Buka konten ini

MASUKNYA investasi data center dan industri kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) senilai lebih dari Rp120 triliun ke Batam memunculkan kekhawatiran masyarakat terkait ketersediaan air bersih dan listrik, sebab data center butuh air dan listrik dalam jumlah besar.

Menjawab kekhawatiran tersebut, Kepala BP Batam yang juga Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap menjadi prioritas dan tidak akan terganggu oleh ekspansi industri digital.
Menurut Amsakar, setiap proposal investasi yang masuk selalu dibahas secara mendalam bersama investor, termasuk menyangkut kesiapan pasokan listrik dan air bersih.
Pemerintah, kata dia, tidak akan memberikan persetujuan terhadap investasi apabila belum tersedia solusi yang jelas terkait kebutuhan utilitas.
“Kalau seandainya kita menerima investasi, lalu air tidak ada langkah antisipasi dan listrik juga tidak ada langkah antisipasi, itu justru akan mengurangi kepercayaan publik terhadap harapan kita menjadikan Batam sebagai lokomotif investasi nasional,” ujar Amsakar, Rabu (8/7).
Ia mencontohkan pembahasan yang dilakukan saat BP Batam menerima rencana investasi dari DayOne, perusahaan data center yang akan membangun pusat data berskala besar di Batam. Dalam pertemuan tersebut, pemerintah tidak hanya membahas nilai investasi, tetapi juga memastikan kebutuhan air dan listrik dapat dipenuhi tanpa mengurangi pelayanan kepada masyarakat.
Amsakar mengungkapkan, pemerintah secara terbuka menyampaikan keterbatasan jaringan distribusi air bersih di sejumlah kawasan kepada calon investor. Apabila perusahaan tetap ingin berinvestasi di lokasi tersebut, investor diminta ikut membangun infrastruktur pendukung.
“Kami sampaikan bahwa kami ada problem pada sarana air bersih dari titik A ke titik B. Kalau Anda siap berinvestasi di sana, apakah bersedia ikut membangun? Mereka menyatakan oke,” katanya.
Selain jaringan distribusi, pemerintah juga membahas kebutuhan penambahan infrastruktur untuk mengantisipasi berkurangnya cadangan air baku di masa mendatang. Menurut Amsakar, investor menyatakan kesediaannya membangun fasilitas pendukung yang diperlukan.
“Cadangan air kita pasti akan berkurang ke depan. Kami tanyakan apakah mereka siap membangun infrastrukturnya. Mereka sepakati. Dalam jangka waktu tertentu aset itu nantinya akan diserahkan kepada pemerintah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pada tahap awal investor bahkan bersedia membiayai pembangunan jaringan perpipaan guna mendukung operasional kawasan data center. Dengan skema tersebut, kebutuhan utilitas industri tidak akan mengambil porsi distribusi air bersih yang selama ini digunakan masyarakat.
“Artinya kapasitas air dan listrik ini sudah kami bahas bersama mitra yang berminat berinvestasi di Batam. Plus minusnya sudah dibahas dan langkah antisipasinya juga sudah dibahas,” katanya.
Amsakar juga meluruskan anggapan yang mengaitkan gangguan distribusi air di sejumlah wilayah, seperti Sengkuang dan Batuampar, dengan keberadaan data center. Menurut dia, sebagian besar proyek pusat data tersebut masih berada pada tahap pembangunan sehingga belum menggunakan air dalam skala operasional.
“Data center belum berjalan, airnya sudah kering, jangan disalahkan data center,” tegasnya.
Ia menilai persoalan distribusi air yang terjadi saat ini merupakan tantangan lama yang harus diselesaikan melalui pembangunan infrastruktur air bersih yang lebih memadai.
Siapkan SDM Hadapi Industri Digital
Selain isu utilitas, Amsakar juga menanggapi anggapan bahwa industri data center tidak mampu menyerap tenaga kerja sebanyak sektor manufaktur. Menurutnya, investasi digital memang membutuhkan sumber daya manusia dengan kompetensi yang berbeda sehingga pemerintah harus menyesuaikan arah pembangunan SDM.
“Yang harus dilakukan sekarang adalah mempersiapkan SDM yang mampu memenuhi kebutuhan pasar kerja yang baru,” ujarnya.
Amsakar optimistis kehadiran data center akan menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian Batam. Pada tahap pembangunan saja, proyek tersebut telah melibatkan sektor konstruksi, logistik, penyedia lahan, hingga berbagai jasa pendukung.
