Buka konten ini

TEHERAN (BP) – Iran menetapkan tenggat waktu satu bulan kepada Amerika Serikat (AS) untuk mencapai kesepakatan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz. Kesepakatan itu juga diharapkan mengakhiri blokade maritim serta menghentikan konflik di Iran dan Lebanon.
Dilansir dari Antara, Minggu (3/5), Iran telah menyampaikan proposal revisi berisi 14 poin kepada AS pada Kamis (30/4).
Dua sumber yang mengetahui dokumen tersebut menyebutkan, proposal itu memuat lini masa ketat selama sebulan untuk mencapai kesepakatan.
Kesepakatan yang ditawarkan mencakup akses maritim, pengakhiran blokade laut, serta gencatan senjata berkelanjutan.
“Jika mereka berperilaku buruk, jika mereka melakukan hal jahat, tapi sekarang kita lihat saja. Itu bisa saja terjadi,” kata Presiden AS, Donald Trump, Sabtu (2/5), saat menjawab kemungkinan serangan baru terhadap Iran.
Proposal tersebut juga mengatur bahwa tahap pembicaraan lanjutan hanya akan dilakukan jika kesepakatan awal tercapai. Fokus berikutnya adalah negosiasi program nuklir selama satu bulan tambahan.
Meski sebelumnya mengaku belum puas dengan proposal Iran, Trump menyatakan akan mengkaji dokumen tersebut lebih lanjut.
“Mereka telah menyampaikan konsep kesepakatannya kepada saya. Pernyataan lengkapnya akan segera disampaikan,” ujarnya.
Namun, Trump juga sempat melontarkan kritik keras melalui media sosial Truth Social. Ia menilai Iran belum membayar harga yang cukup besar atas tindakannya selama puluhan tahun terakhir.
Dalam pernyataan lain, Trump menyebut blokade terhadap pelabuhan Iran sebagai langkah “sangat bersahabat” dan tidak bertentangan dengan klaimnya bahwa permusuhan telah berakhir.
Tanker Iran Berlayar ke Perairan Indonesia
Sementara itu, sebuah kapal tanker raksasa milik Iran dilaporkan berhasil lolos dari blokade laut AS dan kini menuju perairan Indonesia.
Kapal tersebut membawa lebih dari 1,9 juta barel minyak mentah dengan nilai hampir 220 juta dolar AS atau sekitar Rp3,81 triliun.
“Sebuah supertanker milik Perusahaan Tanker Iran Nasional (NITC) berhasil menghindari Angkatan Laut AS dan mencapai kawasan Timur Jauh,” demikian keterangan TankerTrackers, lembaga pemantau kapal tanker, dikutip dari Antara.
Kapal yang teridentifikasi dengan nama “HUGE” (9357183) itu terakhir terpantau di pesisir Sri Lanka lebih dari sepekan lalu. Saat ini, kapal tersebut bergerak melalui Selat Lombok menuju wilayah Kepulauan Riau.
Menariknya, kapal tersebut tidak memancarkan sinyal Sistem Identifikasi Otomatis (AIS) sejak 20 Maret, saat berlayar dari Selat Malaka menuju Iran.
AS–Israel Bahas Opsi Serangan Baru ke Iran
Di sisi lain, Israel dan AS dilaporkan tengah membahas kemungkinan aksi militer lanjutan terhadap Iran.
Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, Eyal Zamir, disebut intens berkomunikasi dengan Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Brad Cooper, terkait skenario tersebut.
Dilaporkan Channel 12, penilaian militer menunjukkan bahwa infrastruktur penting Iran, seperti jaringan energi dan jalan raya, berpotensi menjadi target serangan jika eskalasi terjadi.
Militer Israel juga meningkatkan kesiapan pertahanan dan siaga tinggi untuk menghadapi kemungkinan konflik lanjutan.
Sementara itu, AS dikabarkan mempertimbangkan opsi serangan terbatas guna mendorong kesepakatan terkait program nuklir Iran, meski belum ada keputusan final.
Koordinasi kedua negara mencakup pemantauan terhadap upaya Iran memulihkan fasilitas strategisnya. Target potensial meliputi instalasi energi, pabrik baja, serta cadangan minyak dan gas.
Diketahui, AS dan Israel sebelumnya melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan itu memicu balasan dari Iran terhadap sekutu AS di kawasan Teluk serta penutupan Selat Hormuz.
Kedua pihak sempat menyepakati gencatan senjata selama dua pekan pada 8 April melalui mediasi Pakistan, yang dilanjutkan dengan perundingan di Islamabad pada 11–12 April. Namun, pembicaraan tersebut belum menghasilkan kesepakatan.
Presiden AS Donald Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata secara sepihak tanpa batas waktu baru, sesuai permintaan Pakistan. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK