Buka konten ini

Sering lupa pada lansia tidak selalu merupakan proses penuaan yang normal. Kondisi ini bisa menjadi gejala awal demensia sehingga penting dikenali sejak dini agar dapat ditangani dengan tepat.
MUDAH lupa sering dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan. Namun, kondisi tersebut tidak selalu bisa dianggap sepele. Pada beberapa kasus, mudah lupa dapat menjadi tanda awal demensia, yaitu gangguan fungsi kognitif yang berkembang secara bertahap dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Hal tersebut disampaikan oleh Dokter Spesialis Saraf Rumah Sakit Awal Bros Batam, dr. Luckyana Ayuningtias, Sp.N, dalam siaran langsung Instagram bersama Haloawalbros, Kamis (18/6).

Menurut dr. Luckyana, demensia berbeda dengan pikun biasa. Penderita demensia mengalami penurunan fungsi otak yang semakin memburuk dari waktu ke waktu.
”Demensia merupakan suatu gangguan kognitif yang terjadi secara progresif dan juga mengganggu aktivitas sehari-hari. Gangguan fungsi kognitifnya bisa berupa gangguan memori, gangguan bahasa, gangguan berpikir, sulit mengambil keputusan, hingga gangguan orientasi,” ujar dr. Luckyana.
Ia menjelaskan, seseorang yang hanya mengalami lupa biasa umumnya masih dapat mengingat kembali setelah diberikan petunjuk atau diingatkan. Sebaliknya, penderita demensia tetap kesulitan mengingat meskipun sudah diberi petunjuk.
”Pada orang yang demensia, ketika dia lupa dan diingatkan kembali, biasanya dia tidak ingat lagi. Berbeda dengan lupa biasa yang setelah diingatkan bisa kembali mengingat,” katanya.
Selain gangguan ingatan, penderita demensia juga dapat mengalami kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari. Misalnya, tidak mampu berpakaian sendiri, kesulitan memasak, tidak mampu mengambil keputusan, hingga lupa mengenali anggota keluarga atau tersesat saat berada di luar rumah.
”Yang paling sering dikeluhkan memang lupa, tetapi lupanya bisa sampai lupa nama anggota keluarga, lupa jalan pulang, atau mengulang pertanyaan yang sama berkali-kali,” jelasnya.
Tidak Semua Lupa Berarti Demensia
dr. Luckyana menegaskan bahwa keluhan mudah lupa tidak selalu berarti seseorang mengalami demensia. Kondisi tersebut juga dapat dipengaruhi oleh stres, depresi, kurang tidur, maupun faktor psikologis lainnya.
”Kalau karena stres, biasanya setelah penyebab stresnya teratasi, keluhan lupanya ikut membaik. Begitu juga pada depresi, setelah diterapi, fungsi ingatan biasanya kembali. Sedangkan demensia bersifat progresif, sehingga keluhannya akan semakin memburuk,” ujarnya.
Karena itu, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter untuk memastikan penyebab gangguan daya ingat.

Dokter Spesialis Saraf Rumah Sakit Awal Bros Batam
Foto: Humas RS Awal Bros Batam
Risiko Meningkat Seiring Bertambahnya Usia
Demensia paling sering ditemukan pada usia di atas 65 tahun. Meski demikian, kondisi ini juga dapat terjadi pada usia yang lebih muda meskipun jumlahnya relatif sedikit.
”Semakin meningkat usia, risiko demensia memang semakin tinggi. Namun, ada juga yang mengalami demensia sebelum usia 65 tahun, meskipun kasusnya lebih jarang,” kata dr. Luckyana.
Ia menambahkan, riwayat keluarga bukan berarti penyakit ini pasti diturunkan kepada anak, tetapi dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami demensia.
Kendalikan Faktor Risiko
Menurut dr. Luckyana, beberapa faktor risiko demensia masih dapat dikendalikan, seperti hipertensi, diabetes melitus, kolesterol tinggi, obesitas, kurang berolahraga, serta minimnya aktivitas sosial.
”Kita bisa menghindari faktor risikonya, seperti rutin berolahraga, mengontrol tekanan darah dan gula darah, aktif bersosialisasi, serta terus belajar hal-hal baru,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa stroke akibat hipertensi atau diabetes yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko terjadinya demensia vaskular.
Latih Otak dengan Aktivitas Positif
Selain menjaga kesehatan fisik, dr. Luckyana menyarankan masyarakat untuk terus melatih kemampuan otak melalui aktivitas yang merangsang fungsi kognitif, seperti membaca, bermain teka-teki silang, belajar keterampilan baru, atau bermain musik.
”Aktivitas seperti membaca, bermain teka-teki silang, atau belajar hal baru dapat menambah cadangan kognitif di otak sehingga membantu menurunkan risiko demensia. Namun, bukan berarti menjamin seseorang pasti tidak akan terkena demensia,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan agar penggunaan gawai dan permainan digital tetap dilakukan secara bijak.
”Kalau bermain game masih dalam porsi yang sesuai tidak masalah. Namun, kalau sudah sampai kecanduan dan mengganggu aktivitas sehari-hari, tentu tidak baik untuk fungsi kognitif,” katanya.
Segera Periksa Jika Muncul Gejala
dr. Luckyana mengimbau masyarakat agar tidak menganggap mudah lupa sebagai hal yang selalu wajar, terutama jika sudah mengganggu aktivitas sehari-hari atau disertai perubahan perilaku.
”Demensia bukan bagian dari penuaan yang normal. Jika mulai muncul tanda-tanda yang mengarah ke demensia, sebaiknya segera memeriksakan diri agar dapat dilakukan skrining dan penanganan sejak dini,” tutupnya.
Konsultasi terkait demensia, bisa dengan dr Luckyana yang berpraktik dari hari Senin sampai hari Jumat pukul 12.00 WIB sampai 16.00 WIB di RS Awal Bros Batam. (***)
Reporter : ANDRIANI SUSILAWATI
Editor : TUNGGUL MANURUNG