Buka konten ini
NONGSA (BP) – Curah hujan di Kota Batam meningkat selama pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang berlangsung sejak pertengahan Mei 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas I Hang Nadim Batam menyebut metode penyemaian garam ke awan mampu meningkatkan curah hujan hingga 30–40 persen sekaligus membantu mengisi waduk air baku.
Kepala BMKG Kelas I Hang Nadim Batam, Ramlan Jambak, mengatakan program TMC telah dijalankan sejak 15 Mei 2026 sebagai upaya mendukung ketersediaan air baku di Batam. Selama pelaksanaannya, hampir 20 ton garam telah disebarkan ke awan-awan potensial di wilayah Kepulauan Riau.
“Untuk per hari itu sekitar 1 ton garam disemai,” ujarnya saat melakukan penerbangan
penyemaian awan, Rabu (3/6). Ia menjelaskan, bahan yang digunakan dalam proses tersebut adalah Natrium Klorida (NaCl) atau garam yang berfungsi sebagai inti kondensasi, yakni pemicu terbentuknya butiran air di dalam awan hingga akhirnya turun menjadi hujan.
“Garam itu sifatnya dapat menarik uap air sehingga menjadi inti kondensasi untuk pembentukan hujan,” katanya.
Menurut Ramlan, penyemaian dilakukan terhadap awan-awan tebal yang memiliki potensi hujan tinggi. Dalam satu kali penerbangan, pesawat membawa sekitar satu ton garam untuk disebarkan ke target awan.
“Kalau potensinya bagus dan masih ada awan yang bisa disemai, rata-rata bisa dua kali penerbangan dalam sehari,” ujarnya.
Ia menyebutkan, berdasarkan pengalaman di berbagai daerah di Indonesia, TMC umumnya mampu meningkatkan curah hujan sekitar 30 hingga 40 persen. Namun, efektivitas di wilayah Kepulauan Riau memiliki karakteristik berbeda.
“Di Kepri kadang-kadang hujannya jatuh di laut sehingga tidak kembali ke waduk. Jadi efektivitasnya sedikit berbeda dibanding daerah lain,” jelasnya.
Ramlan menambahkan, hujan hasil penyemaian tidak selalu turun segera setelah proses dilakukan. Waktu turunnya hujan bergantung pada perkembangan awan yang disemai.
“Ada yang beberapa jam setelah disemai langsung hujan, ada juga yang malam atau besoknya baru turun hujan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, garam yang disebar akan mempercepat penggabungan butir air di dalam awan hingga mencapai kejenuhan, kemudian membesar dan jatuh sebagai hujan.
“Kalau ada awan yang potensinya besar tetapi tidak ada pemicu, biasanya hanya menggumpal saja. Dengan penyemaian itu kita bantu memancing supaya menjadi hujan,” katanya.
Program TMC di Batam sendiri diperkirakan segera berakhir. Selain kontrak penggunaan pesawat yang telah selesai, potensi pembentukan awan hujan pada Juni juga mulai menurun.
“Ini kemungkinan hari terakhir karena kontrak pesawatnya sudah selesai dan potensi awan di bulan Juni mulai berkurang,” ungkapnya.
Selama program berlangsung, penyemaian dilakukan menggunakan pesawat Cessna 208 Caravan yang dilengkapi alat khusus penebar garam. Sebelum penerbangan, tim BMKG terlebih dahulu menganalisis arah angin, ketebalan, dan jenis awan yang layak disemai.
“Tidak semua jenis awan bisa disemai, jadi kami analisis dulu sebelum pesawat diterbangkan,” tutupnya.
Dengan meningkatnya curah hujan selama pelaksanaan TMC, BMKG berharap ketersediaan air baku di waduk Batam dapat terjaga, terutama menjelang kemarau. (*)
Reporter : YASHINTA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO