Buka konten ini

TEHERAN (BP) — Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan Amerika Serikat dan sekutunya agar tidak menyerang kapal dagang maupun tanker minyak milik Iran di kawasan Teluk dan Selat Hormuz.
Peringatan itu disampaikan Komando Angkatan Laut IRGC di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dengan AS dan Israel dalam beberapa bulan terakhir.
“Setiap agresi terhadap tanker minyak dan kapal komersial Iran akan dibalas dengan serangan besar-besaran terhadap pusat Amerika dan kapal-kapal musuh di kawasan,” demikian pernyataan IRGC seperti dikutip Kantor Berita Fars, Sabtu (9/5).
Komandan Angkatan Udara IRGC, Majid Mousavi, juga menegaskan Iran telah menyiapkan kekuatan militernya untuk menghadapi kemungkinan eskalasi konflik.
Menurut dia, rudal dan drone Iran saat ini telah berada dalam posisi siap tempur dan tinggal menunggu instruksi peluncuran.
Ketegangan di kawasan meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Serangan itu dibalas Teheran dengan operasi militer terhadap Israel dan sekutu AS di kawasan Teluk.
Situasi tersebut turut memicu gangguan pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis distribusi minyak dan energi dunia.
Di tengah kondisi itu, Inggris dikabarkan mulai menyiapkan kapal perang Angkatan Laut Kerajaan untuk kemungkinan misi pengamanan jalur pelayaran internasional di Timur Tengah.
Kapal perusak HMS Dragon disebut disiagakan di kawasan dan berpotensi bergabung dalam operasi maritim bersama Inggris dan Prancis bila situasi memburuk.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump juga menyatakan blokade maritim terhadap Iran di Selat Hormuz masih tetap berlaku meski operasi “Project Freedom” untuk sementara dihentikan.
Trump bahkan memperingatkan AS dapat meningkatkan operasi militernya apabila negosiasi dengan Iran gagal mencapai kesepakatan.
“Kami bisa mengambil langkah berbeda jika semuanya tidak selesai lewat perundingan,” ujar Trump di Gedung Putih.
Meski sempat tercapai gencatan senjata melalui mediasi Pakistan pada April lalu, hingga kini pembicaraan lanjutan antara AS dan Iran belum menghasilkan kesepakatan permanen. (***)
Lapiran : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK