Buka konten ini

Guru Besar Pengembangan Kurikulum Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Sekaligus Penggemar Sepak Bola
DEMAM Piala Dunia FIFA 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko tengah menjadi magnet global. Hampir semua media sibuk memberitakan jalannya pertandingan, skor, hingga gemerlap prestasi para bintang lapangan.
Namun, bagi para pemerhati sekaligus pelaku pendidikan, ada satu hal yang tak kalah menarik perhatian: Bagaimana para arsitek taktik di pinggir lapangan mengorkestrasi timnya menuju kemenangan?
]Taktik di lapangan hijau itu sejatinya menjadi cermin bagi proses pengembangan dan implementasi kurikulum di perguruan tinggi. Proses pengembangan dan implementasi kurikulum di perguruan tinggi sesungguhnya memiliki kemiripan dengan euforia, skema, serta strategi di dalam sepak bola dunia.
Sepak bola bukan sekadar laga antar kesebelasan, melainkan buah dari proses panjang pembinaan usia dini, penyusunan strategi, analisis lawan, hingga evaluasi taktik. Begitu pula kurikulum. Ia bukan sekadar daftar mata kuliah yang kaku, melainkan sebuah game plan pendidikan yang dirancang agar mahasiswa mampu memenangkan ’’pertandingan kehidupan’’ di era modern.
Formasi Adaptif
Dalam sepak bola modern, tidak ada satu formasi yang abadi dan sempurna. Formasi 4-3-3 yang membawa Spanyol pada zamannya ke puncak kejayaan belum tentu berhasil diterapkan oleh tim nasional negara lain. Begitu pula strategi bertahan ala Italia atau pressing ketat khas Jerman.
Hal yang sama berlaku di perguruan tinggi. Kurikulum bukanlah dokumen administratif yang bersifat permanen, melainkan sebuah dokumen hidup (living document) yang harus dinamis mengikuti perkembangan teknologi, kebutuhan dunia kerja, serta tantangan global.
Menghadapi tantangan abad ke-21 yang semakin kompleks akibat pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, globalisasi, hingga perubahan sosial ekonomi, mempertahankan kurikulum lama tanpa perubahan adalah kekeliruan besar.
Dalam sepak bola, tujuan akhirnya sangat sederhana: mencetak gol dan meraih kemenangan. Namun, untuk menghasilkan satu gol, sebuah tim harus membangun proses kolektif. Bola dialirkan secara terencana dan taktis dari lini belakang hingga ke jaring lawan.
Dalam konsep pendidikan, capaian pembelajaran lulusan (CPL) adalah ’’gol’’ utama yang ingin dibidik. Sementara itu, rangkaian mata kuliah merupakan umpan-umpan pendek dan panjang yang mengantarkan mahasiswa menuju gerbang tujuan tersebut.
Di sinilah urgensi konsep constructive alignment, keselarasan logis antara tujuan, proses pembelajaran, dan asesmen. Jika ada sebuah mata kuliah yang berdiri sendiri tanpa keterkaitan yang jelas dengan CPL, ia ibarat pemain egois yang gocekannya terlihat indah secara individual, tetapi tidak berkontribusi pada kemenangan tim.
Para pelatih terbaik di dunia seperti Pep Guardiola, Carlo Ancelotti, atau Lionel Scaloni tidak pernah ikut berlari mencetak gol di lapangan. Mereka berdiri di garis pembatas untuk menyusun strategi, membangun budaya kerja, melakukan analisis, dan menyuntikkan motivasi. Gol tetaplah urusan para pemain di lapangan.
Analogi itu sejalan dengan prinsip humanisme Carl Rogers (1902–1987) dan konstruktivisme Lev Vygotsky (1896–1934). Pendidikan sejatinya adalah proses memanusiakan manusia. Di dalam ekosistem ini, dosen bukan lagi satu-satunya pusat pengetahuan (teacher-centered), melainkan beralih peran sebagai playmaker atau fasilitator yang menciptakan pengalaman belajar yang bermakna.
Keberhasilan kuliah tidak diukur dari seberapa lama dosen berbicara di depan kelas, melainkan seberapa aktif mahasiswa mengeksplorasi kemampuan mereka. Pengetahuan terbaik harus dibangun melalui pengalaman langsung, interaksi, dan refleksi, persis seperti teori experiential learning David Kolb (1984).
Negara-negara sepak bola raksasa tidak pernah mengandalkan keberuntungan instan. Mereka berinvestasi besar pada akademi talenta berkelanjutan seperti La Masia di Barcelona atau Clairefontaine di Prancis. Keberhasilan mereka mengangkat trofi didukung ekosistem yang sehat: kompetisi profesional, pemanfaatan sport science, analisis data, hingga dukungan psikolog.
Selaras dengan hal itu, kurikulum perguruan tinggi pun membutuhkan ekosistem kolaboratif yang didesain secara fleksibel dan adaptif. Kurikulum tidak boleh terlalu kaku sehingga sulit menyesuaikan kebutuhan industri, tetapi juga tidak boleh terlalu longgar hingga kehilangan identitas akademiknya.
Di sinilah kurikulum Outcome-Based Education (OBE) menemukan relevansinya. Fokus utama OBE bukan lagi pada apa yang diajarkan, melainkan kompetensi apa yang benar-benar dimiliki lulusan. OBE ibarat pelatih yang sejak awal menentukan target menjadi juara. Seluruh latihan, strategi, dan evaluasi diarahkan pada hasil akhir, bukan sekadar menyelesaikan jadwal latihan.
Kemenangan
Pengembangan kurikulum dan sepak bola dunia sama-sama mengajarkan bahwa kemenangan bukanlah hasil dari keberuntungan, melainkan buah dari perencanaan, kerja sama, evaluasi, serta kemampuan beradaptasi. Jika strategi berjalan baik, akreditasi dan pengakuan masyarakat akan menjadi ’’papan skor’’ yang menunjukkan keberhasilan kerja seluruh tim.
Ada ungkapan populer di lapangan hijau: The game is won long before the final whistle, pertandingan sesungguhnya telah dimenangkan jauh sebelum peluit akhir berbunyi.
Di dalam dunia pendidikan, keberhasilan masa depan para lulusan perguruan tinggi sesungguhnya telah dipersiapkan jauh sebelum mereka melangkah ke dunia kerja. Kuncinya terletak pada bagaimana kurikulum dirancang secara visioner, diimplementasikan secara konsisten, dan dievaluasi secara berkelanjutan. (*)
