Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Duka masih menyelimuti Indonesia setelah tiga prajurit terbaik Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tergabung dalam misi perdamaian dunia di Lebanon gugur dalam tugas. Ketiganya merupakan bagian dari Kontingen Garuda XXIII-S di bawah misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).
Tiga prajurit yang gugur tersebut adalah Mayor Inf Anumerta Zulmi Aditya Iskandar, Serka Anumerta Muhammad Nur Ichwan, dan Kopda Anumerta Farizal Rhomadhon. Kepergian mereka menjadi kehilangan besar, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi bangsa Indonesia yang selama ini aktif berkontribusi dalam misi perdamaian global.
Prosesi penghormatan terakhir digelar secara kenegaraan pada Jumat (4/4) di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Presiden Prabowo Subianto memimpin langsung upacara penerimaan jenazah dan memberikan penghormatan terakhir. Dalam suasana haru, Presiden juga menyapa dan menguatkan keluarga korban satu per satu.
Sejumlah pejabat tinggi negara turut hadir, di antaranya Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, serta Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Sehari setelahnya, ketiga prajurit dimakamkan secara militer di daerah asal masing-masing. Mayor Zulmi dimakamkan di TMP Cikutra, Bandung; Serka Ichwan di TMP Giri Dharmoloyo II, Magelang; dan Kopda Farizal di TMP Giripeni, Kulon Progo.
Upacara pemakaman dipimpin jajaran TNI sebagai bentuk penghormatan terakhir atas jasa dan pengabdian mereka. Setelah prosesi pemakaman, negara memastikan keluarga yang ditinggalkan tetap mendapat perlindungan.
Melalui PT ASABRI (Persero), pemerintah memberikan santunan kematian sebesar Rp450 juta untuk masing-masing prajurit, sesuai ketentuan perundang-undangan. Direktur Utama ASABRI, Jeffry Haryadi, menegaskan bahwa perlindungan tersebut merupakan bentuk kehadiran negara bagi prajurit dan keluarganya.
“Pengorbanan para prajurit menjadi amanah bagi kami untuk memastikan keluarga yang ditinggalkan mendapatkan perlindungan yang layak, termasuk jaminan masa depan anak-anak mereka,” ujar Jeffry.
Selain santunan, negara juga menjamin pendidikan anak-anak para prajurit melalui program beasiswa hingga jenjang pendidikan formal. Hak tersebut tetap berlaku, termasuk bagi anak yang belum memasuki usia sekolah.
Secara keseluruhan, total manfaat yang diterima ahli waris dari ketiga prajurit mencapai lebih dari Rp 1,4 miliar. Peristiwa ini kembali menyoroti tingginya risiko yang dihadapi pasukan penjaga perdamaian, khususnya di kawasan Timur Tengah yang masih rentan konflik.
Misi UNIFIL sendiri bertugas menjaga stabilitas di perbatasan Lebanon–Israel, wilayah yang kerap mengalami ketegangan militer. Indonesia selama ini dikenal sebagai salah satu kontributor terbesar pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Pemerintah menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi keluarga prajurit yang gugur, tidak hanya melalui santunan finansial, tetapi juga perlindungan jangka panjang. Di tengah duka, penghormatan dan jaminan dari negara menjadi simbol bahwa pengorbanan para prajurit tidak akan dilupakan. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK