Buka konten ini

SAGULUNG (BP) – Sebanyak 568 siswa SD Negeri 010 Sagulung menjalani skrining kesehatan mata gratis dalam rangka Hari Bakti Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) ke-62, Rabu (22/7). Kegiatan tersebut sekaligus menandai peluncuran Vision Center pertama di Kepulauan Riau yang berpusat di UPTD Puskesmas Sungai Lekop sebagai pusat layanan skrining kesehatan mata bagi masyarakat Batam.
Program ini merupakan kolaborasi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam bersama Perdami, Vision Center, UPTD Puskesmas Sungai Lekop, Rumah Sakit Awal Bros, dan Ikatan Profesi Optometris Indonesia (Iropin).
Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam dr. Didi Kusmarjadi mengatakan, pemeriksaan mata terhadap ratusan siswa tersebut merupakan bagian dari implementasi Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dipadukan dengan peringatan Hari Bakti Perdami ke-62.
Menurutnya, pelaksanaan skrining pada awal tahun ajaran baru menjadi momentum yang tepat karena kesehatan mata memiliki peran penting dalam mendukung proses belajar siswa.
”Momentum ini sangat tepat karena bertepatan dengan tahun ajaran baru. Pemeriksaan kesehatan mata sangat penting bagi anak-anak sekolah, sebab mata merupakan fungsi utama dalam proses belajar. Jika ada gangguan penglihatan, tentu akan memengaruhi kemampuan mereka menerima pelajaran di kelas,” ujarnya.
Didi menjelaskan, kehadiran Vision Center di UPTD Puskesmas Sungai Lekop merupakan bagian dari transformasi layanan kesehatan primer yang kini lebih menitikberatkan upaya promotif dan preventif melalui deteksi dini penyakit.
Menurut dia, fasilitas tersebut akan menjadi layanan unggulan yang berfokus pada skrining kesehatan mata sehingga masyarakat dapat mendeteksi gangguan penglihatan sejak dini sebelum berkembang menjadi penyakit yang lebih serius.
”Vision Center ini menjadi layanan unggulan di Puskesmas Sungai Lekop yang fokus pada skrining kesehatan mata. Masyarakat dapat melakukan pemeriksaan sejak dini sehingga gangguan mata bisa diketahui lebih cepat dan tidak berkembang menjadi penyakit yang lebih berat,” katanya.
Ia menambahkan, Vision Center akan dilengkapi ruang pelayanan khusus sehingga masyarakat dapat memperoleh layanan pemeriksaan mata di tingkat puskesmas tanpa harus langsung ke rumah sakit.
Apabila hasil skrining menunjukkan adanya gangguan yang membutuhkan penanganan dokter spesialis, pasien akan dirujuk ke rumah sakit. Menurut Didi, sistem tersebut membuat pelayanan menjadi lebih efektif karena proses penyaringan kasus dilakukan terlebih dahulu di puskesmas.
”Kalau memang ditemukan gangguan yang membutuhkan penanganan dokter spesialis, pasien akan dirujuk ke rumah sakit. Dengan sistem ini pelayanan menjadi lebih efektif karena skrining awal dilakukan di puskesmas, sementara kasus yang membutuhkan tindakan lanjutan baru dirujuk,” jelasnya.
Didi memastikan masyarakat yang membutuhkan pengobatan lanjutan tetap dapat memanfaatkan BPJS Kesehatan maupun Program Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) Kota Batam sehingga tidak terbebani biaya pelayanan.
Ia berharap Vision Center dapat memperluas akses layanan kesehatan mata, khususnya bagi masyarakat di wilayah Sagulung dan Batuaji, sekaligus mempercepat deteksi dini gangguan penglihatan untuk menekan risiko kebutaan.
Sementara itu, Ketua Panitia sekaligus dokter spesialis mata, dr. Hafizah, mengatakan Vision Center dibangun untuk mendekatkan layanan kesehatan mata kepada masyarakat. Meski Puskesmas Sungai Lekop belum memiliki dokter spesialis mata, fasilitas tersebut akan menjadi pusat skrining awal bagi masyarakat sebelum dirujuk ke rumah sakit apabila diperlukan.
”Walaupun di Puskesmas Sungai Lekop belum ada dokter spesialis mata, kami mengupayakan hadirnya layanan unggulan ini. Vision Center nantinya menjadi pusat skrining awal bagi empat hingga lima puskesmas di wilayah Sagulung dan Batuaji sebelum pasien dirujuk ke rumah sakit jika memang membutuhkan penanganan lebih lanjut,” ujarnya.
Menurut Hafizah, Vision Center tidak hanya menyasar anak usia sekolah, tetapi juga masyarakat lanjut usia yang berisiko mengalami gangguan penglihatan hingga kebutaan akibat komplikasi penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi.
Pada kegiatan perdana tersebut, seluruh siswa kelas II hingga VI SD Negeri 010 Sagulung menjalani pemeriksaan ketajaman penglihatan. Siswa dengan hasil pemeriksaan normal langsung menyelesaikan proses skrining, sedangkan yang terindikasi mengalami gangguan menjalani pemeriksaan refraksi lanjutan untuk mengetahui adanya kelainan seperti rabun jauh (minus), rabun dekat (plus), astigmatisme (silinder), maupun kombinasi kelainan refraksi.
Dari hasil skrining awal, diperkirakan sekitar 10 persen siswa mengalami kelainan refraksi yang berpotensi mengganggu proses belajar apabila tidak segera ditangani.
Hafizah mengatakan siswa dari keluarga kurang mampu yang membutuhkan kacamata akan memperoleh bantuan secara gratis. Selain itu, kondisi kesehatan mata mereka akan dipantau melalui pemeriksaan berkala setiap enam bulan oleh petugas Vision Center. (***)
Reporter : RENGGA YULIANDRA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO
