Buka konten ini

Bulan suci Ramadan selalu menghadirkan suasana berbeda. Menjelang waktu berbuka puasa atau iftar, masyarakat mengisi sore hari dengan beragam aktivitas. Di Tanjungpinang, salah satu cara favorit menanti azan Magrib adalah menikmati senja di tepi laut.
MENUNGGU iftar telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga selama Ramadan. Tradisi ini tak sekadar soal membunuh waktu, tetapi juga menghadirkan ruang refleksi, kebersamaan, dan kekhidmatan.
Sebagian warga memilih menghabiskan waktu dengan membaca Alquran, mengikuti kajian keislaman, atau mendengarkan ceramah di masjid. Aktivitas religius tersebut dipandang sebagai cara produktif menambah pahala sekaligus mempersiapkan diri menyambut waktu berbuka.
Seiring perkembangan zaman, pola menunggu iftar pun mengalami perubahan. Ada yang memanfaatkan teknologi dengan menonton kajian daring, membaca buku digital, hingga berselancar di media sosial.
Tak sedikit pula yang memilih berolahraga ringan seperti jogging, bersepeda, atau berjalan santai demi menjaga kebugaran tubuh selama berpuasa. Sebagian lainnya berjalan-jalan di sekitar kota atau berburu takjil di pasar dadakan yang ramai bermunculan sepanjang Ramadan.
Aneka menu khas berbuka pun mudah ditemui. Kolak, es cendol, gorengan, hingga kue tradisional menjadi sajian yang paling diburu warga menjelang Magrib.
Namun, bagi banyak warga, kawasan tepi laut tetap menjadi destinasi utama menanti iftar. Bentangan pesisir dari Jalan Haji Agus Salim hingga Jalan Hang Tuah dipadati masyarakat sejak sore hari.
Hamparan laut yang tenang, hembusan angin sepoi, serta panorama matahari terbenam menciptakan suasana syahdu yang sulit dilewatkan. Dua titik yang kerap menjadi pusat keramaian adalah Taman Gurindam 12 dan Tugu Sirih.
Dari lokasi tersebut, warga dapat menikmati pemandangan laut lepas dengan latar kapal penumpang, pompong, dan perahu nelayan yang lalu lalang.
“Kami senang menunggu waktu berbuka di sini karena teduh. Kalau cuaca cerah, senjanya benar-benar cantik,” ujar Ros, 42, warga Jalan Kemboja, Tanjungpinang.
Menurut Ros, iftar bukan sekadar momen membatalkan puasa, melainkan waktu berkumpul bersama keluarga. Di tepi laut, terlihat keluarga duduk santai, menggelar tikar, bahkan mendirikan tenda kecil sambil menunggu azan Magrib.
“Kami biasanya datang bersama keluarga, menunggu waktu berbuka sambil menikmati matahari tenggelam,” katanya.
Kawasan ini juga menjelma menjadi surga kuliner Ramadan. Sepanjang jalan, pedagang menjajakan kurma, otak-otak, laksa, bubur, serta beragam minuman segar yang menggoda selera.
“Kalau akhir pekan, kami sering ke sini menikmati suasana laut sekaligus mencari makanan berbuka,” tambah Ros. Saat azan Magrib berkumandang, suasana pun berubah. Warga segera membatalkan puasa dengan penuh syukur. Raut bahagia terlihat di wajah mereka, menutup penantian dengan kehangatan kebersamaan.
Bagi warga Tanjungpinang, tepi laut bukan sekadar ruang publik. Di sanalah senja, keluarga, dan nilai-nilai Ramadan bertemu, menjadikan iftar terasa lebih hangat dan bermakna.
“Biasanya setelah iftar di tepi laut, kami lanjut salat Magrib dan Tarawih di Masjid Raya Al Hikmah,” tutup Ros. (***)
Reporter: YUSNADI NAZAR
Editor : GUSTIA BENNY