Buka konten ini

Bermula dari bermain bola di depan rumah kawasan Piayu, siswa asal Batam ini melangkah jauh hingga menembus panggung futsal nasional. Ia tak hanya membawa timnya menjadi juara Grand Champions Nasional AAAFI 2025, tetapi juga dinobatkan sebagai Best Player, menegaskan mimpi besarnya menuju level yang lebih tinggi.
LAPANGAN futsal di Bekasi itu riuh. Sorak sorai penonton bercampur dentuman sepatu di lantai sintetis. Di tengah hiruk-pikuk laga final Grand Champions Nasional AAAFI 2025, seorang bocah asal Batam bergerak tenang, penuh percaya diri.
Namanya Husnul Chafids. Usianya baru 13 tahun. Namun, cara ia menguasai bola, membaca permainan, dan memimpin serangan membuat siapa pun sulit percaya bahwa ia masih duduk di bangku kelas VIII SMPN 12 Batam.
Hari itu, Husnul bukan sekadar bermain. Ia memimpin Tim Batam menghancurkan perlawanan tim kuat dari Bandung dengan skor telak 6-0. Peluit panjang berbunyi, Batam kembali menjadi juara nasional. Untuk kedua kalinya, berturut-turut—2024 dan 2025.
Dan Husnul? Ia dinobatkan sebagai Best Player turnamen.
“Alhamdulillah, senang dan bangga. Mainnya enjoy (nikmati) saja, tidak mikir macam-macam,” kata Husnul, tersenyum malu-malu.
Kecintaan Husnul pada sepak bola dan futsal tak lahir di lapangan megah. Semua bermula sederhana, di depan rumahnya di Piayu, Seibeduk, Kota Batam. Sejak usia 9 tahun, ia kerap ikut bermain bola bersama anak-anak yang lebih dewasa.
Awalnya sekadar mengisi waktu. Lama-lama, bola seperti tak bisa lepas dari kakinya.
Dari permainan kampung ke latihan teratur, bakat Husnul terus diasah. Ia bergabung dengan SSB Nanda Football Academy (NFA). Setiap pekan, ia rutin berlatih sepak bola di kawasan Temenggung, Mukakuning, lalu berpindah ke lapangan futsal di Ikan Daun, Batam Center.
Latihan demi latihan dijalani tanpa keluhan. Panas, lelah, dan jadwal padat tak menyurutkan langkahnya.
“Kalau sudah main bola, capeknya hilang,” ujarnya singkat.
Di AAAFI 2025, Husnul bukan hanya pencetak gol. Ia menjadi jantung permainan Tim Batam, mulai dari mengatur tempo, membuka ruang, dan memberi kepercayaan diri bagi rekan-rekannya.
Selama sekitar 10 hari turnamen, konsistensinya tak goyah. Itulah yang membuat tim pelatih dan panitia menobatkannya sebagai pemain terbaik.
Gelar itu terasa istimewa. Bukan hanya karena prestasi pribadi, tetapi juga karena ia turut mengantarkan Batam kembali berdiri di puncak futsal nasional.
“Cita-cita saya ingin jadi pemain Tim Nasional Indonesia,” ucapnya lirih, namun penuh keyakinan.
Sekolah Selalu Memberi Ruang
Di balik prestasi Husnul, ada dukungan sekolah yang tak kalah penting. Kepala SMPN 12 Batam, Nurmi, mengaku bangga dengan capaian siswanya tersebut.
“Kami selalu mendorong anak-anak untuk berprestasi. Pendidikan bukan hanya soal akademik, tapi juga karakter dan akhlak,” kata Nurmi.
Sekolah memberi kebijakan belajar fleksibel bagi siswa yang harus bertanding ke luar daerah. Saat Husnul mengikuti kejuaraan nasional selama dua minggu, sekolah memberi kelonggaran, tanpa mengabaikan tanggung jawab akademik.
“Setelah kembali, tugas tetap diselesaikan. Kami ingin prestasi dan pendidikan berjalan seimbang,” jelasnya.
SMAN 12 Batam sendiri memiliki 1.118 siswa dengan 21 kegiatan ekstrakurikuler. Tahfiz dan panahan menjadi program unggulan, dengan puluhan siswa berprestasi hingga tingkat nasional dan internasional.
“Lebih dari seperempat siswa kami berprestasi. Husnul adalah bukti bahwa mimpi bisa diraih dengan kerja keras dan disiplin,” ujar Nurmi.
Kisah Husnul Chafids adalah potret sederhana tentang mimpi besar yang tumbuh dari lingkungan biasa. Dari lapangan depan rumah di Piayu, kini namanya menggema di level nasional.
Batam tak hanya mencetak pemain. Batam sedang menumbuhkan harapan.
Dan di kaki bocah 13 tahun itu, masa depan futsal Indonesia perlahan berlari. (***)
Reporter : RENGGA YULIANDRA
Editor : RATNA IRTATIK