Buka konten ini
BATAM (BP) – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan dolar Singapura mulai berdampak terhadap perekonomian di Kota Batam.
Sebagai daerah industri dan perdagangan yang bergantung pada aktivitas ekspor-impor, kenaikan kurs dolar memicu lonjakan harga sejumlah barang kebutuhan masyarakat.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Batam, Rafky Rasid mengatakan, kenaikan kurs dolar berpotensi memicu inflasi karena banyak kebutuhan pokok dan barang lainnya masih mengandalkan bahan baku impor dari luar negeri.
“Kenaikan kurs dolar bisa memicu kenaikan harga kebutuhan masyarakat, baik kebutuhan pokok maupun barang lain yang bahan bakunya diimpor dari luar negeri. Hal ini dapat memicu inflasi tinggi dan menggerus daya beli masyarakat,” ujar Rafky, Jumat (22/5).
Menurut dia, dampak kenaikan dolar memang tidak terlalu besar bagi sebagian pengusaha di Batam yang bergerak di sektor ekspor-impor. Namun kondisi tersebut dinilai sangat dirasakan masyarakat, terutama kalangan pekerja.
“Bagi pengusaha di Batam yang berorientasi ekspor dan impor mungkin tidak terlalu berpengaruh. Tapi bagi masyarakat tentu sangat berpengaruh,” katanya.
Ia menjelaskan, kenaikan nilai dolar menyebabkan harga berbagai barang ikut terdongkrak, mulai dari minyak goreng, oli, hingga kebutuhan pokok lainnya termasuk produk pertanian.
“Hampir semua bahan kebutuhan pokok harganya akan naik karena industri kita masih bergantung pada impor. Ketika kurs rupiah melemah, otomatis harga barang kebutuhan ikut naik. Termasuk produk pertanian karena harga pupuk juga meningkat,” jelasnya.
Selain berdampak terhadap harga barang konsumsi, pelaku industri di Batam juga menghadapi persoalan lain berupa kelangkaan sejumlah bahan baku industri.
Beberapa komponen seperti chip dan biji plastik disebut mengalami kelangkaan sehingga menyebabkan harga bahan baku melonjak.
“Kelangkaan ini mengakibatkan harga bahan baku naik yang memicu kenaikan biaya pokok produksi perusahaan di Batam. Artinya, beban pengusaha di Batam terus bertambah akibat kondisi tersebut,” ungkap Rafky.
Meski demikian, ia menilai fluktuasi kurs belum terlalu memengaruhi permintaan industri di Batam karena sebagian besar sektor usaha memang telah terbiasa beroperasi dalam sistem perdagangan internasional berbasis dolar.
Namun, Rafky mengingatkan kondisi kurs yang terus berfluktuasi dapat memicu ketidakpastian biaya di kalangan pelaku usaha.
Karena itu, pihaknya berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menstabilkan nilai tukar rupiah.
“Dalam hal ini kita minta pemerintah segera menstabilkan kurs rupiah karena kondisi ini memicu ketidakpastian biaya di kalangan pengusaha jika kurs terus fluktuatif,” katanya.
Ia juga menyoroti dampak sosial akibat kenaikan harga kebutuhan pokok.
Menurut dia, apabila harga terus naik sementara pendapatan pekerja tetap, kesejahteraan masyarakat akan semakin tertekan.
“Kenaikan harga kebutuhan pokok juga bisa menambah beban kalangan pekerja. Upah mereka bisa habis hanya untuk membeli kebutuhan pokok. Akibatnya kesejahteraan pekerja bisa terancam,” tutupnya.
Harga Oli dan Spare Part Motor Ikut Naik
Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menembus Rp17.650 mulai berdampak pada sektor otomotif di Batam.
Harga oli hingga berbagai suku cadang kendaraan bermotor dilaporkan mengalami kenaikan dalam satu hingga dua bulan terakhir.
Kenaikan paling terasa terjadi pada produk oli mesin yang menjadi kebutuhan rutin pemilik kendaraan.
Para pemilik bengkel pun terpaksa menyesuaikan harga jual karena harga dari distributor terus mengalami kenaikan.
Ko Acui, salah seorang pemilik bengkel motor di Sekupang mengatakan hampir seluruh komponen kendaraan kini mengalami kenaikan harga.
“Komponen motor semua naik, tidak ada yang tidak naik. Oli yang dulu Rp45 ribu sampai Rp50 ribu sekarang jadi Rp60 ribu. Yang kualitas bagus sekarang sudah Rp80 ribuan,” ujarnya.
Tak hanya oli, harga ban juga ikut terdongkrak. Untuk ban standar bagian depan kini dijual sekitar Rp180 ribu, sementara ban belakang mencapai Rp220 ribu.
Sedangkan ban tubeless rata-rata mengalami kenaikan sekitar Rp30 ribu.
“Bahkan oli produksi Indonesia naik Rp10 ribu sampai Rp12 ribu. Kalau oli Malaysia seperti Petronas naik sekitar Rp7 ribu. Tapi memang semua naik,” katanya.
Ia menambahkan, kenaikan juga terjadi pada kampas rem, ban dalam, ban luar hingga bola lampu kendaraan.
Pemilik bengkel lainnya, Robi mengatakan mayoritas spare part kendaraan masih bergantung pada produk impor sehingga sangat dipengaruhi pergerakan dolar AS.
“Karena spare part rata-rata masih impor,” ujarnya.
Menurut dia, kenaikan harga kebutuhan bengkel saat ini berkisar antara 20 hingga 30 persen. Oli menjadi produk yang mengalami lonjakan paling signifikan. “Terutama oli yang paling banyak naik. Ada yang naik sampai 30 persen. Contohnya merek Shell, dulu Rp50 ribu sekarang jadi Rp60 ribu,” katanya.
Selain oli, kenaikan juga terjadi pada ban luar, ban dalam hingga komponen kecil seperti baut. Meski demikian, sebagian komponen hanya naik sekitar Rp5 ribu hingga Rp15 ribu.
Meski harga naik, ia mengaku omzet bengkel masih relatif stabil karena konsumen tetap membutuhkan servis kendaraan.
“Pelanggan tetap datang karena memang semua naik. Bukan kita saja yang naikkan harga, memang dari distributornya sudah naik,” ujarnya.
Dampak kenaikan harga spare part mulai dirasakan konsumen.
Dika, 34, mengaku biaya servis motornya meningkat cukup drastis dibanding sebelumnya.
“Saya kemarin servis biasa saja, cuma ganti oli mesin, oli gardan, pembersihan injeksi, dan servis umum. Biasanya sekitar Rp150 ribu, sekarang jadi Rp250 ribu,” katanya.
Menurut dia, kenaikan tersebut cukup memberatkan, terutama bagi pekerja dengan penghasilan setara upah minimum.
“Awalnya saya pikir tidak terlalu berdampak, ternyata lumayan juga. Yang biasanya sudah dianggarkan Rp200 ribu jadi harus tambah lagi Rp50 ribu. Buat yang gaji UMK cukup terasa,” tuturnya. (*)
Reporter : RENGGA YULIANDRA
Editor : RATNA IRTATIK