Buka konten ini

TINGGINYA angka pengangguran di Kepulauan Riau masih menjadi pekerjaan rumah serius. Hingga kini, tercatat sekitar 75 ribu orang belum memiliki pekerjaan, dengan mayoritas terkonsentrasi di Batam sebagai kota industri.
Kondisi ini mendorong Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Batam mengubah strategi. Tak lagi menunggu laporan kebutuhan tenaga kerja dari perusahaan, Disnaker kini aktif “jemput bola” langsung ke kawasan industri.
Kepala Disnaker Batam, Yudi Suprapto, mengatakan pendekatan tersebut dilakukan untuk mempercepat penyerapan tenaga kerja sekaligus menjawab ketimpangan antara kebutuhan industri dan kesiapan pencari kerja.
“Selama ini kita cenderung menunggu. Sekarang tidak lagi. Kami turun langsung ke perusahaan untuk memetakan kebutuhan mereka,” ujar Yudi.
Melalui kunjungan langsung, Disnaker dapat membaca proyeksi kebutuhan tenaga kerja dalam enam bulan hingga satu tahun ke depan. Data ini kemudian menjadi dasar dalam menyiapkan kandidat yang sesuai.

Langkah ini dinilai krusial, mengingat Batam masih didominasi sektor manufaktur yang menjadi penyerap tenaga kerja terbesar, namun membutuhkan keterampilan spesifik.
Untuk itu, Disnaker juga mulai membangun basis data pencari kerja berbasis kompetensi.
Pendataan tidak hanya mencakup identitas, tetapi juga keterampilan, pengalaman, hingga minat kerja.
“Kalau datanya berbasis keahlian, seperti administrasi, akuntansi, teknisi, dan lainnya, proses pencocokan bisa jauh lebih cepat dan tepat,” jelasnya.
Tak hanya itu, Disnaker juga membuka jalur komunikasi langsung dengan perusahaan melalui grup khusus HRD.
Tujuannya, mempercepat distribusi informasi lowongan kerja kepada kandidat yang relevan.
Di sisi lain, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi fokus lain. Disnaker menggandeng lembaga pelatihan kerja (LPK) untuk meningkatkan kompetensi calon tenaga kerja, termasuk penguatan bahasa asing bagi pelajar SMA dan SMK.
“Industri kita berkembang cepat. Tenaga kerja lokal harus siap bersaing,” tambah Yudi.
Berdasarkan data Disnaker Batam, hingga akhir Maret 2026 terdapat 8.637 pencari kerja.
Sementara, sejak 1 April hingga saat ini, tercatat 1.183 pencari kerja baru. Dari jumlah itu, tersedia 570 lowongan kerja dan 554 tenaga kerja telah berhasil ditempatkan.
Yudi optimistis pendekatan aktif dan kolaboratif ini dapat menekan angka pengangguran secara bertahap.
Seperti diberitakan sebelumnya, Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kepri mencatat tingkat pengangguran mencapai 6,4 persen atau sekitar 75 ribu orang dari total angkatan kerja.
Kepala Disnaker Kepulauan Riau, Dicky Wijaya, mengungkapkan tingkat pengangguran di Kepri saat ini berada di angka 6,4 persen atau sekitar 75 ribu orang.
“Dari jumlah itu, sekitar 75 persennya berada di Batam. Kita masih peringkat tiga pengangguran secara nasional,” ujarnya.
Meski turun dari sebelumnya 6,8 persen, angka tersebut dinilai masih tinggi. Mayoritas pengangguran berasal dari usia produktif 16 hingga 25 tahun, dengan latar belakang pendidikan didominasi lulusan SMA dan SMK.
Menurut Dicky, persoalan utama bukan minimnya lapangan kerja, melainkan ketidaksiapan tenaga kerja dalam memenuhi kebutuhan industri.
“Lowongan sebenarnya banyak, terutama di sektor galangan kapal dan manufaktur. Tapi industri butuh tenaga dengan skill tertentu, sementara pencari kerja belum siap,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pola pikir sebagian pencari kerja yang masih memilih pekerjaan tertentu, seperti aparatur sipil negara, sehingga peluang di sektor industri kurang diminati.
Untuk mengatasi hal tersebut, Disnaker Kepri terus mendorong pelatihan berbasis kompetensi, mulai dari barista hingga keterampilan teknis seperti welder dan fabrikasi.
Program ini didukung anggaran, termasuk dana RPTKA di Batam yang mencapai sekitar Rp20 miliar per tahun.
“Pelatihan kita arahkan agar masyarakat punya skill dan bisa langsung terserap di industri,” tegasnya. (***)
Reporter : RENGGA YULIANDRA – YASHINTA
Editor : RATNA IRTATIK