Buka konten ini

SINGAPURA (BP) – Nilai tukar ringgit Malaysia diperkirakan kembali melemah terhadap dolar Singapura hingga akhir 2026. Kondisi tersebut dipengaruhi ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS), ketidakpastian global, hingga dinamika politik di Malaysia.
Pelemahan ringgit diperkirakan memberi keuntungan bagi warga Singapura yang rutin berbelanja atau mengirim uang ke Malaysia karena daya beli mereka akan meningkat.
Salah satunya dirasakan Yaw Poh Ling, pekerja administrasi di Singapura yang setiap bulan mengirim uang kepada orang tuanya di Malaysia.
Perempuan berusia 52 tahun itu mengaku kini lebih cermat menentukan waktu transfer dengan terus memantau pergerakan nilai tukar melalui aplikasi perbankan.
”Saya selalu mengecek kurs di aplikasi CIMB sebelum mentransfer uang. Kalau nilainya sedang bagus, saya menukar dolar Singapura dalam jumlah lebih besar agar cukup untuk beberapa bulan,” ujarnya.
Namun, jika kurs sedang kurang menguntungkan dan kebutuhan tidak mendesak, ia memilih menunggu hingga nilai tukar membaik.
Ringgit Berpotensi Terus Melemah
Sejak awal 2026, ringgit telah melemah sekitar 0,2 persen terhadap dolar Singapura setelah pada 2025 sempat menguat sekitar 4 persen.
Pada 26 Juni, nilai tukar berada di kisaran 3,17 ringgit per dolar Singapura, mendekati level terendah enam bulan di 3,21 yang tercatat pada 22 Juni.
Bank Negara Malaysia pada 24 Juni mengumumkan akan memperkuat berbagai langkah untuk mendukung ringgit, termasuk mendorong perusahaan memulangkan dan mengonversi lebih banyak pendapatan luar negeri ke mata uang domestik.
Meski demikian, bank sentral menilai pelemahan ringgit lebih banyak dipicu faktor eksternal dibandingkan kondisi fundamental ekonomi Malaysia.
Suku Bunga AS Jadi Tekanan Utama
Strategis valuta asing OCBC Bank, Christopher Wong, mengatakan langkah Bank Negara Malaysia dapat membantu menenangkan pasar, tetapi belum cukup kuat untuk menopang ringgit dalam jangka panjang.
Menurutnya, ekspektasi kenaikan suku bunga AS, meningkatnya imbal hasil obligasi Amerika Serikat, serta sikap hati-hati investor masih menjadi tekanan utama terhadap mata uang Malaysia.
Selain itu, menjelang pemilihan umum tingkat negara bagian di Johor dan Negeri Sembilan, sebagian investor memilih menunda investasi sehingga turut menekan pergerakan ringgit.
Christopher memperkirakan nilai tukar ringgit akan melemah ke kisaran 3,20 per dolar Singapura pada akhir 2026.
Harga Minyak dan The Fed Pengaruhi Ringgit
Ekonom mata uang senior DBS Bank, Philip Wee, mengatakan pemerintah Malaysia tentu menginginkan ringgit yang lebih kuat sebagai cerminan ekonomi yang sehat.
Namun, ia menilai ringgit lebih rentan dibandingkan dolar Singapura apabila bank sentral Amerika Serikat (The Fed) kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan September mendatang.
Senada, Sales Trader CMC Markets, Oriano Lizza, mengatakan kenaikan suku bunga AS membuat aset-aset di Amerika menjadi lebih menarik sehingga arus modal mengalir keluar dari negara berkembang, termasuk Malaysia.
Di sisi lain, turunnya harga minyak dunia turut memberi tekanan terhadap ringgit mengingat Malaysia merupakan salah satu negara pengekspor energi.
”Nilai tukar dolar Singapura terhadap ringgit naik karena dolar Singapura mengalami pelemahan yang lebih kecil dibandingkan ringgit,” jelasnya.
Ia memperkirakan ringgit akan berada di kisaran 3,20 hingga 3,25 per dolar Singapura pada akhir 2026 apabila tidak ada perubahan kebijakan yang signifikan.
Pelemahan ringgit justru membawa keuntungan bagi sebagian warga Singapura.
Pendiri usaha minuman TarikLah! by TokMat, Mohd Noor, mengatakan kurs yang lebih menguntungkan membuatnya berencana lebih sering mengunjungi Johor Bahru untuk menikmati kuliner, berbelanja, hingga membeli berbagai produk makanan khas Malaysia.
”Saya juga senang mencoba restoran keluarga dan usaha kuliner kecil. Selalu ada pengalaman baru setiap kali berkunjung,” ujarnya.
Bagi masyarakat Singapura, pelemahan ringgit berarti biaya wisata, belanja, maupun pengiriman uang ke Malaysia menjadi lebih murah. Sebaliknya, bagi Malaysia, tren ini jadi tantangan karena dapat mengurangi daya tarik aset domestik di mata investor asing jika tekanan global. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO