Buka konten ini

HOUSTON (BP) – Pemerintah Amerika Serikat menunda penjualan senjata senilai 14 miliar dolar AS atau sekitar Rp248 triliun kepada Taiwan di tengah masih berlangsungnya perang dengan Iran.
Presiden AS Donald Trump mengindikasikan penundaan tersebut berkaitan dengan strategi negosiasi Washington terhadap Tiongkok.
“Saya belum menyetujuinya. Kita lihat nanti apa yang terjadi. Saya mungkin akan melakukannya (menjual senjata ke Taiwan). Saya mungkin juga tidak akan melakukannya,” ujar Trump kepada Fox News, Kamis (21/5).
Trump mengatakan isu tersebut telah dibahas secara rinci dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping usai lawatannya ke Tiongkok. Keputusan final terkait penjualan senjata itu disebut akan ditentukan dalam waktu dekat.
Media setempat melaporkan, selama beberapa dekade Amerika Serikat memegang prinsip Six Assurances, yakni enam prinsip kebijakan luar negeri yang mengatur hubungan AS-Taiwan sejak 1982 pada era Presiden Ronald Reagan.
Salah satu poin prinsip tersebut menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak berkonsultasi dengan Tiongkok terkait penjualan senjata ke Taiwan.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut AS, Hung Cao, mengatakan keputusan penundaan penjualan senjata akan ditentukan Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.
Menurut Cao, langkah itu juga berkaitan dengan kebutuhan persediaan amunisi militer AS di tengah operasi militer terhadap Iran yang diberi nama Epic Fury.
“Saat ini, kami menunda penjualan untuk memastikan kami memiliki amunisi yang dibutuhkan untuk Epic Fury dan kami punya cukup. Kami hanya memastikan semuanya tersedia, tetapi penjualan untuk militer asing akan dilanjutkan ketika pemerintah menganggapnya perlu,” ujar Cao dalam sidang Subkomite Pertahanan Alokasi Senat di Washington DC.
Meski Cao menegaskan stok amunisi AS masih mencukupi, sejumlah laporan menyebut militer Amerika telah menggunakan ribuan rudal sejak perang Iran dimulai pada 28 Februari lalu.
Penggunaan besar-besaran tersebut disebut menguras hampir separuh stok rudal jelajah siluman jarak jauh milik Pentagon, termasuk rudal Tomahawk, Patriot, Precision Strike, hingga rudal ATACMS berbasis darat.
Gedung Putih juga dikabarkan tengah menyiapkan permintaan tambahan anggaran perang kepada Kongres sebesar 80 hingga 100 miliar dolar AS atau sekitar Rp1,7 kuadriliun.
Sebagian besar dana itu disebut akan digunakan untuk mengisi kembali persediaan senjata canggih yang menipis akibat konflik.
Namun tekanan penggunaan amunisi mulai berkurang setelah gencatan senjata diberlakukan sejak April lalu sehingga intensitas operasi militer menurun. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY