Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Korban kekerasan, terutama kekerasan seksual, kerap tidak hanya mengalami penderitaan saat peristiwa terjadi, tetapi juga menghadapi tekanan lanjutan setelahnya. Mulai dari proses penyidikan, persidangan, hingga komentar publik di media sosial dan pemberitaan, korban sering kembali mengalami kekerasan dalam bentuk verbal dan mental.
Komentar negatif, pertanyaan yang menyudutkan, hingga eksploitasi kisah pribadi membuat trauma korban semakin berlapis. Di sisi lain, banyak korban juga kesulitan mengakses bantuan hukum, dukungan psikologis, maupun bantuan finansial.
Berangkat dari keprihatinan itu, aktris Hannah Al Rashid bersama sejumlah pihak dari Kitabisa membentuk sebuah kolektif bernama Kawanpuan.
“Biasanya Kitabisa untuk korban bencana. Kali ini kami buat untuk korban kekerasan, namanya Kawanpuan. Ada saya, juga Intan Khasanah dari Kitabisa,” ujar Hannah dalam wawancara bersama Jawa Pos (grup Batam Pos).
Kawanpuan berfungsi sebagai wadah crowdfunding dan penyaluran bantuan bagi korban kekerasan. Sejak dibentuk pada 2020, platform ini telah berkolaborasi dengan lebih dari 40 lembaga swadaya masyarakat serta sejumlah aktivis gender, termasuk Gita Savitri dan Kalis Mardiasih.
Hingga kini, Kawanpuan disebut telah membantu lebih dari 1.000 korban kekerasan, dengan mayoritas merupakan korban kekerasan seksual.
Meski bergerak di ranah bantuan, Kawanpuan menegaskan tidak ingin mengeksploitasi korban. Identitas maupun kisah pribadi dijaga ketat tanpa disebarluaskan secara visual atau didramatisasi.
“Bagi korban kekerasan, dampaknya itu sangat berlapis,” kata Hannah.
Aktris film Tukar Takdir itu menekankan pentingnya membangun empati melalui edukasi. Karena itu, Kawanpuan aktif menggunakan media sosial untuk mengangkat isu gender, kekerasan, dan ruang aman, baik dalam bentuk tulisan maupun video.
“Kalau ada pemahaman, empati bisa tumbuh. Kita bisa bantu tanpa harus mengekspos korban. Alhamdulillah cara ini efektif,” ujarnya.
Bantuan yang terkumpul dari crowdfunding kemudian disalurkan sesuai kebutuhan korban, mulai dari pendampingan psikolog, bantuan hukum, layanan medis, hingga akses ke rumah aman. Kawanpuan juga menggandeng berbagai mitra profesional di bidangnya.
“Kami tidak ingin merasa paling bisa. Kami butuh mitra yang ahli di masing-masing bidang,” tegas Hannah yang juga dikenal lewat serial Hubungi Agen Gue!.
Seiring waktu, gerakan ini berkembang tidak hanya di ruang digital, tetapi juga melalui kegiatan komunitas. (*)
Reporter : JP Group
Editor : GALIH ADI SAPUTRO