Buka konten ini

KAMAR Dagang dan Industri (Kadin) Batam menilai kinerja industri di Batam belum melemah, namun tengah menghadapi ujian berat akibat tekanan eksternal dan persoalan struktural di dalam negeri.
Ketua Kadin Batam, Roma Nasir Hutabarat, menyebut kondisi saat ini sebagai fase pressure test, di mana daya tahan industri diuji oleh perlambatan ekonomi global dan meningkatnya biaya produksi.
“Industri belum melemah, tetapi sedang menghadapi tekanan eksternal yang memaksa penyesuaian,” ujarnya, Rabu (22/4).
Ia menjelaskan, struktur ekonomi Batam yang bertumpu pada ekspor membuatnya sangat sensitif terhadap kondisi pasar global, terutama Amerika Serikat dan Tiongkok.
Sektor manufaktur, khususnya elektronik dan komponen, masih menjadi tulang punggung. Namun, tekanan mulai terasa melalui penyusutan margin akibat kenaikan biaya logistik dan energi, serta ketidakpastian permintaan global.
Di tengah tekanan tersebut, sektor jasa penunjang seperti logistik, pergudangan, dan layanan pemeliharaan justru menunjukkan ketahanan. Kondisi ini menandakan ekosistem industri Batam masih bergerak, meski dalam fase adaptasi.
Kadin mendorong pelaku usaha untuk mengambil langkah realistis dalam menjaga keberlanjutan usaha. Selain menahan pemutusan hubungan kerja (PHK), industri diminta meningkatkan efisiensi melalui penerapan teknologi, seperti lean manufacturing dan digitalisasi proses produksi.
Diversifikasi pasar ekspor juga dinilai penting guna mengurangi ketergantungan pada kawasan tertentu.
“Pelaku industri harus mulai membuka pasar baru agar tidak terlalu bergantung pada negara tertentu,” kata Roma.
Selain itu, fleksibilitas tenaga kerja dinilai menjadi kunci, antara lain melalui program peningkatan keterampilan (reskilling) dan multi-keahlian (multiskilling).
Dari sisi kebijakan, Kadin mendorong pemerintah memberikan insentif fiskal dan nonfiskal, seperti relaksasi pajak, kemudahan impor bahan baku, serta percepatan perizinan.
Roma menegaskan, Kadin perlu berperan sebagai penghubung kebijakan (policy broker) untuk menjembatani kebutuhan dunia usaha dengan respons pemerintah yang cepat.
Ia juga menyoroti pergeseran struktur industri yang dinilai tak terhindarkan. Industri Batam diperkirakan akan bergerak dari sektor padat karya menuju manufaktur berbasis keterampilan menengah hingga tinggi, dengan dukungan teknologi yang lebih intensif.
Sejumlah sektor diproyeksikan menjadi tumpuan baru, seperti elektronik bernilai tambah tinggi, pusat data dan infrastruktur digital, logistik regional, serta energi terbarukan.
Namun demikian, Roma menggarisbawahi masih adanya hambatan mendasar dalam iklim investasi, seperti tumpang tindih regulasi, birokrasi perizinan yang belum sinkron, serta kepastian hukum jangka panjang yang belum optimal.
Untuk itu, ia mendorong harmonisasi kebijakan melalui peta regulasi yang konsisten, deregulasi berbasis hasil, serta penguatan peran BP Batam sebagai otoritas tunggal.
“Batam tidak sedang melemah, tetapi berada di titik krusial transformasi. Ketahanan industri ke depan ditentukan oleh kecepatan adaptasi kebijakan dan kualitas kolaborasi,” tegasnya.
Namun, di balik narasi ketahanan dan transformasi tersebut, tekanan terhadap sektor ketenagakerjaan mulai mengemuka. Perlambatan ekonomi global dan konflik geopolitik tidak hanya menekan kinerja ekspor, tetapi juga memicu kenaikan biaya produksi yang berdampak langsung pada sikap hati-hati dunia usaha. Rekrutmen dipersempit, sementara ekspansi ditahan.
Kondisi ini tercermin dari data Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kepulauan Riau yang mencatat sekitar 75 ribu pengangguran, dengan 75 persen terkonsentrasi di Batam. Mayoritas berasal dari kelompok usia produktif lulusan SMA/SMK. Di saat yang sama, kinerja ekspor Batam pada awal 2026 turun sekitar 3,67 persen secara tahunan, menjadi sinyal awal tekanan terhadap sektor industri.
Ketua Apindo Batam, Rafki Rasyid, menyebut pelaku usaha menghadapi tekanan berlapis, mulai dari mahalnya bahan baku hingga lonjakan biaya logistik akibat kenaikan BBM nonsubsidi.
“Situasi global masih tidak menentu. Kelangkaan chip masih terjadi, bahan baku seperti biji plastik juga mahal. Ini menyebabkan biaya pokok produksi naik cukup signifikan, sekitar 20 sampai 30 persen,” ujarnya.
Dalam situasi ini, berdasar hasil survei internal Apindo pusat, sekitar 67 persen perusahaan memilih menahan penambahan tenaga kerja. Bahkan, jika tekanan terus berlanjut, efisiensi melalui pengurangan karyawan menjadi opsi yang sulit dihindari.
Di sisi lain, pemerintah dan pemangku kepentingan terus berupaya meredam potensi krisis melalui pelatihan tenaga kerja dan penguatan daya saing industri. Namun, ketergantungan Batam pada ekspor serta lemahnya konsumsi domestik membuat ekonomi daerah tetap rentan terhadap guncangan global.
Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, mengakui bahwa secara tahunan (year on year) kinerja ekspor Batam memang mengalami penurunan sekitar 3,6 persen atau setara 118,3 juta dolar Amerika Serikat. Meski demikian, penurunan itu tidak terjadi secara merata di seluruh sektor.
“Penurunan ini lebih dipengaruhi oleh ekspor kapal laut yang turun signifikan hingga 86 persen atau sekitar 433 juta dolar AS. Selain itu ada juga penurunan pada komoditas kakao,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa sektor manufaktur tetap menjadi tulang punggung ekonomi Batam, dengan kontribusi mencapai 57,01 persen terhadap struktur ekonomi.
“Batam sekarang sedang naik kelas. Investasi padat karya tetap tumbuh, tetapi sekarang berjalan berdampingan dengan investasi padat modal dan jasa modern,” ujarnya. (***)
Reporter : AZIS MAULANA
Editor : RATNA IRTATIK