Ketika mulai beroperasi, dampaknya diperkirakan semakin luas dengan mendorong pertumbuhan sektor properti, transportasi, perdagangan, jasa, pariwisata, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Tidak hanya tenaga kerja formal. Kuliner akan tumbuh, transportasi hidup, properti bergerak, perdagangan jasa berkembang, dan sektor informal juga ikut menikmati dampaknya,” kata Amsakar.
Karena itu, Pemerintah Kota Batam mulai menyiapkan berbagai program peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan agar tenaga kerja lokal memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri digital.
Menurut Amsakar, transformasi investasi dari sektor manufaktur menuju industri berteknologi tinggi sejauh ini belum berdampak negatif terhadap pasar tenaga kerja. Berdasarkan data pemerintah, tingkat pengangguran pada 2025 justru mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya meski arus migrasi ke Batam masih tinggi. Di sisi lain, angka kemiskinan juga terus menunjukkan tren menurun seiring meningkatnya realisasi investasi.
“Meski penurunan angka pengangguran belum besar, trennya terus menurun, padahal investasi yang masuk sekarang bukan lagi didominasi industri manufaktur padat karya,” ujarnya.
Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan transformasi struktur ekonomi Batam mulai menghasilkan dampak positif. Karena itu, pemerintah akan terus mendorong masuknya investasi berteknologi tinggi sembari memastikan penyediaan air bersih, listrik, dan kesiapan sumber daya manusia berjalan seiring sehingga manfaat investasi dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat Batam.
Sebelumnya, Pengamat ekonomi Universitas Batam, Dr. Mohamad Gita Indrawan, menilai menilai pemerintah telah mengambil langkah yang tepat melalui penguatan sistem kelistrikan, peningkatan kapasitas pembangkit, pengembangan energi baru terbarukan, hingga rencana pembangunan Green Super Grid yang akan memperkuat keandalan pasokan listrik bagi kawasan industri digital, dalam hal ini adalah data center.
Berbeda dengan sektor energi yang terus diperkuat, tantangan penyediaan air memerlukan perhatian yang tidak kalah serius.
Menurut Gita, kebutuhan air pusat data modern memang jauh lebih efisien dibandingkan generasi sebelumnya karena sebagian besar telah menggunakan teknologi closed-loop cooling yang membuat air terus bersirkulasi di dalam sistem pendinginan. Teknologi tersebut mampu menekan kebutuhan air baru secara signifikan dibandingkan sistem pendinginan konvensional.
Namun, efisiensi teknologi tidak serta-merta menghilangkan pentingnya menjaga ketahanan air baku Batam.
Sebagai kota kepulauan yang mengandalkan waduk sebagai sumber utama air baku, Batam tetap harus memperhitungkan pertumbuhan kebutuhan air dari sektor rumah tangga, industri manufaktur, kawasan komersial, hingga investasi digital yang terus berkembang.
Karena itu, pembangunan waduk baru, peningkatan kapasitas instalasi pengolahan air, pemanfaatan air daur ulang untuk kebutuhan industri, hingga pengembangan teknologi desalinasi perlu mulai dipersiapkan sebagai bagian dari strategi jangka panjang.
“Investasi digital memang membawa peluang besar bagi Batam. Namun keberhasilannya akan sangat ditentukan oleh kemampuan kita menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, ketahanan energi, ketahanan air, dan keberlanjutan lingkungan. Infrastruktur dasar harus tumbuh seiring dengan laju investasi agar manfaatnya benar-benar dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang,” tegasnya.
Menurut Gita, keberhasilan Batam menjadi pusat ekonomi digital Asia Tenggara pada akhirnya tidak hanya diukur dari banyaknya pusat data yang berdiri ataupun besarnya nilai investasi yang masuk. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana seluruh pertumbuhan tersebut mampu menciptakan ekosistem yang sehat, memperkuat daya saing daerah, melahirkan talenta digital lokal, sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya alam.
“Transformasi menuju digital hub bukan perlombaan membangun gedung pusat data. Yang jauh lebih penting adalah memastikan seluruh fondasi pendukungnya ikut tumbuh secara seimbang. Jika itu mampu dilakukan, Batam tidak hanya tujuan investasi, tetapi juga salah satu pusat ekonomi digital paling kompetitif di Asia Tenggara,” pungkasnya. (***)
Reporter : M. SYA’BAN – EUSEBIUS SARA
Editor : RATNA IRTATIK