah asal, berintegrasi kembali dengan masyarakat, serta memantau perkembangan proses tersebut secara berkelanjutan.
“Bagi setiap warga Sudan Selatan yang masih hidup dalam pengungsian berkepanjangan, penundaan selama setahun berarti kehidupan mereka juga tertunda selama setahun,” kata Akol dalam pernyataan bersama yang dirilis Selasa malam waktu setempat.
PBB mencatat Sudan Selatan masih menghadapi krisis pengungsian internal yang besar. Pada 2026, lebih dari 2,5 juta orang terdampak, termasuk sekitar 964 ribu orang yang tinggal di kamp-kamp pengungsian dan lokasi penampungan lainnya.
Menurut PBB, krisis tersebut berakar dari konflik yang pecah pada 2013 dan semakin memburuk akibat banjir berulang serta dampak perubahan iklim.
Situasi semakin kompleks dengan berlanjutnya konflik di Sudan, negara tetangga Sudan Selatan. Sejak 2023, lebih dari 1,3 juta orang telah menyeberang masuk ke Sudan Selatan, baik pengungsi asal Sudan maupun warga Sudan Selatan yang kembali dari negara tersebut.
Meski demikian, upaya pemerintah Sudan Selatan bersama PBB dan berbagai mitra kemanusiaan mulai menunjukkan hasil.
Hingga saat ini, lebih dari 28 ribu warga yang sebelumnya mengungsi telah berhasil kembali ke daerah asal, berintegrasi dengan masyarakat setempat, atau menetap di lokasi baru di negara bagian Unity, Nil Hulu, dan Bahr el Ghazal Barat yang dinilai cukup aman untuk dihuni kembali. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY