Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Upaya manusia menelusuri jejak kehidupan di luar Bumi memasuki babak baru. Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) melalui wahana penjelajah Curiosity menemukan molekul organik di permukaan Mars—senyawa kimia yang menjadi dasar pembentukan kehidupan.
Temuan ini membuka peluang baru dalam memahami asal-usul kehidupan di luar Bumi, sekaligus memperkuat posisi Mars sebagai target utama eksplorasi antariksa global.
Dilansir dari The Guardian, Rabu (22/4), Rover Curiosity mendeteksi tujuh jenis molekul organik di dasar danau purba dekat ekuator Mars. Dari jumlah tersebut, lima di antaranya belum pernah teridentifikasi sebelumnya di planet merah itu.
Profesor Amy Williams mengungkapkan, temuan ini diduga merupakan material organik yang telah terawetkan selama sekitar 3,5 miliar tahun.
“Kami menduga ini adalah materi organik yang telah terawetkan di Mars selama miliaran tahun. Apakah ini kehidupan? Kami belum bisa memastikannya,” ujarnya.
Meski belum dapat memastikan asal-usulnya, temuan ini memberi sinyal kuat bahwa jika kehidupan pernah muncul di Mars, jejak kimianya mungkin masih tersimpan hingga kini.
Sejak mendarat pada 2012, Curiosity menjelajahi Kawah Gale hingga lereng Gunung Sharp dalam kondisi lingkungan yang ekstrem. Suhu malam hari di Mars bisa turun hingga di bawah minus 100 derajat Celsius, dengan atmosfer sangat tipis yang membuat permukaan planet terpapar radiasi tinggi.
Namun, para ilmuwan meyakini miliaran tahun lalu Mars memiliki air cair dan atmosfer yang lebih tebal—kondisi yang memungkinkan kehidupan berkembang.
Profesor Andrew Coates dari University College London menyebut, Mars pernah memiliki syarat-syarat dasar untuk munculnya kehidupan.
“Tidak ada alasan yang diketahui mengapa kehidupan tidak bisa muncul di Mars, sebagaimana di Bumi,” katanya.
Menariknya, temuan terbaru ini juga menantang asumsi lama bahwa materi organik tidak dapat bertahan lama di permukaan Mars akibat paparan radiasi ekstrem.
“Sangat menarik melihat material kompleks masih bisa bertahan di bawah permukaan,” kata Williams.
Rover Curiosity juga mendeteksi senyawa seperti benzotiofena—zat berbasis sulfur yang umumnya berasal dari meteorit—serta indikasi senyawa organik mengandung nitrogen yang menyerupai prekursor DNA.
Meski demikian, Williams menegaskan bahwa temuan ini masih jauh dari bukti kehidupan.
“Ini adalah blok pembangun DNA, tetapi masih sebatas ‘batu bata’, bukan ‘rumah’. Molekul ini juga bisa terbentuk melalui proses geologis,” jelasnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY