Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Sebagai negara kepulauan, Indonesia dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman rumput laut dunia. Indonesia mempunyai lebih dari 800 spesies rumput laut, meski baru sekitar 55 jenis yang dimanfaatkan secara komersial.
Beberapa rumput laut yang sudah dibudidayakan untuk dikonsumsi sekaligus dikomersialkan, di antara adalah Eucheuma cottonii sebagai bahan baku utama pembuatan karagenan (pengental makanan). Lalu, jenis Gracilaria sp yang umumnya digunakan untuk memproduksi agar-agar.
Berikutnya Sargassum yang sering digunakan sebagai pupuk organik atau bahan kosmetik. Ada juga makani, yaitu jenis yang banyak ditemukan di Kepulauan Seribu karena kecocokan nutrisi airnya.
Menteri Perdagangan, Budi Santoso menegaskan komitmennya untuk terus mengoptimalkan peran Sistem Resi Gudang (SRG) sebagai instrumen strategis dalam mendukung ekspor komoditas ke pasar global.
Salah satunya, melalui pelepasan ekspor 75 ton rumput laut jenis Eucheuma cottonii senilai USD 100.215, atau setara Rp 1,7 miliar ke Tiongkok. Pelepasan ekspor dilakukan dari Gudang SRG PT Asia Sejahtera Mina (AsiaMina) di Maros, Sulawesi Selatan, Rabu (4/3).
Gudang SRG AsiaMina merupakan satu dari tujuh gudang yang dikelola oleh Pengelola Gudang PT Wahana Pronatural, Tbk (PT WAPO). Perusahaan tersebut merupakan salah satu pengelola gudang SRG komoditas rumput laut yang aktif mengimplementasikan SRG. Gudang SRG AsiaMina rutin mengekspor rumput laut ke Tiongkok dan Spanyol.
Budi Santoso yang akrab disapa Busan mengatakan, Kementerian Perdagangan memperluas akses pasar internasional melalui sinergi dengan pemerintah daerah, lembaga pembiayaan, pengelola gudang SRG, dan eksportir.
Selain itu, ke depan SRG akan terintegrasi dengan program Desa BISA Ekspor (DBE) yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha, termasuk petani.
“Kemendag memberikan dukungan yang dapat dimanfaatkan pengelola SRG, koperasi, dan petani untuk memperkuat daya saing produk di tingkat produsen melalui program DBE,” ungkapnya, Jumat (6/3). “Selain itu, akses pasar komoditas yang disimpan dalam gudang SRG juga diperluas melalui kegiatan pitching dan penjajakan bisnis (business matching) yang difasilitasi Atase Perdagangan RI dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) di 33 negara,” sambungnya.
Busan menambahkan, melalui DBE, produk unggulan seperti rumput laut yang diproduksi para petani atau nelayan di berbagai desa dapat disimpan di gudang SRG dan dijual ketika harga pasar menguntungkan.
Program DBE bertujuan untuk memperkuat ekosistem ekspor di desa melalui enam pilar strategi. Yaitu penguatan sumber daya manusia ekspor, pengembangan produk, produktivitas dan teknologi, logistik, pembiayaan, serta promosi dan akses pasar.
Menurut Busan, dalam menjawab tantangan dan peluang perdagangan global tersebut, SRG tidak hanya berfungsi sebagai instrumen tunda jual.
Pemanfaatan SRG juga membuka akses pasar; menyediakan informasi ketersediaan, sebaran, mutu, dan nilai komoditas; serta memberikan kepercayaan dan keamanan yang lebih besar dalam transaksi perdagangan.
Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Tirta Karma Senjaya menyampaikan, nilai ekspor rumput laut Indonesia ke dunia pada 2025 mencapai USD 317,55 juta. Negara tujuan utama meliputi Tiongkok, Amerika Serikat, Spanyol, Jepang, dan Belanda.
“SRG memiliki peran yang strategis dalam mendukung ekspor komoditas unggulan di berbagai wilayah Indonesia. Selain itu, pengelola gudang SRG memiliki peluang untuk meningkatkan kompetensi dan komunikasi, sehingga mampu memperluas akses pasar ekspor bagi produk yang mereka kelola,” ujar Tirta.
Direktur Utama PT Asia Sejahtera Mina Tbk., Indra Widiadarma, mengapresiasi dukungan Kemendag kepada pelaku usaha sebagai pengelola gudang SRG.
“Dukungan ini membuka peluang bagi pelaku usaha serta UMKM) untuk menembus pasar ekspor melalui promosi dan pameran di luar negeri,” katanya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI