Buka konten ini

TEHERAN (BP) – Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengklaim sebanyak 26 kapal asing, termasuk tanker minyak, kapal kontainer, dan kapal dagang, berhasil melintasi Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir di bawah pengawalan angkatan laut Iran.
Pernyataan tersebut disampaikan IRGC melalui media resminya, Sepah News, Rabu (22/5). Iran menegaskan seluruh kapal yang melintas mendapatkan pengamanan penuh dari pasukan laut Garda Revolusi.
“Lintasan kapal di perairan tersebut dilakukan melalui koordinasi dan memerlukan izin dari angkatan laut IRGC,” demikian pernyataan resmi Iran.
Klaim itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk setelah konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran kembali memanas.
Selat Hormuz kini menjadi salah satu titik paling sensitif dalam jalur perdagangan energi dunia karena menjadi jalur utama distribusi minyak dari negara-negara Teluk menuju pasar global.
Sementara itu, mengutip Xinhua, Kementerian Luar Negeri Korea Selatan mengonfirmasi sebuah tanker minyak milik negaranya berhasil melintasi Selat Hormuz dengan aman.
Perlintasan tersebut menjadi yang pertama bagi kapal Korea Selatan sejak pecah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Keberhasilan kapal itu melewati Selat Hormuz dinilai penting karena jalur tersebut memegang peranan vital dalam distribusi energi global. Gangguan kecil saja di kawasan itu berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia dan mengganggu rantai pasok internasional.
Iran mulai memperketat pengawasan di Selat Hormuz sejak 28 Februari lalu. Teheran melarang kapal yang terkait dengan Amerika Serikat dan Israel melintas dengan aman setelah serangan gabungan menghantam wilayah Iran.
Di sisi lain, Amerika Serikat juga disebut menerapkan blokade laut di sekitar jalur tersebut. Kebijakan Washington membuat kapal-kapal yang menuju maupun keluar dari pelabuhan Iran mengalami hambatan pelayaran.
Situasi itu meningkatkan risiko bentrokan militer di kawasan perairan strategis tersebut. Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat semakin meningkat setelah Washington meluncurkan operasi bertajuk Project Freedom awal bulan ini. Operasi tersebut diklaim bertujuan mengawal kapal-kapal yang terjebak agar dapat keluar dari kawasan Selat Hormuz dengan aman.
Namun, langkah itu justru memicu bentrokan sporadis antara pasukan Iran dan Amerika Serikat di sekitar jalur pelayaran internasional tersebut.
Selat Hormuz sendiri dikenal sebagai salah satu choke point energi paling penting di dunia. Ketidakstabilan di kawasan itu dinilai dapat berdampak langsung terhadap ekonomi global, terutama sektor energi dan perdagangan maritim.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan Washington menolak segala bentuk pungutan tol terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz.
“Kami tidak menginginkan tol. Ini adalah jalur air internasional. Mereka tidak mengenakan tol saat ini,” ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Jumat (22/5).
Trump juga menegaskan Iran tidak akan diizinkan menyimpan uranium yang diperkaya.
“Kami akan mendapatkan uranium yang diperkaya itu. Kami tidak membutuhkannya dan tidak menginginkannya. Kami mungkin akan menghancurkannya setelah mendapatkannya, tetapi kami tidak akan membiarkan mereka memilikinya,” katanya.
Ia kembali menegaskan Amerika Serikat tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir. “Saat ini kami sedang bernegosiasi dan kita lihat saja nanti, tetapi mereka tidak akan memiliki senjata nuklir,” tegas Trump.
Trump juga mengklaim Amerika Serikat memiliki kendali penuh terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz melalui blokade laut yang diterapkan di kawasan tersebut.
“Kami memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz dengan blokade kami. Blokade tersebut 100 persen efektif. Tidak ada yang bisa melewatinya. Ini seperti tembok baja,” ujarnya. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK