Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Muhaimin Iskandar menegaskan bahwa kepedulian partainya terhadap Nahdlatul Ulama (NU) tidak dapat dimaknai sebagai bentuk intervensi terhadap organisasi keagamaan tersebut. Menurutnya, perhatian PKB justru lahir dari tanggung jawab moral sebagai partai yang memiliki akar sejarah dan kedekatan erat dengan warga nahdliyin.
Muhaimin, yang akrab disapa Cak Imin, mengatakan PKB sejak awal berdiri tidak bisa dipisahkan dari sejarah lahirnya NU. Karena itu, sudah menjadi hal yang wajar apabila PKB ikut memikirkan masa depan organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.
”PKB ini selain berada di eksekutif dan legislatif, sebagai anak NU juga punya tanggung jawab memikirkan NU. Kalau tidak ikut memikirkan dimarahi, ikut memikirkan dianggap campur tangan. Kan repot kalau begitu,” ujar Muhaimin, Jumat (26/6).
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat itu menilai keberadaan NU tidak hanya penting bagi umat Islam, tetapi juga memiliki kontribusi besar terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurutnya, NU selama ini menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga persatuan, stabilitas sosial, hingga mendukung berbagai program pembangunan nasional.
Karena itu, ia berharap organisasi tersebut terus tumbuh menjadi organisasi yang sehat, mandiri, dan produktif.
”NU harus sehat. Kalau NU tidak sehat, yang rugi negara. Kalau NU tidak sehat, yang rugi pemerintah. Karena kalau NU, Muhammadiyah, dan ormas-ormas lainnya sehat, mereka bisa membantu pemerintah menyukseskan pembangunan,” katanya.
Menurut Muhaimin, pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan nasional. Peran organisasi kemasyarakatan, terutama organisasi keagamaan yang memiliki basis massa besar seperti NU dan Muhammadiyah, sangat dibutuhkan untuk memperkuat pemberdayaan masyarakat, pendidikan, pelayanan sosial, hingga penguatan nilai-nilai kebangsaan.
Ia menambahkan, apabila NU semakin kuat dan produktif, maka beban pemerintah dalam menjalankan berbagai program pembangunan akan semakin ringan.
”Kalau NU kuat, NU produktif, maka akan meringankan beban dan tanggung jawab pemerintah,” ujarnya.
Ketua Umum PKB itu juga membantah anggapan sebagian pihak yang menilai perhatian PKB terhadap dinamika internal NU sebagai bentuk campur tangan politik. Menurutnya, kepedulian tersebut semata-mata dilandasi rasa memiliki serta tanggung jawab historis dan moral terhadap organisasi yang menjadi bagian dari perjalanan lahirnya PKB.
”Saya kalau mengkritik NU suka ada yang marah, dibilang PKB ikut-ikut. Tidak, kita tidak ikut-ikut, tapi kita bertanggung jawab. Kita ikut memikirkan masa depan NU bukan hanya karena kita anaknya NU, tetapi karena bangsa ini membutuhkan NU yang semakin berperan,” tegasnya.
Ia meyakini, semakin besar kontribusi NU dalam kehidupan sosial, pendidikan, ekonomi, dan kebangsaan, semakin besar pula peluang Indonesia untuk mencapai kemajuan.
”Semakin NU berperan dengan baik, semakin besar peluang bangsa ini meraih kemajuan,” pungkas Muhaimin.
Pernyataan Muhaimin tersebut muncul di tengah menguatnya perhatian publik terhadap hubungan PKB dan NU. Kedua institusi memang memiliki hubungan historis yang sangat erat. PKB didirikan pada 1998 oleh para tokoh NU sebagai wadah politik bagi aspirasi warga nahdliyin. Meski demikian, secara kelembagaan NU menegaskan diri sebagai organisasi kemasyarakatan yang independen dan tidak berafiliasi dengan partai politik mana pun.
Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan PKB dan sebagian elite NU kerap menjadi sorotan publik menyusul perbedaan pandangan dalam sejumlah isu organisasi maupun politik. Namun, Muhaimin menegaskan bahwa hubungan historis dan kedekatan emosional antara PKB dan warga NU tetap menjadi modal penting untuk bersama-sama menjaga persatuan bangsa serta mendukung pembangunan nasional. (*)
Laporan : JP Group
Editor : MUHAMMAD NUR