Buka konten ini

INVESTASI pusat data (data center) senilai sekitar Rp120 triliun yang masuk ke Batam dipastikan tidak akan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar seperti industri manufaktur. Namun, investasi tersebut diyakini mampu menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru apabila pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha mampu menyiapkan sumber daya manusia (SDM) lokal yang sesuai dengan kebutuhan industri digital.
Direktur Politeknik Negeri Batam (Polibatam) Bambang Hendrawan mengatakan industri data center memiliki karakter berbeda dengan manufaktur. Kebutuhan tenaga kerjanya memang tidak banyak, tetapi menuntut kompetensi tinggi di bidang teknologi informasi, kelistrikan, sistem pendingin, jaringan komputer, komputasi awan (cloud computing), hingga keamanan siber.
Menurut dia, peluang kerja akan terbuka sejak tahap pembangunan hingga operasional. Pada masa konstruksi dibutuhkan tenaga sipil, mekanikal, elektrikal, serta jaringan. Setelah beroperasi, kebutuhan bergeser kepada teknisi data center, operator jaringan, facility engineer, hingga tenaga ahli AI dan keamanan siber.
”Investasi data center memang tidak menciptakan lapangan kerja sebanyak industri manufaktur. Tetapi kualitas pekerjaan yang tercipta jauh lebih tinggi karena membutuhkan SDM yang memiliki kompetensi dan sertifikasi khusus,” kata Bambang kepada Batam Pos, Jumat (10/7).
Ia menilai manfaat investasi tidak boleh hanya diukur dari jumlah pekerja yang direkrut langsung operator data center. Dampak yang jauh lebih besar justru muncul melalui tumbuhnya ekosistem industri digital yang melibatkan kontraktor lokal, perusahaan teknologi, penyedia layanan jaringan, logistik, hingga pelaku usaha pendukung lainnya.
”Data center jangan berhenti hanya menjadi bangunan server. Yang harus dibangun adalah ekosistem digitalnya sehingga manfaat ekonominya mengalir lebih luas kepada masyarakat,” ujarnya.
Karena itu, Bambang meminta pemerintah, investor, perguruan tinggi, SMK, hingga balai latihan kerja mulai menyusun kebutuhan SDM secara bersama. Menurutnya, kurikulum, sertifikasi, dan program magang harus disesuaikan dengan kebutuhan industri sejak sekarang.
”Jangan menunggu fasilitasnya selesai dibangun. Ketika investasi masuk, SDM lokal juga harus sudah siap,” katanya.
APINDO: Investasi Tetap Jadi Motor Ekonomi
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Batam, Rafki, juga mengatakan meski tidak menyerap tenaga kerja sebanyak industri manufaktur, investasi sekitar Rp120 triliun tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi Batam.
”Rp120 triliun itu sudah sangat besar. Ini akan menggerakkan ekonomi Batam. Ketika investasi meningkat, pertumbuhan ekonomi juga akan ikut terdorong,” ujarnya.
Menurut Rafki, kehadiran perusahaan teknologi global, termasuk Nvidia, akan meningkatkan kepercayaan investor internasional terhadap Batam. Dampaknya bukan hanya pada sektor digital, tetapi juga membuka peluang bagi perusahaan lokal menjadi kontraktor maupun penyedia jasa pendukung.
”Data center akan membentuk ekosistem sendiri. Perusahaan lokal akan ikut terlibat, kemudian mereka merekrut tenaga kerja baru. Jadi peluang kerja tetap terbuka meski tidak secara langsung di operator data center,” katanya.
Ia juga menilai sektor teknologi informasi akan menjadi salah satu bidang yang tumbuh paling pesat seiring berkembangnya industri pusat data di Batam.
Di sisi lain, Rafki mengingatkan pemerintah tetap harus menjamin ketersediaan listrik dan air bersih agar ekspansi industri digital tidak mengganggu kebutuhan masyarakat.
Menurut dia, pembangunan pembangkit listrik baru oleh PLN Batam serta peningkatan kapasitas penyediaan air menjadi langkah positif untuk mengantisipasi kebutuhan tersebut.
Baik Bambang maupun Rafki sepakat, keberhasilan Batam sebagai pusat data center tidak cukup diukur dari besarnya investasi yang masuk, tetapi juga dari kemampuan daerah menyiapkan SDM lokal, melibatkan pelaku usaha setempat, dan memastikan manfaat ekonomi dirasakan masyarakat luas.
Investor Minati Data Center 1,3 GW
Sementara itu, Pemerintah Pusat mengungkap minat investasi pembangunan pusat data (data center) di Indonesia terus meningkat. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyebut total kapasitas proyek yang tengah diminati investor mencapai sekitar 1,3 gigawatt (GW).
Saat ini kapasitas data center yang telah beroperasi di Indonesia baru sekitar 580 megawatt (MW). Karena itu, tambahan investasi baru diperkirakan mencapai 15 miliar hingga 20 miliar dolar AS, termasuk proyek yang sedang dikembangkan di Batam.
”Yang sekarang di Batam investasinya sekitar 15 sampai 20 miliar dolar AS dan sudah masuk on the pipeline,” ujar Airlangga, Jumat (10/7).
Menurut dia, salah satu calon investor adalah perusahaan teknologi asal Amerika Serikat, Nvidia, yang akan bekerja sama dengan mitra dari Australia. Selain itu, Telkom Indonesia dan sejumlah perusahaan teknologi global juga berencana memperluas investasi pusat data di Indonesia.
Airlangga mengatakan pemerintah tidak hanya mengejar masuknya investasi, tetapi juga menyiapkan SDM untuk mendukung pertumbuhan industri digital. Pemerintah telah bekerja sama dengan perusahaan semikonduktor asal Inggris, Arm Ltd., untuk menyiapkan sekitar 15 ribu insinyur yang akan menjadi bagian dari ekosistem industri digital nasional.
”Kuncinya adalah SDM. Investasi sebesar apa pun tidak akan optimal tanpa tenaga kerja yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri digital,” katanya. (***)
Reporter : M. SYA’BAN – JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK