Buka konten ini

SAAT membeli laptop, berapa banyak dari kita yang langsung mengecek sistem operasinya? Hampir tidak ada. Mata kita lebih cepat tertuju pada warna casing, layar, atau spesifikasi prosesor.
Kita melihat pembangunan dengan cara yang sama: yang fisik selalu lebih mencolok. Ia kasat mata, ada jalan baru, jembatan, gedung, dan sejenisnya. Itulah yang terlihat dan terasa. Yang tidak terlihat, yakni reformasi sistem, kualitas pendidikan, penguatan tata kelola. Dan, ini, bahkan kerap luput dari perhatian. Padahal, pembangunan sesungguhnya mengandung tiga unsur sekaligus: potensi, tujuan, dan perubahan.
Lebih dari Sekadar Angka PDB
Pembangunan sering diukur dari pertumbuhan ekonomi saja, yaitu PDB (produk domestik bruto) nasional atau PDRB (produk domestik regional bruto) daerah. Padahal ukuran itu tidak cukup. Untuk mendapat gambaran utuh, PDRB perlu dibaca bersama Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan rasio Gini -dua angka yang memberi tahu seberapa merata kemakmuran itu dirasakan.
Gita Wirjawan, mantan Kepala BKPM dan Menteri Perdagangan, dalam bukunya Money Matters menyebut tiga hambatan utama investasi asing: rendahnya pendidikan, lemahnya daya saing domestik, dan buruknya tata kelola.
Singapura dan Vietnam jadi buktinya. Kedua negara itu mendongkrak skor PISA (Programme for International Student Assessment) atau Program Penilaian Siswa Internasional terlebih dahulu, baru kemudian melakukan deregulasi besar-besaran.
Hasilnya: modal asing mengalir deras.
Alurnya jelas: perbaikan pendidikan ? SDM unggul ? tata kelola membaik ? investasi datang.
Tesis ini selaras dengan temuan Daron Acemoglu dan James A. Robinson, peraih Nobel Ekonomi 2024, dalam The Narrow Corridor. Mereka berargumen: sebuah negara berjalan dengan sehat ketika hukum lebih kuat dari aktor, baik aktor negara maupun swasta. Jika aktor yang dominan, negara bisa jadi tirani atau justru runtuh lemah. Sebaliknya, ketika aturan ditaati dan para pemain dibatasi olehnya, lahirlah apa yang mereka sebut shackled leviathan atau tata kelola yang sehat dan seimbang.
Potret Pembangunan Batam Hari Ini
Di Batam, pendekatan ini bukan sekadar teori. Di bawah kepemimpinan Wali Kota/Kepala BP Batam Amsakar Achmad dan Wakil Wali Kota/Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra, haluan pembangunan bergeser dari infrastruktur ke manusia. Mereka memilih jalan sunyi yang tak populis, yaitu membangun jiwa sebuah kota lewat kualitas manusianya, ketimbang pembangunan fisik yang kerap merenggut hak-hak dasar warga kota.
Dari 15 program prioritas Pemko Batam, enam di antaranya menyasar pembangunan manusia dan kesejahteraan sosial. Tiga dari enam program itu berfokus khusus pada pendidikan.
Hasilnya mulai terasa. IPM Batam saat ini mencapai 83,80, tertinggi keempat di Sumatera. Naik 0,48 poin dari tahun sebelumnya. Angka kemiskinan turun dari 4,8% menjadi 3,8%, atau sekitar 15 ribu jiwa berhasil keluar dari garis kemiskinan.
Untuk menopang capaian itu, Pemko Batam meluncurkan sejumlah kebijakan sejak 2025, di antaranya bantuan kesehatan daerah, santunan lansia, perlindungan sosial bagi pekerja rentan -termasuk pengemudi ojek online, becak, dan perahu pancung, serta beasiswa bagi warga hinterland dan keluarga kurang mampu. Pemilik hunian dengan NJOP di bawah Rp120 juta pun mendapat insentif pajak.
Prestasi ini diganjar pengakuan secara nasional. Pada 2026, Kementerian Dalam Negeri memberikan penghargaan Pemda Berprestasi kepada Kota Batam sebagai salah satu pemerintah kota terbaik di Sumatera.
Output vs Outcome
Ada perbedaan mendasar yang kerap diabaikan dalam menilai keberhasilan pemerintahan: output adalah wujud fisik dari sebuah program, misalnya, jalan yang dibangun, gedung yang berdiri. Outcome adalah dampaknya, contohnya, apakah hidup warga benar-benar berubah.
Kebijakan Pemko Batam hari ini mungkin tidak sefoto genik jalan tol atau jembatan baru. Tapi dampaknya sesungguhnya luar biasa, yakni anak-anak yang lebih berpendidikan, warga yang lepas dari kemiskinan, sistem yang lebih adil. Dan, itu semua akan terasa jauh lebih lama. Itulah investasi yang tak terlihat, tapi paling nyata hasilnya. (*)
Oleh: Yustinus Farid Setyobudi
Peneliti di Veritas Research & Consulting (VERCO)