Buka konten ini

BATAM (BP) – Peta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Batam mengalami pergeseran, seiring tekanan ekonomi global yang membuat pelancong semakin selektif dalam membelanjakan uang. Hotel kelas menengah dengan tarif terjangkau kini menjadi pilihan utama, menggantikan dominasi hotel berbintang tinggi.
Kepala Dinas Pariwisata Kepulauan Riau, Hasan, mengatakan hotel bintang tiga justru menikmati tingkat hunian yang stabil, bahkan kerap penuh. Wisatawan asal Singapura disebut menjadi kontributor utama peningkatan okupansi di segmen tersebut.
“Hotel dengan tarif di bawah Rp1 juta per malam paling diminati. Ini menunjukkan wisman semakin selektif dalam membelanjakan uangnya,” ujar Hasan, Rabu (22/4).
Menurutnya, perubahan perilaku wisatawan ini tidak lepas dari tekanan ekonomi global dan dinamika geopolitik yang masih berlangsung. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian, wisatawan cenderung menekan pengeluaran, termasuk dalam memilih akomodasi.
Dampaknya mulai dirasakan hotel bintang empat dan lima yang mengalami penurunan tingkat hunian.
Meski demikian, segmen hotel premium belum sepenuhnya kehilangan pasar.
Hasan menjelaskan, hotel kelas atas masih bergantung pada kegiatan berskala internasional yang menghadirkan tamu-tamu dengan preferensi akomodasi premium.
“Kegiatan internasional biasanya menghadirkan tamu yang memilih hotel bintang empat dan lima. Ini yang harus terus didorong,” katanya.
Untuk itu, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau bersama Kementerian Pariwisata didorong memperbanyak agenda internasional di Batam. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga keseimbangan pergerakan industri perhotelan di semua segmen.
Di sisi lain, pelaku usaha perhotelan juga dihadapkan pada tekanan biaya operasional yang terus meningkat, mulai dari kenaikan harga bahan bakar hingga ongkos logistik. Kondisi tersebut berpotensi menekan margin usaha dan berdampak pada keberlanjutan bisnis serta tenaga kerja di sektor pariwisata.
Hasan menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah guna menjaga daya tahan sektor pariwisata di tengah tekanan ekonomi global.
“Sinergi kuat dibutuhkan agar sektor ini tetap tumbuh dan tidak kehilangan momentum,” ujarnya. (*)
Reporter : AZIS MAULANA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO