Buka konten ini
INGGRIS (BP) – Coco Gauff harus menelan salah satu kekalahan paling menyakitkan dalam kariernya setelah gagal mengamankan tiket ke final Wimbledon 2026. Petenis Amerika Serikat itu sebenarnya hanya membutuhkan satu poin lagi untuk mencatatkan penampilan perdananya di partai puncak All England Club. Namun, sebuah keputusan pada momen krusial justru mengubah arah pertandingan dan membuatnya menyerah secara dramatis dari Karolina Muchova dengan skor 2-6, 6-1, 6-7 (10-12).
Di bawah terik matahari Centre Court, Gauff menunjukkan mental luar biasa sepanjang pertandingan. Setelah kehilangan set pertama, petenis berusia 22 tahun itu bangkit dengan permainan agresif untuk mendominasi set kedua dan memaksa laga berlanjut hingga set penentuan.
Pertarungan semakin menegangkan ketika kedua pemain saling kejar poin dalam tiebreak set ketiga. Momentum seolah berpihak kepada Gauff saat ia unggul 10-9 dan memperoleh match point. Kesempatan emas itu datang setelah servis kerasnya memaksa Muchova keluar dari posisi ideal. Bola pengembalian lawannya melambung pendek dan menyisakan area lapangan yang terbuka lebar.
Dalam situasi tersebut, Gauff memilih memainkan dropshot ketimbang melepaskan pukulan keras untuk mengakhiri pertandingan. Keputusan itu justru menjadi titik balik. Bola gagal melewati net sehingga Muchova berhasil bertahan dan menghidupkan kembali peluangnya.
“Itu keputusan yang saya ambil. Apakah itu keputusan yang tepat saat itu? Mungkin tidak,” ujar Gauff seusai pertandingan, dikutip dari The New York Times.
Kegagalan memanfaatkan match point membuat kepercayaan diri Muchova meningkat. Petenis Republik Ceko itu memanfaatkan momentum dengan sangat baik, merebut dua poin terakhir dalam tiebreak, sekaligus memastikan kemenangan dan tiket menuju final untuk menghadapi kompatriotnya, Linda Noskova.
Meski hasil akhirnya mengecewakan, penampilan Gauff sepanjang pertandingan tetap layak mendapat apresiasi. Setelah kehilangan dua gim servis di awal laga, ia mampu memperbaiki ritme permainan dan mempertahankan servisnya hingga akhir pertandingan.
Bahkan, sepanjang laga ia hanya melakukan dua kali double fault, sebuah peningkatan signifikan dibandingkan penampilannya di beberapa turnamen sebelumnya.
Dalam tiebreak penentuan, Gauff sempat melakukan double fault saat kedudukan 7-7 yang kembali memberikan keuntungan bagi Muchova. Namun, ia mampu bangkit dan kembali memperoleh match point sebelum akhirnya gagal menuntaskan peluang tersebut akibat dropshot yang tidak sempurna.
Meski harus pulang lebih cepat, Gauff menilai Wimbledon tahun ini menjadi salah satu turnamen terbaik dalam perjalanan kariernya. Ia mengaku datang ke London tanpa ekspektasi tinggi setelah kesulitan beradaptasi di lapangan rumput dalam dua musim terakhir. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO