Buka konten ini

Menjaga laut tidak selalu dimulai dari kapal riset atau kawasan konservasi, tetapi juga dari ruang-ruang kelas yang penuh cerita. Melalui pengalaman menyusuri hutan, mangrove, dan pesisir, para guru menemukan cara baru memahami alam. Dari tangan merekalah, benih kepedulian tumbuh dan harapan bagi pulau-pulau kecil Anambas terus disemai.
LANGKAH kaki para guru itu menyusuri jalan setapak yang membelah lebatnya hutan Gunung Timur, Kepulauan Anambas. Cahaya matahari sesekali menerobos celah dedaunan, menyinari lantai hutan yang lembap. Perjalanan mereka terhenti sejenak ketika bunga Rafflesia terlihat mekar di habitat alaminya, menjadi penanda bahwa alam Anambas masih menyimpan kekayaan hayati yang begitu berharga.
Tak jauh dari sana, gemericik Air Terjun Temburun memecah sunyi. Air yang mengalir dari kawasan hulu seolah mengingatkan bahwa kehidupan di laut sesungguhnya bermula dari daratan yang tetap lestari.
Perjalanan belum usai. Dari kawasan hutan, rombongan bergerak menuju pesisir. Mereka mengamati rapatnya akar mangrove yang mencengkeram lumpur, memperhatikan biota-biota kecil yang hidup di sela akar, hingga melihat bagaimana sampah rumah tangga dipilah di Bank Sampah Palmatak sebelum kembali memiliki nilai ekonomi.
Bagi sebagian guru, pengalaman itu menjadi pelajaran yang jauh lebih bermakna dibanding sekadar membaca buku. Mangrove, terumbu karang, perubahan iklim, hingga pengelolaan sampah tidak lagi sekadar menjadi materi pelajaran, melainkan kenyataan yang mereka lihat, rasakan, dan pahami secara langsung.
Pengalaman itulah yang menjadi ruh Teacher Conservation Network (TCN), sebuah program kolaborasi Yayasan Anambas bersama para pendidik di Kabupaten Kepulauan Anambas. Tujuannya sederhana, tetapi berdampak panjang: melahirkan generasi yang mencintai laut, memahami lingkungan, dan menjaga keberlanjutan pulau-pulau kecil.
Program tersebut resmi dimulai pada awal Juli 2026 dengan dukungan penuh Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kepulauan Anambas. Selama enam hari, mulai 29 Juni hingga 2 Juli 2026, tujuh guru dari empat sekolah mengikuti pelatihan intensif yang bukan sekadar meningkatkan kapasitas, melainkan membangun jejaring guru konservasi pertama di wilayah kepulauan itu.
Empat sekolah yang terlibat berasal dari SDN 03 Sunggak; SMPN 1 Sunggak; SMPN 1 Telaga; dan SMPN 1 Kiabu. Para guru datang dari Jemaja Barat dan Siantan Selatan, kawasan yang kehidupan masyarakatnya sangat bergantung pada laut dan pesisir.
Bagi masyarakat Anambas, laut bukan sekadar hamparan biru yang mengelilingi gugusan pulau. Laut adalah sumber penghidupan, ruang budaya, sekaligus identitas daerah.
Namun, laut tidak pernah berdiri sendiri.
Kerusakan hutan akan memengaruhi kualitas air yang mengalir menuju pesisir. Sampah yang dibuang di daratan pada akhirnya bermuara ke laut. Hilangnya mangrove akan mengancam habitat ikan, kepiting, dan beragam biota yang menopang kehidupan masyarakat pesisir.
Karena itulah para peserta diperkenalkan pada konsep ridge to reef, pendekatan yang menjelaskan keterhubungan antara pegunungan, hutan, sungai, pesisir, hingga lautan sebagai satu ekosistem yang saling bergantung.
Selama pelatihan, para guru tidak hanya menerima materi mengenai ekosistem laut, terumbu karang, mangrove, satwa laut dilindungi, perubahan iklim, pengelolaan sampah berkelanjutan, hingga ekonomi sirkular. Mereka juga belajar melalui pendekatan experiential learning atau pembelajaran berbasis pengalaman.
Mereka diajak mengenali vegetasi khas Anambas di kawasan konservasi Gunung Timur, mengunjungi Air Terjun Temburun, mempelajari fungsi ekologis mangrove sebagai benteng alami pesisir sekaligus tempat berkembang biaknya berbagai biota laut, hingga memahami bahwa sampah yang dipilah dengan benar dapat menjadi sumber nilai ekonomi sekaligus mengurangi pencemaran.
