Buka konten ini
BATAM (BP) – Penyesuaian tarif pass penumpang domestik di pelabuhan Batam resmi berlaku mulai 1 Juli 2026. Kebijakan ini berdampak langsung terhadap biaya perjalanan kapal PT Pelni di Terminal Bintang 99 Persada, Batu Ampar, dengan lonjakan kenaikan tarif pass mencapai sekitar 250 persen, dari Rp10.000 menjadi Rp35.000 per orang.
Kenaikan signifikan ini merupakan tindak lanjut dari berlakunya Peraturan Kepala BP Batam Nomor 4 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Kepelabuhanan di Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam.
Di balik kenaikan tersebut, BP Batam menegaskan bahwa kebijakan itu bukan sekadar menambah beban biaya masyarakat. Otorita pelabuhan beralasan, penyesuaian tarif merupakan bagian dari transformasi pelayanan total setelah operasional kapal Pelni dipindahkan dari pelabuhan bongkar muat Batu Ampar menuju Terminal Khusus Bintang 99 Persada.
Direktur Badan Pengelolaan dan Pengusahaan Kepelabuhanan BP Batam, Benny Syahroni, mengatakan bahwa selama ini penumpang Pelni terpaksa diberangkatkan dari pelabuhan barang. Kondisi tersebut dinilai tidak layak karena penumpang harus berjalan kaki di tengah lalu lintas alat berat dan aktivitas logistik yang membahayakan keselamatan.
“Penyesuaian tarif ini bukan sekadar menaikkan angka, melainkan sebuah langkah transformasi besar untuk menghadirkan pelayanan pelabuhan yang jauh lebih aman, nyaman, dan manusiawi bagi masyarakat Batam,” kata Benny, Rabu (1/7).
Menurut Benny, komponen terbesar dari penyesuaian tarif ini dialokasikan untuk investasi pengoperasian terminal khusus penumpang melalui skema Kerja Sama Operasi (KSO) antara BP Batam dan mitra. Investasi tersebut meliputi alih fungsi terminal, sterilisasi kawasan operasional, hingga pembangunan berbagai fasilitas standar pelayanan kapal penumpang berkapasitas besar.
Fasilitas Baru Diklaim Sudah Beroperasi
BP Batam menegaskan peningkatan pelayanan ini bukan lagi sebatas rencana di atas kertas. Sejumlah fasilitas baru diklaim telah beroperasi dan dapat langsung digunakan masyarakat sejak terminal baru difungsikan.
Fasilitas tersebut di antaranya; Gedung terminal keberangkatan yang dilengkapi pendingin ruangan (AC), ruang tunggu penumpang yang jauh lebih luas, kanopi berukuran besar untuk melindungi ribuan calon penumpang dari panas dan hujan, covered walkway (koridor pejalan kaki beratap) yang menghubungkan langsung gedung terminal dengan dermaga kapal, dan area parkir kendaraan yang lebih luas serta area kantin dengan konsep pelayanan menyerupai bandara.
“Perbedaannya sangat kontras dibanding pelayanan sebelumnya di Batu Ampar. Penumpang sekarang memperoleh fasilitas yang memang disiapkan khusus untuk perjalanan laut,” jelas Benny.
Benny juga menilai tarif Rp35.000 masih kompetitif dan berada di bawah tarif sejumlah pelabuhan utama di Indonesia yang rata-rata berkisar antara Rp37.500 hingga Rp47.500. Di samping itu, sistem pembatasan akses yang ketat diklaim menguntungkan PT Pelni karena dapat menekan potensi kebocoran penumpang tanpa tiket.
Sementara itu, Kepala Operasional PT Pelni Cabang Batam, Mulyadi, memastikan kenaikan tarif pass pelabuhan ini otomatis memengaruhi harga total tiket kapal Pelni mulai 1 Juli 2026. Ia mengimbau masyarakat untuk membeli tiket melalui kanal resmi dan memperhatikan penyesuaian tarif terbaru sebelum melakukan perjalanan.
Masyarakat Soroti Fasilitas dan Akses Jalan Rusak
Meskipun BP Batam menjanjikan transformasi pelayanan, kenaikan tarif hingga 250 persen ini tetap menuai beragam tanggapan dari para pengguna jasa. Sebagian besar penumpang mengaku tidak keberatan, asalkan fasilitas yang dijanjikan benar-benar terwujud dan konsisten.
Rina, salah seorang warga, menilai kenaikan tarif ini sah-sah saja asalkan uang yang dibayarkan masyarakat sebanding dengan kualitas yang didapatkan di lapangan. Namun, ia memberikan catatan kritis mengenai akses jalan menuju pelabuhan.
“Kalau memang fasilitasnya diperbaiki dan ruang tunggunya nyaman, saya rasa tidak masalah. Yang penting sebanding. Tapi, tolong perhatikan juga akses ke pelabuhan. Jalan di sekitar simpang pintu masuk hingga sepanjang Jalan Duyung itu kerap dipenuhi kubangan dan banjir saat hujan. Itu sangat membahayakan penumpang,” kritik Rina.
Keluhan senada disampaikan Charles, warga lainnya. Ia berharap BP Batam dan instansi terkait tidak hanya fokus membenahi area dalam pelabuhan, tetapi juga infrastruktur luar pelabuhan yang menjadi akses utama masyarakat.
“Kalau kapal Pelni datang, arus kendaraan meningkat dan jalan rusak itu selalu bikin macet parah dan semrawut. Harapan kami, jangan cuma tarifnya naik tinggi, tapi jalan masuk ke pelabuhan juga harus diperbaiki dan ditingkatkan,” kata Charles. (***)
Reporter : M. SYA’BAN – RENGGA YULIANDRA
Editor : MUHAMMAD NUR
