Buka konten ini

ANAMBAS (BP) – Objek wisata bunga raflesia di Batu Tabir, Desa Tarempa Selatan, Kecamatan Siantan, Kepulauan Anambas, tercoreng dugaan praktik pungutan liar (pungli) terhadap pengunjung.
Informasi yang dihimpun menyebutkan adanya oknum pemuda setempat yang mematok tarif Rp50 ribu per orang bagi wisatawan yang ingin melihat langsung bunga raflesia di kawasan hutan tersebut. Padahal, tidak ada ketentuan tarif resmi dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Anambas maupun Pemerintah Desa (Pemdes) setempat.
Salah satu pengunjung, Syaiful, mengaku dimintai uang saat hendak menuju lokasi bunga langka tersebut, Kamis (16/4).
“Kami diminta Rp50 ribu per orang untuk masuk ke dalam hutan melihat raflesia. Memang didampingi, tapi pungutan itu tidak resmi,” ujarnya.
Menurutnya, ia tidak keberatan jika ada tarif yang diberlakukan, selama jelas dan resmi dari pemerintah. Namun, pungutan tanpa dasar dinilai dapat merusak citra objek wisata yang selama ini dikenal alami dan terbuka untuk umum.
Selain itu, Syaiful juga menyoroti sikap oknum tersebut yang ikut mendampingi pengunjung sambil membawa parang secara terbuka. Hal itu dinilai menimbulkan rasa tidak nyaman, terutama dari sisi keamanan dan profesionalitas pengelolaan wisata.
Menanggapi hal tersebut, Kepala UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Unit VI Anambas, Jaeri, menegaskan kawasan Bukit Tabir masih berada di bawah pengelolaan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau.
Ia memastikan tidak ada pihak yang diberi kewenangan untuk menarik pungutan di lokasi tersebut. “Tidak ada pungutan tarif. Masyarakat masih gratis untuk melihat raflesia,” tegasnya.
Jaeri juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya pada oknum yang meminta bayaran tanpa dasar resmi. Ia menyarankan pengunjung berkoordinasi langsung dengan petugas di lapangan. Pengunjung yang ingin melihat bunga raflesia mekar dapat menghubungi petugas Polisi Kehutanan (Polhut), Faizal Rangkuti. Petugas akan mendampingi tanpa memungut biaya.
“Petugas kami siap mendampingi masyarakat masuk ke kawasan hutan untuk melihat raflesia. Gratis,” pungkasnya. (***)
Reporter : IHSAN IMADUDDIN
Editor : GUSTIA BENNY