Seluruh pengalaman tersebut diharapkan dapat diterjemahkan kembali menjadi proses belajar yang lebih kontekstual di ruang kelas.
Guru Menjadi Titik Awal Perubahan
Manager Marine Conservation Yayasan Anambas, Novita Permata Putri, meyakini pelestarian lingkungan sesungguhnya dimulai dari pendidikan.
”Laut yang sehat tidak hanya dijaga oleh para peneliti atau pegiat konservasi, tetapi juga dimulai dari ruang kelas. Guru adalah ujung tombak dalam membentuk pola pikir dan karakter anak-anak terhadap lingkungan,” ujarnya.
Menurut Novita, TCN dirancang untuk membangun jejaring guru yang memiliki pemahaman utuh mengenai hubungan antara hutan, pesisir, dan laut. Dengan bekal tersebut, para guru diharapkan mampu menginspirasi lahirnya generasi Youth Citizen Science yang aktif mengamati, menjaga, sekaligus terlibat dalam berbagai aksi pelestarian lingkungan di daerahnya sendiri.
Program ini merupakan pengembangan dari KELAUT (Kelas Alam Laut) yang telah dijalankan Yayasan Anambas sejak 2021. Selama lima tahun, program tersebut menjangkau 12 sekolah di Letung, Landak, Mengkait, Piasan, hingga Pian Pasir, dengan lebih dari seribu siswa mengikuti pembelajaran mengenai ekosistem pesisir dan konservasi laut.
Dari perjalanan itu lahir satu kesimpulan penting. Pendidikan lingkungan akan memberikan dampak jauh lebih besar ketika guru menjadi aktor utamanya. Sebab, guru hadir setiap hari bersama para siswa, bukan hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan kebiasaan mereka.
Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdikpora Kabupaten Kepulauan Anambas, Zuherman, menilai program tersebut sangat relevan dengan karakter wilayah Anambas sebagai daerah kepulauan yang kaya akan laut, terumbu karang, mangrove, hutan, hingga habitat bunga Rafflesia.
Menurutnya, seluruh kekayaan itu harus dikenalkan kepada anak-anak sejak dini melalui guru yang memahami langsung kondisi lingkungannya. Dengan begitu, pendidikan tidak hanya melahirkan generasi yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap alam tempat mereka hidup.
Hal serupa dirasakan Janiati, guru SDN 03 Sunggak. Selama ini, materi lingkungan lebih banyak ia peroleh melalui buku pelajaran. Namun ketika melihat langsung kawasan konservasi, mengenali berbagai jenis mangrove, memahami hubungan antarekosistem, hingga belajar memilah sampah berdasarkan nilai ekonominya, cara pandangnya berubah.
Baginya, apa yang selama ini terasa abstrak kini menjadi nyata. Pengalaman tersebut membuat proses mengajar kelak lebih mudah dipahami para siswa karena lahir dari pengalaman yang benar-benar dialami.
Anambas memang dianugerahi kekayaan laut dan keanekaragaman hayati yang luar biasa. Namun wilayah kepulauan ini juga menghadapi ancaman perubahan iklim, pencemaran sampah plastik, hingga tekanan terhadap ekosistem pesisir.
Menghadapi tantangan itu, membangun infrastruktur saja tidak cukup. Investasi terbesar justru berada pada manusia, terutama generasi mudanya.
Melalui Teacher Conservation Network, Yayasan Anambas, pemerintah daerah, dan sekolah sedang menanam benih perubahan dari tempat yang paling sederhana: ruang kelas.
Sebab ketika seorang guru memahami pentingnya menjaga hutan, mangrove, dan laut, pengetahuan itu akan diwariskan kepada puluhan murid setiap tahun. Dan ketika murid-murid itu tumbuh dengan kesadaran bahwa hutan, sungai, pesisir, laut, dan pulau adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan, maka masa depan Anambas sesungguhnya sedang dibangun.
Bukan dari ruang rapat atau laboratorium. Melainkan dari seorang guru yang pulang membawa pengalaman baru, lalu menuturkannya kepada murid-muridnya. Dari kisah-kisah sederhana itulah, harapan bagi laut dan pulau-pulau kecil Anambas perlahan tumbuh, mengakar, lalu terus hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya. (***)
Reporter : Rengga Yuliandra
Editor : Ratna Irtatik
