Buka konten ini

WASHINGTON (BP) – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat tajam. Militer AS melancarkan serangan besar-besaran ke lebih dari 80 target di Iran, Selasa (8/7), sebagai respons atas dugaan serangan Teheran terhadap tiga kapal dagang yang melintas di Selat Hormuz.
Iran tidak tinggal diam. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) membalas dengan meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain. Eskalasi terbaru ini memicu kekhawatiran internasional terhadap potensi runtuhnya gencatan senjata yang selama ini menjadi dasar proses negosiasi kedua negara.
Konflik kembali memanas ketika Washington dan Teheran sejatinya masih berupaya merundingkan kesepakatan permanen untuk mengakhiri perang yang pecah setelah serangan gabungan AS dan Israel ke Iran pada Februari lalu.
Selain memperburuk situasi keamanan di kawasan, eskalasi konflik juga memicu lonjakan harga minyak dunia. Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak global sehingga setiap gangguan di kawasan tersebut langsung memengaruhi pasar energi internasional.
Komando Pusat Militer Amerika Serikat (Centcom) menyatakan operasi militer itu dilakukan sebagai respons terhadap serangan Iran terhadap kapal-kapal komersial di jalur pelayaran internasional.
“Pasukan Komando Pusat AS telah mulai meluncurkan serangkaian serangan kuat terhadap Iran untuk membebankan biaya berat atas tindakan menyerang kapal komersial yang diawaki warga sipil tak berdosa di jalur air internasional,” tulis Centcom melalui akun resmi X.
Centcom menilai serangan terhadap tiga kapal dagang tersebut merupakan tindakan agresif yang tidak dapat dibenarkan sekaligus melanggar kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya telah disepakati kedua negara.
Iran Balas dengan Rudal dan Drone
Sebagai balasan, IRGC mengumumkan telah melancarkan operasi gabungan rudal dan drone yang menyasar sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Target serangan meliputi Bandar Salman, markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain, serta Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait. Iran juga mengklaim berhasil menembak jatuh satu unit drone pengintai MQ-9 milik AS.
Serangan balasan tersebut mengingatkan pada eskalasi yang terjadi pada akhir Juni lalu ketika Iran menyerang kapal dagang di Selat Hormuz, yang kemudian dibalas operasi militer AS sebelum Teheran kembali meluncurkan serangan ke Bahrain dan Kuwait.
Di saat bersamaan, pemerintah AS mencabut pengecualian sementara terhadap sanksi yang sebelumnya masih memperbolehkan ekspor minyak Iran ke pasar global.
Departemen Keuangan AS menyatakan seluruh aktivitas produksi, pengiriman, dan penjualan minyak Iran harus dihentikan paling lambat 17 Juli, lebih cepat dibanding tenggat sebelumnya pada 21 Agustus.
Washington menuduh Iran berada di balik serangan terhadap tiga kapal tanker berbendera Liberia, Arab Saudi, dan Kepulauan Marshall.
Salah satu kapal tanker dilaporkan terbakar setelah diserang di lepas pantai Oman, berdasarkan laporan United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO). Sementara dua kapal lainnya mengalami kerusakan ringan dan tetap melanjutkan pelayaran tanpa korban jiwa.
Televisi pemerintah Iran menyebut kapal pengangkut gas alam cair tersebut diserang setelah mengabaikan peringatan, namun tidak secara eksplisit mengakui keterlibatan Iran dalam insiden tersebut.
Harga Minyak Naik, Diplomasi Kembali Terhambat
Meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk langsung berdampak pada pasar energi global. Berdasarkan laporan NBC News, harga minyak dunia melonjak hampir enam persen, dari sekitar USD69 menjadi mendekati USD73 per barel hanya dalam waktu singkat.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Hukum dan Internasional, Kazem Gharibabadi, menilai serangan militer AS serta pencabutan keringanan sanksi melanggar nota kesepahaman yang sebelumnya disepakati kedua negara pada pertengahan Juni.
Melalui akun X, Gharibabadi menegaskan Iran akan mengambil langkah yang dianggap perlu untuk melindungi kepentingan nasionalnya.
Padahal, nota kesepahaman tersebut membuka ruang negosiasi selama 60 hari guna membahas penyelesaian konflik, termasuk pembatasan program nuklir Iran dan pengelolaan cadangan uranium yang diperkaya.
Namun, proses diplomasi kembali menemui jalan buntu. Utusan khusus Presiden Donald Trump, Steve Witkoff, bersama Jared Kushner memang sempat menggelar pembicaraan dengan mediator Qatar di Doha pekan lalu, tetapi tidak bertemu langsung dengan delegasi Iran.
Di sisi lain, Iran masih menggelar prosesi pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang tewas pada fase awal perang. Kondisi tersebut diperkirakan semakin menunda upaya diplomasi antara kedua negara. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK