Buka konten ini

NATUNA (BP) – Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna terus memperkuat upaya percepatan eliminasi tuberkulosis (TB) dengan mengoptimalkan peran kader kesehatan di setiap puskesmas. Selain meningkatkan deteksi dini, kepatuhan pasien menjalani pengobatan hingga tuntas dinilai menjadi faktor utama dalam memutus rantai penularan penyakit tersebut.
Technical Officer (TO) Tuberkulosis Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna, Doddy Satrianto, mengatakan TB merupakan penyakit menular yang menyebar melalui percikan dahak (droplet) saat penderita batuk atau bersin. Karena itu, pasien harus menjalani pengobatan secara lengkap agar dapat sembuh dan tidak menularkan penyakit kepada orang lain.
”Tanpa pengobatan yang tuntas, TB dapat menimbulkan komplikasi serius bahkan berujung pada kematian,” ujar Doddy di Ranai, Jumat (10/7).
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna hingga Juni 2026, sebanyak 60 pasien TB sedang menjalani pengobatan. ”Saat ini ada 60 pasien TB yang diobati di Kabupaten Natuna,” katanya.
Doddy menjelaskan, pengobatan TB berlangsung selama enam bulan dan pasien wajib mengonsumsi obat setiap hari sesuai jadwal. Karena itu, dukungan keluarga sangat dibutuhkan untuk memastikan tidak ada dosis obat yang terlewat.
”Obat harus diminum setiap hari. Selain itu, pasien juga perlu menjaga lingkungan hidup tetap bersih dan sehat,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan pengendalian TB tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan, tetapi juga peran aktif kader TB di setiap puskesmas. Kader berperan memberikan edukasi kepada masyarakat, mendampingi pasien selama menjalani pengobatan, serta melakukan penemuan kasus secara aktif di lingkungan masing-masing.
Ia berharap pelatihan bagi kader TB terus dilakukan agar kemampuan mereka dalam mendeteksi, mendampingi, dan mengedukasi masyarakat semakin meningkat.
”Indonesia menargetkan eliminasi TB pada 2030. Kami berharap Kabupaten Natuna juga dapat mencapai target tersebut,” katanya.
Pemerintah Kabupaten Natuna sendiri terus mengintensifkan program percepatan eliminasi TB dengan melibatkan masyarakat, kader kesehatan, dan tenaga medis sebagai garda terdepan dalam menemukan kasus, mendampingi pasien hingga sembuh, serta memutus rantai penularan. (*)
Laporan: FAIDILLAH
Editor : GUSTIA BENNY