Buka konten ini

ISTANBUL (BP) – Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mulai kembali normal meski sempat diwarnai serangan terhadap kapal kontainer Ever Lovely. Jalur pelayaran strategis dunia itu tetap dilalui kapal-kapal niaga dan tanker minyak di kedua arah hingga Jumat (26/6).
Serangan terhadap Ever Lovely pada Kamis (25/6) menjadi insiden pertama sejak Amerika Serikat (AS) dan Iran menandatangani kesepakatan damai sementara. Insiden tersebut membuat sejumlah pemilik kapal menunda atau mengevaluasi kembali rencana pelayaran mereka keluar dari kawasan Teluk.
Bahkan, sedikitnya satu perusahaan pelayaran asal Asia meminta armadanya tetap berada di Teluk sembari menunggu hasil evaluasi terhadap kondisi keamanan. Meski demikian, data pelacakan kapal menunjukkan insiden tersebut tidak menghentikan pemulihan lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz.
Pada Jumat, dua kapal tanker bermuatan penuh tercatat keluar dari Teluk. Sementara empat Very Large Crude Carrier (VLCC) atau kapal tanker minyak berukuran sangat besar memasuki kawasan melalui pesisir Oman.
Rute pelayaran di sisi selatan dikelola Oman dengan koordinasi Amerika Serikat.
Jalur tersebut dilalui sejumlah kapal tanker, termasuk tanker Aframax tujuan India dan kapal tanker kecil yang masuk daftar sanksi AS.
Selain itu, sebuah VLCC bermuatan minyak mentah dari Uni Emirat Arab (UEA) juga memasuki Selat Hormuz, disusul kapal tanker produk dari negara yang sama.
Di jalur sebaliknya, sebuah VLCC kosong menuju Basrah, Irak, bersama tiga kapal lain yang terkait dengan UEA memasuki perairan tersebut. Sebuah kapal pengangkut gas alam cair (LNG) di lepas pantai Khor Fakkan juga terpantau bersiap melintasi selat.
Sebagian kapal memilih menggunakan koridor utara yang berada dekat wilayah Iran. Jalur yang diakui Organisasi Maritim Internasional (IMO) itu dilalui kapal tanker berbendera Korea Selatan, kapal tanker tujuan Indonesia, hingga kapal pengangkut curah.
Data perusahaan pemantau maritim Windward menunjukkan sebanyak 62 kapal melintasi Selat Hormuz pada 24 Juni. Rinciannya, 21 kapal masuk dan 41 kapal keluar dari kawasan Teluk.
Sebanyak lima pelayaran tercatat sebagai transit gelap, yakni kapal yang mematikan atau membatasi sinyal Automatic Identification System (AIS) sehingga sulit dipantau.
Lalu lintas keluar didominasi koridor selatan dengan 26 dari 41 kapal menggunakan jalur tersebut, sedangkan koridor utara tetap menjadi jalur utama bagi kapal yang memasuki Teluk.
Data juga memperlihatkan dua VLCC sepanjang 333 meter meninggalkan koridor selatan hanya berselang satu menit. Selain itu, sebuah VLCC berbendera Korea Selatan yang tertahan di Teluk sejak Februari akhirnya mulai berlayar, menandakan antrean kapal yang sempat terhenti perlahan mulai terurai.
Di sisi lain, pengelolaan Selat Hormuz masih menjadi isu sensitif dalam perundingan AS dan Iran. Washington menegaskan Teheran tidak boleh mengenakan biaya tol bagi kapal yang melintas apabila ingin mencapai kesepakatan damai permanen.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga memperingatkan bahwa penerapan biaya transit dapat memicu negara lain melakukan hal serupa di jalur-jalur pelayaran strategis dunia sehingga berpotensi mengganggu perdagangan internasional.
AS bahkan meminta Oman tidak membentuk mekanisme pengenaan tarif bersama Iran. Sebelumnya, Oman dan Iran menyatakan akan membahas pengelolaan lalu lintas dan biaya terkait di Selat Hormuz. Namun, menurut Rubio, pemerintah Oman telah memastikan tidak mendukung penerapan pungutan tersebut.
Sementara itu, aktivitas ekspor gas alam cair Qatar juga mulai meningkat. Sedikitnya delapan kapal tanker LNG kosong terlihat meninggalkan terminal Ras Laffan, salah satu pusat produksi LNG terbesar di dunia.
Penumpukan armada tersebut mengindikasikan Qatar bersiap meningkatkan ekspor LNG seiring pulihnya lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz setelah berbulan-bulan terganggu akibat konflik kawasan. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK