Buka konten ini
SEKUPANG (BP) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mencatat sebanyak 116 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) sepanjang Januari hingga Maret 2026. Angka tersebut dinilai masih terkendali dan belum menunjukkan lonjakan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Didi Kusmarjadi, mengatakan jika dibandingkan tren tahunan, kasus DBD pada awal 2026 justru cenderung lebih rendah.
“Kalau kita lihat data 2025, total kasus mencapai 809 sepanjang tahun. Untuk triwulan pertama 2026 ini masih 116 kasus, sehingga belum ada peningkatan signifikan. Namun, tetap harus diwaspadai karena pola DBD biasanya fluktuatif,” ujarnya, Kamis (16/4).
Ia menjelaskan, dalam beberapa tahun terakhir kasus DBD di Batam memang mengalami fluktuasi cukup tajam.
Pada 2022 tercatat 902 kasus, kemudian turun drastis menjadi 392 kasus pada 2023.
Selain jumlah kasus, Dinkes juga memantau angka insidence rate (IR) atau tingkat kejadian per 100 ribu penduduk. Pada 2024, IR tercatat 68,21 per 100 ribu penduduk dan menurun menjadi 60,28 pada 2025. Sementara pada 2026 hingga Maret, IR berada di angka 8,64 per 100 ribu penduduk.
“Target nasional sebenarnya di angka 10 per 100 ribu penduduk per tahun. Untuk sementara, capaian kita di 2026 masih di bawah target tersebut, namun ini baru triwulan pertama,” jelasnya.
Dari sisi angka kematian, tren juga menunjukkan penurunan. Pada 2024 tercatat 14 kasus kematian, kemudian turun menjadi tiga kasus pada 2025. Hingga Maret 2026, belum dilaporkan adanya kasus kematian akibat DBD.
Meski secara umum terkendali, Dinkes tetap memetakan sejumlah wilayah rawan, terutama kawasan dengan kepadatan penduduk tinggi dan sanitasi lingkungan yang kurang optimal.
“Kasus tersebar di beberapa kecamatan, terutama wilayah padat penduduk. Kami terus melakukan pemetaan dan surveilans untuk memastikan penanganan cepat di lokasi yang ditemukan kasus,” ujarnya.
Menurut Didi, kemunculan kasus DBD pada awal tahun dipengaruhi oleh tingginya curah hujan yang menyebabkan banyak genangan air, sehingga menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti.
“Perubahan cuaca dan perilaku masyarakat juga sangat berpengaruh. Jika lingkungan tidak dijaga, potensi penyebaran DBD akan meningkat,” katanya.
Sebagai langkah pencegahan, Dinkes Batam terus menggencarkan fogging fokus di wilayah terdampak serta mengintensifkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus.
“Kami tidak hanya fogging, tetapi juga mengedepankan PSN. Ini jauh lebih efektif dalam jangka panjang karena menyasar sumber perkembangbiakan nyamuk,” tegasnya.
Selain itu, edukasi kepada masyarakat terus dilakukan melalui puskesmas dan kader kesehatan hingga tingkat kelurahan.
Dari sisi layanan kesehatan, Dinkes memastikan seluruh fasilitas kesehatan, baik puskesmas maupun rumah sakit, dalam kondisi siap menangani pasien DBD.
“Kami sudah siapkan tenaga medis, ruang perawatan, serta logistik yang dibutuhkan. Sampai saat ini, penanganan pasien masih dalam kapasitas aman,” ujarnya.
Dinkes Batam pun mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan tidak lengah. Warga diminta rutin menguras dan menutup tempat penampungan air, serta memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menjadi tempat genangan.
“DBD ini bisa dicegah. Kuncinya ada pada kedisiplinan kita bersama dalam menjaga lingkungan. Jangan tunggu ada kasus baru bergerak,” tutup Didi Kusmarjadi. (*)
Reporter : RENGGA YULIANDRA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO