Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Banyak orang mengira bahwa penyebab utama stres di tempat kerja adalah beban tugas yang terlalu banyak, target yang tinggi, atau atasan yang menuntut. Padahal, menurut berbagai penelitian psikologi, stres dan kelelahan kronis (burnout) sering kali tidak muncul hanya karena tekanan dari luar. Justru, kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari tanpa disadari dapat menjadi pemicu utama.
Masalahnya, kebiasaan tersebut terlihat normal. Bahkan, sebagian dianggap sebagai ciri pekerja yang rajin dan berdedikasi. Akibatnya, banyak orang terus melakukannya hingga tubuh dan pikirannya kehabisan energi.
Dalam psikologi kerja, burnout adalah kondisi kelelahan emosional, mental, dan fisik akibat stres berkepanjangan yang tidak dikelola dengan baik. Kondisi ini dapat menurunkan produktivitas, kreativitas, motivasi, bahkan memengaruhi kesehatan secara keseluruhan.
Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (16/7), terdapat kebiasaan yang sering diabaikan tetapi diam-diam mempercepat munculnya stres dan kelelahan kronis.
1. Terus Bekerja Tanpa Memberikan Waktu Istirahat untuk Otak
Banyak orang bangga bisa bekerja selama berjam-jam tanpa berhenti. Mereka menganggap semakin lama duduk di depan komputer, semakin tinggi produktivitasnya.
Padahal, psikologi kognitif menunjukkan bahwa otak memiliki kapasitas perhatian yang terbatas. Setelah fokus dalam waktu lama, kemampuan berpikir akan menurun. Akibatnya, seseorang lebih mudah melakukan kesalahan, sulit berkonsentrasi, dan membutuhkan energi mental lebih besar untuk menyelesaikan pekerjaan yang sebenarnya sederhana.
Fenomena ini dikenal sebagai mental fatigue atau kelelahan mental. Ketika seseorang terus memaksa diri bekerja tanpa jeda, hormon stres seperti kortisol cenderung tetap tinggi. Jika berlangsung setiap hari, tubuh akan semakin sulit memulihkan energi.
Yang sebaiknya dilakukan: Beristirahat 5–10 menit setiap 60–90 menit bekerja. Berdiri dan berjalan sebentar. Mengalihkan pandangan dari layar komputer.Melakukan peregangan ringan atau latihan pernapasan.Istirahat singkat bukan tanda malas, melainkan strategi agar otak tetap bekerja secara optimal.
2. Selalu Mengatakan “Ya” pada Semua Permintaan
Sebagian orang sulit menolak permintaan rekan kerja maupun atasan. Mereka takut dianggap tidak kooperatif, tidak profesional, atau mengecewakan orang lain.
Dalam psikologi, kecenderungan ini sering dikaitkan dengan people pleasing, yaitu dorongan untuk selalu menyenangkan orang lain meskipun harus mengorbankan kebutuhan diri sendiri.
Akibatnya, beban kerja semakin bertambah sementara waktu dan energi tetap terbatas. Orang yang terus-menerus mengatakan “ya” sering mengalami: kelelahan emosional, kehilangan waktu untuk diri sendiri, sulit memprioritaskan pekerjaan, meningkatnya risiko burnout.
Menetapkan batasan bukan berarti egois. Sebaliknya, batasan yang sehat membantu seseorang menjaga kualitas pekerjaan sekaligus kesehatan mentalnya.
Contoh sederhana adalah mengatakan: “Saya bersedia membantu, tetapi saya baru bisa mengerjakannya setelah tugas utama selesai.” Respons seperti ini tetap menunjukkan sikap profesional tanpa mengorbankan diri sendiri.
3. Terus Memeriksa Email dan Chat Kerja di Luar Jam Kerja
Teknologi membuat pekerjaan menjadi lebih fleksibel. Namun di sisi lain, batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan menjadi semakin kabur.
Banyak orang terbiasa membuka email kantor saat malam hari, mengecek pesan pekerjaan ketika sedang makan bersama keluarga, bahkan membalas chat saat akhir pekan.
Secara psikologis, kondisi ini disebut continuous partial attention, yaitu perhatian yang terus terbagi karena selalu merasa harus siap merespons sesuatu.
Akibatnya, otak tidak pernah benar-benar memasuki fase istirahat. Meskipun seseorang sedang berada di rumah, sistem saraf tetap berada dalam kondisi siaga.
Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat menyebabkan: kualitas tidur menurun, kecemasan meningkat, sulit menikmati waktu bersama keluarga, munculnya kelelahan kronis.
Karena itu, banyak psikolog menyarankan adanya psychological detachment, yaitu kemampuan untuk benar-benar melepaskan diri dari pekerjaan setelah jam kerja selesai.
Cara sederhana melakukannya antara lain: mematikan notifikasi kantor, menentukan jam terakhir membuka email, tidak membawa pekerjaan ke tempat tidur. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI
