Buka konten ini

DILI (BP) – Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Timor Leste menggelar acara makan malam dan ramah tamah hangat yang mempertemukan Presiden Kelima RI, Prof. Dr. (H.C.) Megawati Soekarnoputri, dengan ratusan Warga Negara Indonesia (WNI) yang bermukim di Kota Dili dan sekitarnya.
Dalam acara yang berlangsung di Rumah KBRI Dili pada Kamis malam waktu setempat tersebut, Megawati membagikan memori awal mula persahabatan uniknya dengan Perdana Menteri Timor Leste, Xanana Gusmão. Persahabatan itu bermula dari secarik surat yang dikirimkan secara rahasia oleh Xanana dari balik jeruji penjara di masa lalu.
Selain Xanana, Megawati juga menceritakan kedekatan personalnya dengan Presiden Timor Leste, Ramos Horta.
”Saya dengan beliau berdua menjadi sahabat lama, dan alhamdulillah mereka berdua masih dapat saya temui dengan sehat hari ini. Dan kami juga berkeinginan untuk kita semua maju bersama,” ujar Megawati dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat.
Silaturahmi tersebut juga dihadiri oleh barisan warga lokal Timor Leste yang merupakan mantan pengurus PDI Timor Timur sebelum referendum pemisahan tahun 1999.
Megawati mengaku sangat tersentuh karena berada di Gedung KBRI Dili terasa seperti sedang berada di rumah sendiri. Ia meminta agar Gedung KBRI selalu terbuka lebar dan menjadi rumah yang mengayomi seluruh rakyat Indonesia di sana. Selain itu, Ketua Umum PDI Perjuangan ini juga mengingatkan seluruh warga untuk selalu menjaga kehormatan bangsa dan bangga akan identitas Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia.
Di tengah suasana hangat tersebut, atmosfer berubah menjadi takzim ketika beberapa perwakilan eks pengurus PDI masa lalu diberikan kesempatan naik ke atas panggung untuk membagikan refleksi sejarah mereka.
Testimoni pertama disampaikan oleh Martin Anastasio, mantan pengurus PDI Perjuangan Timor Timur periode 1996–2000. Dengan suara bersemangat, Martin mengenang beratnya dinamika politik serta berbagai tekanan dan intimidasi yang harus dihadapi pengurus partai di daerah menjelang gejolak referendum 1999.
Di tengah situasi sulit tersebut, Martin menegaskan bahwa dirinya bersama pengurus lain memilih untuk tetap teguh mematuhi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi serta instruksi pusat.
”Saya tetap memilih jalan organisasi. Saya lebih rela meminta Mama Megawati harus hadir langsung ke Timor Timur saat itu untuk membantu meneduhkan situasi dan menyelesaikan permasalahan yang ada,” ungkap Martin yang langsung memicu tepuk tangan riuh.
Kesaksian lain datang dari Cesar Aleixo Brandao, mantan Ketua Ranting PDI-P Kecamatan Atauro (Pulau Kambing). Begitu mendengar info dari Sekretaris PDI Provinsi kala itu, Roni Hutagaol, bahwa Megawati mendarat di Dili, Cesar rela bertaruh menyeberangi lautan selama tiga jam menggunakan kapal dari Pulau Atauro demi bisa hadir di KBRI.
Cesar menceritakan kisah perjuangannya yang penuh risiko saat menghadapi interogasi dan penahanan dari aparat keamanan setempat di masa lalu akibat situasi politik Dili yang memanas. Karena bersikeras memegang mandat ”jalan tengah” yang mengedepankan perdamaian sesuai arahan Megawati, Cesar harus melewati masa-masa sulit di dalam tahanan.
”Saya mengalami banyak sekali ujian fisik dan mental saat itu, tapi saya bersyukur karena Tuhan Yang Mahakuasa tetap melindungi saya,” ujar Cesar sambil menahan haru.
Dalam kesempatan itu, Cesar turut membuka catatan sejarah yang terjadi pada bulan Juli sebelum referendum 1999. Di bawah pantai kawasan Farol, Megawati sempat menggelar pertemuan singkat selama 15 menit dengan para calon legislatif lokal untuk memberikan arahan internal. Di sanalah, Megawati menyampaikan pesan kedamaian mendalam yang hingga kini diingat betul oleh Cesar.
”Ibu Megawati berbicara begini: ’Seandainya kalau masyarakat Timor Timur mau memilih merdeka, kita harus menghormati itu hak-hak mereka.’ Kata-kata Ibu itu yang mengajarkan kami tentang esensi demokrasi dan masih saya simpan di sini,” kata Cesar sambil menunjuk dadanya.
Mendengar kesaksian para mantan kader setianya yang melintasi batas negara dan lini masa sejarah, Megawati mengaku sangat terharu dengan ikatan batin yang tidak pernah putus tersebut.
Sebagai respons, Megawati langsung mengumumkan rencana pembentukan Dewan Pimpinan Luar Negeri (DPLN) PDI Perjuangan di Timor Leste agar koordinasi komunikasi dengan kader lokal yang menetap di Dili dapat terwadahi secara terstruktur.
Selain itu, menanggapi permohonan Cesar terkait kebutuhan investasi pariwisata dan perikanan di Pulau Atauro yang berbatasan langsung dengan Maluku Barat Daya, Megawati berjanji akan segera mengirimkan salah satu Ketua DPP PDI-P, Prof. Dr. Rokhmin Dahuri. Pakar kelautan sekaligus mantan Menteri Kelautan dan Perikanan RI tersebut akan ditugaskan melakukan riset dan meninjau langsung potensi ekonomi di pulau tersebut.
Acara makan malam yang diorganisasi oleh KBRI Dili ini ditutup dengan pekik ”Merdeka!” yang diteriakkan lantang oleh Megawati dan dijawab kompak oleh ratusan WNI yang hadir. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : MUHAMMAD NUR