Buka konten ini

IRAN (BP) – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas. Penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, melontarkan ancaman keras bahwa pihaknya siap menenggelamkan kapal perang Amerika jika dianggap mengganggu di Selat Hormuz.
Pernyataan tersebut muncul di tengah situasi yang masih rapuh. Kedua negara saat ini berada dalam masa gencatan senjata sementara selama dua pekan, setelah sebelumnya Iran menutup jalur pelayaran di Selat Hormuz selama lebih dari enam minggu.
Di sisi lain, Amerika Serikat disebut tengah memperkuat kehadiran militernya di kawasan tersebut. Langkah ini dipandang Iran sebagai bentuk upaya pengawasan sekaligus tekanan terhadap jalur pelayaran strategis dunia itu.
Dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran, Rezaei mempertanyakan sikap Washington yang dinilai terlalu jauh mencampuri kawasan Teluk. “Donald Trump ingin menjadi polisi Selat Hormuz. Apakah itu benar-benar tugas Anda?” ujarnya.
Ia bahkan melontarkan ancaman terbuka terhadap kekuatan militer AS. Menurutnya, kapal-kapal perang Amerika berada dalam jangkauan serangan rudal Iran.
“Kapal-kapal itu bisa kami tenggelamkan dengan rudal pertama kami. Mereka menciptakan bahaya besar dan bisa kami hancurkan,” tegasnya.
Rezaei yang dikenal sebagai tokoh garis keras di tubuh Garda Revolusi Iran juga menyinggung kemungkinan invasi darat Amerika Serikat ke Iran. Ia menilai skenario tersebut justru akan menguntungkan Teheran.
“Jika AS melakukan invasi darat, kami akan mengambil ribuan sandera dan setiap sandera bisa menjadi nilai tawar,” katanya.
Ia bahkan secara terbuka menyatakan tidak mendukung perpanjangan masa gencatan senjata yang saat ini tengah berlangsung.
“Saya tidak mendukung perpanjangan gencatan senjata, dan ini adalah pandangan pribadi,” tambahnya.
Sebagai tokoh berpengaruh, Rezaei memiliki rekam jejak panjang di militer Iran. Ia pernah menjabat sebagai panglima tertinggi Garda Revolusi Iran pada 1981 hingga 1997. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY