Buka konten ini

SINGAPURA (BP) – Suhu kamar tidur warga Singapura pada malam hari ternyata lebih tinggi dari kisaran yang ideal untuk tidur nyenyak. Temuan ini terungkap dalam studi pertama yang melibatkan 150 warga Singapura, yang mencatat suhu rata-rata kamar tidur mencapai 28,4 derajat Celsius.
Angka tersebut berada di atas suhu yang umumnya dianggap optimal untuk kualitas tidur, yakni berkisar di angka 20 hingga 25 derajat Celsius.
Peneliti Human Potential Translational Research Programme di NUS Yong Loo Lin School of Medicine, Michele Renard, mengatakan sebagian besar acuan suhu ideal memang berasal dari negara beriklim lebih dingin. Karena itu, penelitian ini bertujuan mengetahui kondisi yang paling sesuai bagi masyarakat yang tinggal di daerah tropis seperti Singapura.
”Suhu 28,4 derajat Celsius berada di atas kisaran yang umumnya dikaitkan dengan kualitas tidur yang baik. Namun, kami juga ingin mengetahui suhu yang benar-benar sesuai bagi masyarakat yang hidup di iklim tropis,” kata Renard.
Selama satu tahun, sebanyak 150 orang dewasa dari berbagai jenis hunian, mulai dari rumah sewa hingga rumah tapak, mengikuti penelitian tersebut.
Para peserta memasang sensor suhu di kamar tidur dan mengenakan jam tangan pintar selama dua bulan. Perangkat tersebut digunakan untuk memantau suhu ruangan, kualitas tidur, detak jantung, serta aktivitas fisik sehari-hari.
Menurut Renard, data tersebut memungkinkan peneliti menganalisis bagaimana malam dengan suhu lebih panas memengaruhi kualitas tidur dan aktivitas seseorang keesokan harinya.
AC Tidak Selalu Digunakan Saat Tidur
Penelitian juga menemukan penggunaan pendingin ruangan (AC) saat malam hari tidak setinggi yang diperkirakan.
Sekitar sepertiga responden selalu menggunakan AC, sepertiga lainnya mengombinasikan AC dan kipas angin, sementara sepertiga sisanya tidak menggunakan AC sama sekali ketika tidur.
Temuan ini menjadi penting karena Singapura termasuk negara dengan tingkat kurang tidur yang tinggi. Di sisi lain, perubahan iklim membuat suhu malam meningkat lebih cepat dibandingkan suhu siang hari.
Berdasarkan National Climate Change Study ketiga, pada 2050 diperkirakan sedikitnya 317 malam setiap tahun di Singapura akan memiliki suhu minimal 26,3 derajat Celsius, sehingga berpotensi memperburuk kualitas tidur masyarakat.
Proyek HEATS Cari Solusi Tidur Lebih Nyaman Penelitian tersebut merupakan bagian dari proyek HEATS (Heat Exposure, Activity and Sleep) yang dimulai pada 2023. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO