Buka konten ini

PENANGANAN kasus tewasnya Bripda Natanael Simanungkalit terus bergulir. Polda Kepri menggelar prarekonstruksi dugaan penganiayaan di area Rusun Remaja Mapolda Kepri, Kamis (16/4) pagi hingga siang.
Kegiatan prarekonstruksi tersebut dilakukan secara tertutup dengan melibatkan sejumlah pihak internal kepolisian. Akses di sekitar lokasi juga ditutup bagi awak media yang hendak meliput langsung proses tersebut.
Dalam proses itu, tim dari Mabes Polri juga turut hadir di Batam. Kehadiran tersebut diduga untuk memastikan rangkaian peristiwa serta mendalami penyebab kematian korban.
“Mabes sudah datang sejak Rabu. Prarekonstruksi dilaksanakan secara internal dan tertutup,” ujar salah satu sumber.
Kabid Humas Polda Kepri, Kombes Pol Nona Pricillia Ohei, membenarkan bahwa proses penyidikan kasus tersebut masih terus berjalan. Saat ini, tersangka utama Bripda AS masih menjalani pemeriksaan intensif di Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Kepri.
“Untuk tersangka AS, saat ini masih dilakukan pendalaman oleh penyidik, termasuk pemeriksaan terhadap sejumlah saksi. Selanjutnya juga akan dilakukan konfrontasi antara tersangka dan saksi,” jelas Nona.
Ia menambahkan, prarekonstruksi menjadi bagian penting untuk memperkuat konstruksi perkara sebelum dilanjutkan ke tahap berikutnya. Berdasarkan hasil sementara, kekerasan terhadap korban disebut dilakukan menggunakan tangan kosong.
“Dari hasil pemeriksaan dan keterangan saksi, kekerasan yang dilakukan berupa pukulan dengan tangan kosong,” tambahnya.
Hingga kini, penyidik telah memeriksa sedikitnya delapan saksi. Jumlah tersebut berpotensi bertambah seiring pendalaman kasus.
Selain Bripda AS, tiga anggota lain yang berada di lokasi kejadian juga turut diperiksa, namun masih berstatus sebagai saksi dalam proses di Ditreskrimum.
“Kalau di Krimum masih saksi, tetapi di Propam statusnya terduga ikut serta,” ungkap Nona.
Ketiga anggota tersebut saat ini masih ditempatkan di penempatan khusus (patsus) Bidang Propam Polda Kepri. Penyidik juga masih mendalami kemungkinan adanya peran lain serta peluang penetapan tersangka baru.
“Untuk tersangka baru masih dalam proses pendalaman. Nanti kami sampaikan jika ada perkembangan,” ujarnya.
Selain proses pidana, penegakan disiplin internal Polri juga segera dilakukan. Polda Kepri menjadwalkan sidang kode etik profesi terhadap Bripda AS dan tiga rekannya dalam waktu dekat.
“Sidang kode etik direncanakan dilaksanakan Jumat (17/4) atau paling lambat Senin. Tim Komisi Kode Etik sudah dibentuk berdasarkan sprint Kapolda,” kata Nona.
Sidang etik tersebut akan dipimpin Irwasda Polda Kepri dengan melibatkan Bidpropam.
Para terperiksa berpotensi dijatuhi sanksi berat hingga pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH), tergantung hasil sidang.
“Untuk sanksi terberat adalah PTDH, tergantung hasil sidang kode etik profesi Polri,” tegasnya.
Polda Kepri memastikan akan menyampaikan setiap perkembangan kasus ini secara terbuka kepada publik, seiring tingginya perhatian masyarakat terhadap dugaan kekerasan yang melibatkan aparat tersebut.
Dimakamkan Secara Kedinasan
Sementara itu, suasana duka menyelimuti Tempat Pemakaman Umum (TPU) Seitemiang, Sekupang, Kamis (16/4) siang saat Bripda Natanael Simanungkalit dimakamkan secara kedinasan kepolisian.
Prosesi pemakaman berlangsung khidmat dengan upacara penghormatan terakhir dari institusi Polri. Sejumlah personel berseragam berdiri rapi memberikan penghormatan saat peti jenazah diturunkan ke liang lahat.
Sejak jenazah tiba di lokasi, suasana hening menyelimuti TPU. Keluarga, kerabat, serta rekan almarhum tampak mengiringi kepergian terakhir anggota muda Polda Kepri tersebut.
Prosesi diawali upacara kedinasan, kemudian dilanjutkan ibadah pemakaman secara Kristen sesuai keyakinan almarhum semasa hidup. Doa dan lantunan pujian rohani mengiringi jalannya pemakaman.
Di antara pelayat, kedua orang tua almarhum, Royamser Simanungkalit dan Rosdewi Br Napitupulu, tampak terpaku menyaksikan proses pemakaman dengan mata berkaca-kaca, menahan duka yang begitu dalam.
Tangis histeris tak lagi terdengar. Kesedihan itu seolah telah tumpah sejak kabar duka diterima keluarga pada 14 April lalu.
Sejumlah pelayat silih berganti memberikan penghiburan. Rekan kepolisian juga tampak memeluk keluarga almarhum.
“Yang sabar ya amang, inang,” ujar seorang pelayat.
Dalam amanatnya, inspektur upacara yang mewakili Kapolda Kepri, Irjen Asep Safrudin, menyampaikan belasungkawa dan mengenang almarhum sebagai anggota yang berdedikasi.
“Bripda Natanael merupakan anggota yang disiplin, gigih, dan ulet dalam bertugas,” katanya.
Sebelumnya, jenazah disemayamkan di rumah duka sejak 14 April. Hingga kini, kasus kematian Bripda Natanael masih dalam penanganan kepolisian dan diduga kuat melibatkan penganiayaan oleh seniornya di Mess Bintara Remaja Polda Kepri.
Seorang anggota berinisial AS telah ditetapkan sebagai tersangka, sementara proses hukum dan etik terus berjalan untuk mengungkap seluruh fakta peristiwa tersebut. (***)
Reporter : YASHINTA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO