Buka konten ini

JAKARTA (BP) – PT Timah (Persero) Tbk (TINS) membukukan laba bersih sebesar Rp1,5 triliun pada kuartal I 2026. Capaian ini setara 595 persen dari target perseroan yang sebesar Rp252 miliar.
Kinerja tersebut ditopang peningkatan produksi, optimalisasi operasional, serta perbaikan tata kelola perusahaan secara berkelanjutan.
Direktur Utama TINS, Restu Widiyantoro, mengatakan perseroan berhasil mencatatkan kinerja keuangan yang solid pada awal tahun ini.
“Pada kuartal I 2026, perseroan membukukan kinerja keuangan yang solid, didukung pencapaian operasional yang signifikan serta konsistensi strategi optimalisasi di seluruh lini bisnis, sehingga mampu melampaui target laba yang ditetapkan,” ujarnya, Sabtu (2/5).
Dari sisi pendapatan, TINS mencatat pertumbuhan signifikan sebesar 160,5 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp5,47 triliun, dibandingkan Rp2,10 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
“Kenaikan ini sejalan dengan meningkatnya volume penjualan dan harga jual rata-rata logam timah,” tambah Restu.
Selain itu, laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) mencapai Rp2,1 triliun atau tumbuh 450 persen (yoy) dibandingkan Rp348 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Dari sisi rasio keuangan, perseroan juga mencatatkan kinerja yang positif. Quick ratio tercatat 105,1 persen, current ratio 276,1 persen, debt to asset ratio 6,9 persen, serta debt to equity ratio 10,6 persen.
Pada sisi operasional, produksi bijih timah meningkat 96 persen (yoy) menjadi 6.312 ton Sn pada kuartal I 2026, dibandingkan 3.225 ton Sn pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan produksi didorong bertambahnya unit operasi, baik Kapal Isap Produksi (KIP), Ponton Isap Produksi (PIP), maupun tambang darat kemitraan. Selain itu, beroperasinya Kapal Keruk Singkep 1 serta penguatan pengawasan di wilayah izin usaha pertambangan (WIUP) turut mendukung kinerja produksi.
Perseroan juga terus meningkatkan kinerja melalui penambahan unit operasi tambang darat dan penguatan kegiatan eksplorasi, termasuk pelaksanaan bor pandu untuk memastikan arah penggalian lebih presisi.
Di sektor tambang laut, perseroan mengoperasikan satu unit kapal keruk serta mengoptimalkan kinerja KIP dan PIP.
Produksi logam timah tercatat meningkat 82 persen (yoy) menjadi 5.630 metrik ton Sn, dibandingkan 3.095 metrik ton Sn pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sejalan dengan itu, penjualan logam timah tumbuh 113 persen (yoy) menjadi 6.009 metrik ton, dibandingkan 2.824 metrik ton pada periode yang sama tahun lalu.
Adapun harga jual rata-rata logam timah mencapai USD49.221 per metrik ton, meningkat 51 persen (yoy) dibandingkan USD32.495 per metrik ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari total penjualan tersebut, pasar ekspor mendominasi sebesar 97 persen, sementara pasar domestik sebesar 3 persen. Adapun enam negara tujuan ekspor utama adalah China (48 persen), India (11 persen), Korea Selatan (10 persen), Italia (6 persen), Singapura (5 persen), dan Belanda (4 persen).
Dari sisi neraca, total aset perseroan meningkat 11,62 persen menjadi Rp15,23 triliun dibandingkan Rp13,64 triliun pada akhir 2025.
Liabilitas tercatat sebesar Rp5,27 triliun atau naik 1 persen dibandingkan Rp5,23 triliun pada akhir 2025. Sementara itu, ekuitas meningkat 18,4 persen menjadi Rp9,96 triliun. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI