Buka konten ini

Seiring bertambahnya usia, fungsi seksual pria mengalami perubahan secara alami, mulai dari penurunan kadar hormon, berkurangnya gairah seksual, hingga perubahan kualitas ereksi.
BERTAMBAHNYA usia merupakan proses alami yang turut memengaruhi fungsi seksual pria. Penurunan hormon testosteron secara bertahap menyebabkan perubahan pada gairah seksual, kemampuan ereksi, hingga kualitas sperma.
Meski demikian, kondisi ini bukan berarti kehidupan seksual harus berakhir. Kondisi tersebut dapat diperlambat dengan menerapkan pola hidup sehat sejak usia muda. karena pola hidup sehat dan penanganan medis yang tepat dapat membantu menjaga fungsi seksual tetap optimal.
Hal itu disampaikan Dokter Spesialis Andrologi Rumah Sakit Awal Bros Batam, dr. Lika Putri Handini, Sp.And, dalam Live Instagram Haloawalbros, Kamis (9/7).
Menurut dr. Lika, masa reproduksi terbaik pria berada pada rentang usia 20 hingga 30 tahun. Setelah melewati usia 30 tahun, kadar hormon testosteron mulai mengalami penurunan sekitar satu persen setiap tahun dan biasanya mulai dirasakan saat memasuki usia 40 tahun.
“Biasanya masa terbaik berada di usia reproduktif, sekitar 20 sampai 30 tahun. Setelah usia 30 tahun, hormon testosteron mulai turun sekitar satu persen setiap tahun dan perubahan mulai terasa saat memasuki usia 40-an,” ujarnya.
Ia menjelaskan, ada tiga perubahan fungsi seksual yang paling sering dialami pria seiring bertambahnya usia, yakni penurunan kemampuan ereksi, menurunnya libido atau gairah seksual, serta penurunan kualitas sperma.
“Yang pertama adalah kemampuan ereksi berkurang. Kemudian libido atau keinginan melakukan aktivitas seksual juga menurun secara alami. Selain itu, fungsi sperma juga ikut mengalami penurunan,” katanya.
Meski demikian, dr. Lika menegaskan bahwa istilah “puber kedua” yang kerap dikaitkan dengan pria usia paruh baya sebenarnya tidak dikenal dalam dunia medis.
“Kalau dibilang puber kedua itu tidak ada. Yang terjadi biasanya adalah fase kejenuhan dalam kehidupan sehingga seseorang mencari suasana atau pengalaman baru. Kondisi ini bisa dialami pria maupun wanita,” jelasnya.
Selain faktor usia, hormon testosteron memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan pria secara menyeluruh. Hormon tersebut tidak hanya memengaruhi gairah seksual, tetapi juga energi, motivasi, kekuatan otot, hingga suasana hati.
“Testosteron bukan hanya memengaruhi libido. Hormon ini juga berperan terhadap semangat bekerja, motivasi, massa otot, dan membuat pria tidak mudah lelah,” ujar dr. Lika.
Untuk menjaga kadar testosteron tetap optimal, ia menyarankan masyarakat menerapkan gaya hidup sehat. Mulai dari rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi tinggi protein dan lemak sehat, hingga menjaga kualitas tidur.
Menurutnya, latihan beban lebih dianjurkan untuk mempertahankan massa otot dibandingkan hanya melakukan olahraga kardio.
“Kita harus mulai menabung otot sejak muda. Caranya dengan strength training atau latihan beban. Massa otot yang baik akan membantu menjaga kualitas hidup saat usia bertambah,” katanya.
dr. Lika juga mengingatkan agar tidak menganggap semua penurunan fungsi seksual sebagai proses penuaan biasa. Apabila gangguan muncul secara tiba-tiba, kondisi tersebut perlu diwaspadai karena bisa menjadi tanda adanya penyakit kronis.
“Kalau penurunannya terjadi mendadak, itu merupakan alarm tubuh. Bisa saja ada penyakit seperti diabetes, hipertensi, atau penyakit kronis lain yang memengaruhi pembuluh darah,” jelasnya.
Selain penyakit kronis, faktor psikologis seperti stres, kecemasan, dan depresi juga berpengaruh terhadap fungsi seksual pria. Kondisi tersebut membuat otot di sekitar panggul sulit rileks sehingga aliran darah ke penis menjadi tidak optimal.
“Saat seseorang cemas atau depresi, tubuh terus berada dalam kondisi tegang. Akibatnya, aliran darah yang dibutuhkan untuk ereksi menjadi berkurang,” ungkapnya.
Faktor lain yang turut memengaruhi kesehatan seksual adalah kelelahan, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, serta kurang tidur. Menurut dr. Lika, seluruh faktor tersebut dapat mengganggu fungsi hormon maupun kesehatan pembuluh darah. “Merokok dapat merusak pembuluh darah sehingga meningkatkan risiko gangguan ereksi. Sementara kurang tidur akan mengganggu regulasi hormon testosteron yang diproduksi tubuh saat fase tidur berkualitas,” tuturnya.
Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk menjaga pola hidup sehat sejak dini agar kualitas kesehatan seksual tetap terpelihara hingga usia lanjut.
Gaya Hidup Sehat Jadi Kunci Menjaga Fungsi Seksual
Selain usia, dr. Lika mengatakan fungsi seksual pria juga dipengaruhi pola hidup sehari-hari. Kebiasaan merokok, pola tidur yang tidak teratur, kurang berolahraga, hingga penyakit kronis dapat mempercepat penurunan fungsi seksual.

Menurutnya, kondisi tersebut juga perlu menjadi perhatian bagi pekerja dengan sistem kerja bergilir (shift), seperti pekerja industri di Batam. “Kalau dia bekerja malam, kemudian sampai di rumah tidurnya cukup dan kualitas tidurnya baik, itu tidak apa-apa. Yang penting dia tetap mencapai fase tidur yang optimal,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pekerja dengan sistem shift bulanan umumnya masih dapat beradaptasi. Namun, jadwal kerja yang berubah-ubah tanpa pola justru lebih berisiko mengganggu keseimbangan hormon.
“Kalau shift-nya tidak teratur, itu yang akan memengaruhi hormon testosteron,” katanya.
Untuk pekerja malam, dr. Lika menyarankan agar menciptakan suasana tidur menyerupai malam hari. Kualitas tidur harus tetap dijaga dengan menerapkan sleep hygiene, seperti membersihkan diri sebelum tidur, membuat kamar senyaman mungkin, dan bila diperlukan berkonsultasi mengenai penggunaan suplemen melatonin.
“Kita harus mengoptimalkan tidurnya seperti tidur malam. Sleep hygiene perlu dijaga agar kualitas tidur tetap baik,” jelasnya.
Olahraga Tidak Sama dengan Aktivitas Kerja
Dalam kesempatan tersebut, dr. Lika juga mengingatkan bahwa aktivitas fisik saat bekerja tidak bisa disamakan dengan olahraga.
Ia mengacu pada rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni berolahraga tiga hingga lima kali dalam sepekan dengan durasi 30 hingga 50 menit setiap sesi.
“Olahraga tidak sama dengan kegiatan kita sehari-hari. Banyak yang merasa sudah capek bekerja, padahal itu bukan olahraga. Olahraga adalah aktivitas yang memang dilakukan untuk melatih tubuh,” katanya.
Selain rutin berolahraga, masyarakat juga diminta menjaga pola makan sejak usia muda. Menurutnya, kebiasaan makan yang baik akan berpengaruh terhadap kesehatan saat memasuki usia lanjut. “Kalau sudah tua baru menjaga makanan, itu sudah terlambat. Kebiasaan sejak muda akan terbawa sampai usia tua,” ujarnya.
Ia menyarankan masyarakat memperbanyak konsumsi makanan tinggi protein, tinggi serat, dan rendah lemak untuk menjaga kesehatan reproduksi serta fungsi pembuluh darah. “Untuk kesehatan reproduksi pria, kita membutuhkan makanan tinggi protein, rendah lemak, dan tinggi serat,” jelasnya.

Dokter Spesialis Andrologi Rumah Sakit Awal Bros Batam
Foto: IG Halloawalbros
Penyakit Kronis Perlu Dikendalikan
dr. Lika menegaskan, penderita hipertensi, diabetes, maupun penyakit kronis lainnya perlu mengendalikan penyakit melalui pemeriksaan dan pengobatan secara rutin. Pasalnya, penyakit tersebut dapat merusak pembuluh darah dan saraf yang berperan penting dalam fungsi seksual.
“Kalau sudah diketahui memiliki hipertensi atau diabetes, penyakitnya harus dikontrol. Tujuannya supaya pembuluh darah tetap terjaga,” katanya.
Ia menambahkan, menjaga kesehatan seksual bukan hanya berkaitan dengan hubungan suami istri, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mempertahankan kualitas hidup secara menyeluruh.
“Semakin baik pola hidup yang diterapkan sejak muda, semakin baik pula kualitas kesehatan saat memasuki usia lanjut,” pungkasnya. (***)
Reporter : ANDRIANI SUSILAWATI
Editor : TUNGGUL MANURUNG