Buka konten ini

BATAM (BP) – Kenaikan tarif pengangkutan sampah di Kecamatan Sekupang, Batam, memicu keluhan dari pelaku usaha kecil hingga pengelola kafe dan restoran. Tarif baru yang diberlakukan perusahaan swasta dinilai terlalu tinggi dan membebani operasional usaha di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
Keluhan itu mencuat setelah beredarnya surat imbauan tertanggal 4 Mei 2026 dari PT Mahaju Langgeng Jaya. Dalam surat tersebut, perusahaan menyampaikan mulai melayani pengangkutan sampah di wilayah Sekupang untuk berbagai kategori usaha, mulai dari kios, ruko, grosir, minimarket, rumah makan, hingga kafe dan restoran.
Perusahaan menetapkan tarif Rp100 ribu per bulan untuk kios dan ruko, Rp300 ribu bagi grosir dan minimarket, Rp200 ribu untuk rumah makan, serta Rp497 ribu per bulan untuk kafe dan restoran, dengan frekuensi pengangkutan dua kali dalam sepekan.
Sejumlah pelaku usaha mengaku terkejut dengan besaran tarif tersebut. Mereka menilai kenaikannya terlalu drastis dibanding pungutan sebelumnya yang selama ini dibayarkan melalui pengurus lingkungan RT/RW.
“Biasanya kami hanya bayar sekitar Rp60 ribu per bulan lewat RT. Sekarang tiba-tiba ada surat edaran baru dan tarifnya jadi Rp100 ribu untuk kios dan ruko. Kenaikannya hampir dua kali lipat,” kata Youris, warga Sekupang.
Ia menuturkan, minimnya sosialisasi terkait perubahan mekanisme pengelolaan sampah membuat pelaku usaha kebingungan, terutama karena sebelumnya sistem pengangkutan dilakukan melalui RT/RW.
“Kami bingung karena selama ini pengelolaan sampah lewat RT/RW. Sekarang langsung dialihkan ke pihak swasta tanpa penjelasan yang jelas,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Pascal yang menyoroti penggunaan istilah “mitra DLH” dalam surat perusahaan. Menurutnya, istilah tersebut berpotensi menimbulkan persepsi bahwa tarif yang dipungut merupakan kebijakan resmi pemerintah daerah.
“Kami berharap ada solusi dari pemerintah supaya tarif angkut sampah bisa disesuaikan. Jangan terlalu mahal karena kami keberatan,” katanya.
Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Persampahan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam, Iqbal, membenarkan PT Mahaju Langgeng Jaya merupakan perusahaan transporter sampah berizin yang memiliki kewenangan mengangkut dan membuang sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Punggur.
“Itu perusahaan swasta yang menyelenggarakan pengangkutan sampah. Mereka memiliki legalitas lengkap dan bermitra dengan DLH dalam konteks akses pembuangan ke TPA,” ujar Iqbal.
Namun, ia menegaskan tarif yang dipungut perusahaan bukan bagian dari retribusi resmi pemerintah sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah Kota Batam Nomor 2 Tahun 2022 tentang retribusi pelayanan persampahan.
“Kalau pemerintah ada tarif berdasarkan perda. Tetapi kalau swasta, mereka menghitung sendiri biaya operasionalnya, seperti gaji pekerja, bahan bakar, dan perawatan armada,” jelasnya.
Iqbal menambahkan, masyarakat tetap memiliki pilihan menggunakan layanan pengangkutan sampah milik pemerintah maupun pihak swasta, karena layanan tersebut bersifat tidak wajib.
“Kalau masyarakat tidak ingin menggunakan jasa mereka, silakan dikomunikasikan langsung dengan pihak perusahaan,” katanya.
DLH Batam juga menegaskan bahwa status “mitra DLH” yang dicantumkan perusahaan hanya berkaitan dengan akses pembuangan ke TPA Punggur, bukan penetapan tarif oleh pemerintah daerah.
Sampah Menumpuk di Botania 1
Di sisi lain, persoalan pengelolaan sampah juga terjadi di kawasan Botania 1 dan sekitarnya. Tumpukan sampah yang diduga tidak diangkut lebih dari sepekan dikeluhkan warga karena meluber hingga ke badan jalan dan menimbulkan bau tidak sedap.
