Buka konten ini

MANTAN Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan angkat suara membela diplomat senior Dino Patti Djalal setelah Teddy Indra Wijaya menyinggung masa jabatan Dino yang hanya sekitar tiga bulan sebagai wakil menteri luar negeri. Menurut Anies, pernyataan tersebut berpotensi mengerdilkan rekam jejak panjang Dino di dunia diplomasi.
“Dino Patti Djalal bukan karbitan jadi diplomat, bukan pula karbitan jadi pejabat,” tulis Anies melalui akun X, Selasa (2/6).
Anies menegaskan, penilaian terhadap seorang diplomat tidak bisa semata-mata didasarkan pada lamanya masa jabatan dalam satu posisi politik. Ia menilai kontribusi Dino terhadap diplomasi Indonesia telah berlangsung puluhan tahun dan diakui di tingkat internasional.
Anies mengungkapkan, dirinya pertama kali mengenal nama Dino ketika masih menjadi mahasiswa di Universitas Gadjah Mada. Saat itu, Dino dikenal sebagai diplomat muda Indonesia yang aktif tampil dalam berbagai forum dan debat internasional di London.
“Diplomat muda Indonesia itu tampil gemilang menjaga nama Indonesia tetap tegak dan berwibawa. Di situlah pertama kali saya mendengar namanya: Dino Patti Djalal,” tulis Anies.
Anies juga mengenang pertemuannya dengan Dino ketika menempuh studi doktoral di Illinois, Amerika Serikat. Kala itu, Dino datang ke Chicago untuk berdialog dengan mahasiswa dan diaspora Indonesia pascaperistiwa serangan teror 11 September 2001.
Menurut Anies, dalam pertemuan tersebut Dino menunjukkan kapasitas sebagai diplomat yang matang, tenang, dan mampu menjelaskan isu global yang kompleks dengan bahasa yang mudah dipahami.
“Yang kami temui adalah diplomat muda yang cerdas, artikulatif, dan mampu menangani persoalan rumit dengan ketenangan diplomatik yang sulit ditiru,” ungkap Anies.
Lebih jauh, Anies menyoroti kiprah Dino ketika menjabat Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat pada 2010–2013. Pada periode tersebut, Dino dikenal aktif memperkuat jejaring diaspora Indonesia serta memperluas diplomasi publik Indonesia di Amerika Serikat.
Salah satu inisiatif yang disorot Anies adalah penyelenggaraan Kongres Diaspora Indonesia pertama di Los Angeles pada 2012, yang mempertemukan diaspora Indonesia dari berbagai negara dan latar belakang profesi. Anies mengaku menjadi salah satu tokoh yang hadir dalam forum tersebut.
Selain itu, Anies juga menyinggung pendirian Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) yang digagas Dino. FPCI selama ini dikenal aktif menggelar forum kebijakan luar negeri, termasuk Conference on Indonesian Foreign Policy (CIFP), yang melibatkan diplomat, akademisi, dan generasi muda.
“FPCI ikut melahirkan generasi diplomat baru, ujung tombak kita di panggung global,” tulis Anies.
Pernyataan Anies tersebut muncul setelah Teddy Indra Wijaya merespons kritik Dino terkait arah diplomasi dan intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto. Dino sebelumnya menilai diplomasi Indonesia perlu menjaga keseimbangan antara kehadiran global dan kepentingan strategis nasional.
Dalam klarifikasinya, Teddy menyampaikan apresiasi atas kritik tersebut, namun sekaligus menyinggung singkatnya masa jabatan Dino sebagai wakil menteri luar negeri.
“Saya pikir beliau diplomat hebat. Pernah menjadi wakil menteri luar negeri walau hanya diberi kesempatan sekitar tiga bulan,” ujar Teddy.
Pernyataan itu kemudian menuai respons beragam di ruang publik, termasuk dari kalangan akademisi dan pengamat hubungan internasional, yang menilai rekam jejak diplomat tidak semestinya direduksi oleh durasi jabatan politik semata, melainkan dilihat dari kontribusi dan pengaruh jangka panjangnya terhadap kepentingan nasional. (***)
Laporan : JP GROUP
Editor : MUHAMMAD NUR