Pantauan di lokasi, Jumat (22/5), tumpukan sampah terlihat di sekitar area ruko. Plastik, kardus, hingga sisa makanan bercampur dan sebagian sudah berserakan keluar dari tempat penampungan.
Amir, warga sekitar, mengatakan sampah biasanya diangkut setiap Selasa. Namun hingga akhir pekan, sampah belum juga diangkut dan terus menumpuk.
“Biasanya setiap Selasa diangkut. Tapi sampai sekarang belum juga. Sampah sudah makin banyak dan meluber ke jalan,” ujarnya.
Ia menambahkan, bau tidak sedap semakin mengganggu karena banyak sampah makanan yang mulai membusuk.
“Baunya sudah menyengat sekali. Apalagi banyak sampah makanan basah, jadi cepat busuk,” katanya.
Kondisi tersebut juga memicu banyaknya lalat dan mulai mengganggu aktivitas warga maupun pelaku usaha di sekitar lokasi.
“Rumah sudah ditutup rapat pun lalat tetap masuk karena sampahnya memang terlalu banyak,” keluhnya.
Hal serupa disampaikan Ali, karyawan rumah makan di kawasan tersebut. Ia menyebut kondisi lingkungan yang kotor membuat kenyamanan pelanggan menurun.
“Namanya tempat makan harus bersih. Tapi kenyataannya di depan tempat usaha sampah sampai meluber,” ujarnya.
Ia berharap pengangkutan sampah dapat dilakukan secara rutin agar kondisi lingkungan kembali bersih.
“Ya kalau bisa rutin diangkut, jangan sampai dibiarkan mengunung begini. Ini sudah meresahkan,” pungkasnya.
Lanud Hang Nadim Dorong Program Lingkungan
Di tengah persoalan pengelolaan sampah tersebut, Komandan Lanud Hang Nadim, Letkol Penerbang Indra Alexander Yosef Lessy MMDS, menggencarkan gerakan pengelolaan sampah organik dan non-organik di lingkungan satuan sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan Kota Batam.
Program tersebut merupakan implementasi arahan Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) agar setiap satuan TNI AU memberi manfaat nyata bagi wilayah tempat bertugas.
Dalam dua pekan terakhir, Lanud Hang Nadim mulai memfokuskan sistem pengelolaan sampah dari lingkungan internal sebelum diperluas bersama masyarakat sekitar.
“Kami sudah menyampaikan kepada Bu Camat bahwa kami akan mulai dari hal kecil dulu. Pengelolaan sampah organik dan non-organik akan mulai dilaksanakan saat kegiatan gotong royong di GOR,” ujarnya saat silaturahmi dengan awak media di Taman Makom Lanud Hang Nadim, Nongsa.
Ia menjelaskan, kegiatan gotong royong tersebut akan dilakukan bersama Kecamatan Nongsa sebagai langkah awal membangun kesadaran kebersihan lingkungan.
Indra berharap program tersebut memberikan dampak nyata bagi masyarakat Batam.
“Mudah-mudahan apa yang kami laksanakan di sini bisa bermanfaat. Sesuai instruksi Kasau, harus bermanfaat untuk wilayah,” katanya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya hubungan baik dengan media sebagai mitra penyebaran informasi.
“Media adalah mata dan telinga kami. Bergaul dengan media itu memperpanjang mata dan telinga kita,” ungkapnya.
Meski demikian, ia berharap setiap pemberitaan tetap mengedepankan konfirmasi dan validitas data.
Dalam kesempatan itu, ia juga menjelaskan perubahan struktur organisasi TNI AU setelah validasi organisasi akhir 2025, di mana Lanud kini berada di bawah Komando Daerah Udara (Kodau) I.
“Sekarang dipisahkan menjadi dua komando pelaksana yang lebih tinggi dari kami, dan Lanud berada di bawah Kodau I,” jelasnya.
Ia menambahkan, perubahan struktur tersebut membuat Kodau I lebih fokus membawahi Lanud-Lanud, sementara unsur alutsista berada dalam komando tersendiri. (*)
Reporter : AZIS MAULANA – YASHINTA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO